Kisah Floris Rawa Belong Menjaga Geliat Bisnis Bunga Tetap Mekar

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Peserta bersiap mengikuti parade mobil hias kembang pada Jakarta International Flower Festival (JIFF) 2026 di Kemanggisan, Jakarta, Minggu (14/6/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Deretan kembang berwarna-warni menghiasi area Jakarta International Flower Festival (JIFF) 2026 di Kampus Binus Anggrek, Jakarta Barat, Minggu (14/6).

Di antara para pelaku upaya nan memamerkan rangkaian kembang terbaiknya, terdapat sosok-sosok nan telah puluhan tahun mengabdikan hidupnya di bumi floris, khususnya di Pasar Bunga Rawa Belong Jakarta Barat.

Bagi Hikmah (50), kembang bukan sekadar komoditas nan diperjualbelikan. Dunia florist sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil.

“I was born to be a florist. Because my family are florist,” ujar Hikmah saat ditemui di letak acara.

Hikmah (50), penjual kembang saat ditemui di Kampus Binus Anggrek, Jakarta Barat, Minggu (14/6/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Perempuan nan telah sekitar 15 tahun berdagang di Pasar Bunga Rawa Belong itu mengaku berasal dari family floris. Bahkan, kakeknya dulu mempunyai kebun anggrek sendiri. Meski awalnya bercita-cita menjadi guru, jalan hidup membawanya kembali ke upaya keluarga.

“Itu bukan pilihan. Tapi lantaran pada saat itu bapak minta dibantu selesai saya kuliah. Akhirnya bantu dan keenakan,” katanya sembari tertawa.

Kini, upaya nan dia jalankan perlahan mulai diteruskan kepada anaknya. Sang anak sekarang sedang melanjutkan studi magister upaya di SBM ITB.

“Kalau untuk momen harian, anakku sudah mulai saya turunkan,” ujarnya.

Suasana Pasar Bunga Rawa Belong, Jakarta Barat, Rabu (18/3/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Di Pasar Bunga Rawa Belong, Hikmah mengelola upaya floris nan melayani beragam kebutuhan pelanggan, mulai dari hand bouquet, kembang meja, standing flower, kembang papan hingga hiasan aktivitas dan rumah duka. Meski mempunyai toko bentuk di lantai dua pasar, sebagian besar pelanggannya sekarang datang melalui platform digital.

“Aku offline dan online, tapi kebanyakan customer online. Karena kita ada TikTok, Instagram, dan WhatsApp,” katanya.

Perubahan pola shopping masyarakat menjadi salah satu tantangan nan kudu dihadapi para floris saat ini. Jika dulu pengguna lebih konsentrasi memilih jenis bunga, sekarang banyak nan lebih dulu menanyakan harga.

Menurut Hikmah, kondisi ekonomi membikin sebagian pengguna tetap membeli bunga, tetapi dengan anggaran nan lebih rendah.

“Mereka tetap beli bunga, tapi menurunkan budget. Dulu enggak pernah nawar, sekarang tanya, ‘Kak, ada enggak nan budget Rp 500 ribu?’” tuturnya.

Pembeli memilih kembang saat berjamu ke Pasar Bunga Rawa Belong, Palmerah, Jakarta Barat, Sabtu (14/2/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Situasi tersebut memaksanya beradaptasi. Salah satu caranya adalah menghadirkan produk nan belum banyak dijual kompetitor, seperti kembang papan kekinian.

“Semenjak pandemi saya bikin kembang papan itu. Itulah nan membikin kami memperkuat sampai sekarang,” katanya.

Meski persaingan semakin ketat dan biaya operasional terus berubah mengikuti nilai bahan baku maupun ongkos distribusi, Hikmah memilih tidak ikut perang harga.

“Banyak floris nan banting harga, saya tidak mau. Karena kembang itu seasonal. Ada saatnya kembang susah didapat dan harganya naik,” ujarnya.

Baginya, menjaga upaya tetap sehat jauh lebih krusial daripada mengejar untung sesaat.

Merry, penjual kembang saat ditemui di Kampus Binus Anggrek, Jakarta Barat, Minggu (14/6/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Semangat serupa juga terlihat pada salah satu pelaku upaya kembang nan turut meramaikan JIFF 2026. Merry, pemilik salah satu stan bunga, telah menekuni upaya tersebut selama puluhan tahun.

“Sudah 28 tahun,” kata Merry singkat.

Jika Hikmah mengandalkan penemuan dan pemasaran digital, Merry memilih mempertahankan kualitas sebagai fondasi utama bisnisnya.

Ia mengatakan, bisnisnya mempunyai kebun sendiri di Cipanas dan Bandung nan memasok beragam jenis bunga, mulai dari mawar, krisan, gerbera, astromelia, hingga lili casablanca.

“Kita utamakan kualitas. Jadi bunganya tahan, warnanya fresh, bersih, dan cerah,” ujar Merry.

Suasana di Pasar Bunga Rawa Belong, Jakarta Barat, Kamis (19/3/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Pengetahuan tentang kembang telah dia pelajari sejak muda. Berasal dari family nan juga berkecimpung di bagian nan sama, dia memahami proses perawatan kembang dari kebun hingga sampai ke tangan pelanggan.

“Saya dari gadis sudah di bagian bunga. Jadi saya mengerti perawatannya seperti apa agar kembang lebih tahan dan lebih awet,” katanya.

Bagi Merry, menjaga kualitas berfaedah memperhatikan detail-detail mini nan sering tidak terlihat pelanggan. Mulai dari mengganti air kembang setiap hari, memotong tangkai secara rutin, hingga memastikan kebersihan tempat penyimpanan bunga.

“Kita pegang komitmen dan kejujuran dalam usaha. Kalau ada komplain, kita usahakan ada penggantian. Kita enggak mau mengecewakan customer,” ujarnya.

Adrian, penjual kembang saat ditemui di Kampus Binus Anggrek, Jakarta Barat, Minggu (14/6/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Sementara itu, Adrian nan turut mengelola upaya tersebut mengatakan bahwa optimisme menjadi kunci memperkuat selama nyaris tiga dekade.

“Roda itu enggak mungkin selalu di bawah. Jadi kita optimistis, tetap ada jalan keluar dan terus berusaha,” kata Adrian.

Bagi Hikmah maupun Merry, harapannya sederhana, agar kecintaan terhadap kembang tidak berakhir di generasi mereka, melainkan terus mekar dari generasi ke generasi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan