Review Novel No Longer Human Karya Osamu Dazai

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

No Longer Human – No Longer Human, nan juga dikenal dengan titel A Shameful Life, merupakan novel karya penulis Jepang Osamu Dazai.

Diterbitkan pertama kali pada tahun 1948, Kisah dalam kitab ini berpusat pada seorang laki-laki nan hidup dalam kegelisahan jiwa dan tidak bisa menunjukkan jati dirinya kepada orang lain. Ia memilih menyembunyikan perasaannya di kembali sikap jenaka nan kosong, hingga akhirnya terjerumus dalam alkoholisme dan penyalahgunaan obat-obatan sebelum menghilang.

Judul aslinya ???? (dibaca: Ningen Shikkaku) dapat diartikan sebagai “tidak layak menjadi manusia” alias “manusia nan gagal”. Buku ini terbit hanya sebulan setelah Dazai mengakhiri hidupnya pada usia 38 tahun.

No Longer Human dikenal sebagai salah satu karya klasik sastra Jepang pasca perang sekaligus mahakarya Dazai. Novel ini sangat digemari, terutama oleh pembaca muda, dan menempati posisi kedua sebagai novel terlaris menurut penerbit Shinch?sha, tepat di bawah Kokoro karya Soseki Natsume.

Grameds bisa menemukan jenis terjemahan Bahasa Indonesia nan diterbitkan oleh Penerbit Sigma pada 15 Maret 2026 dengan jumlah 160 halaman.

Sebelum masuk ke sinopsis dan ulasan ceritanya, ada baiknya kita mengenal lebih dekat sosok Osamu Dazai sebagai penulis di kembali kisah nan begitu kuat ini.

Profil Osamu Dazai – Penulis Novel No Longer Human

Shuji Tsushima, nan lebih dikenal dengan nama pena Osamu Dazai, merupakan seorang novelis asal Jepang.

Beberapa karyanya nan paling terkenal, seperti The Setting Sun dan No Longer Human, diakui sebagai bagian dari klasik modern sastra Jepang. Ia banyak dipengaruhi oleh penulis-penulis besar seperti Rynosuke Akutagawa, Murasaki Shikibu, dan Fyodor Dostoevsky. Karya terakhirnya, No Longer Human, menjadi salah satu nan paling dikenal di luar Jepang.

Selain itu, dia juga pernah menggunakan nama pena lain, ialah Shunpei Kuroki, dalam karya Ilusi Tebing.

Di awal perjalanan kariernya, Dazai mendapat support dari Masuji Ibuse, seorang penulis ternama nan membantu membuka jalan bagi publikasi karyanya sekaligus membangun reputasinya.

Tahun-tahun berikutnya menjadi masa nan sangat produktif baginya. Ia menulis dengan intens dan mulai menggunakan nama pena Osamu Dazai untuk pertama kalinya dalam cerita pendek berjudul Ressha yang diterbitkan pada tahun 1933.

Sinopsis Novel No Longer Human

Melalui style penulisan I-Novel atau Watakushi shosetsu, nan mengaburkan pemisah antara fiksi dan pengalaman pribadi penulis, novel ini menggali emosi malu nan mendalam, ketidakmampuan untuk mempercayai orang lain, serta kesenyapan nan menghantui.

No Longer Human tidak hanya menggambarkan keputusasaan, tetapi juga menjadi corak pengakuan nan jujur tentang rapuhnya jiwa manusia nan kerap tersembunyi di kembali topeng keceriaan.

Kelebihan dan Kekurangan Novel No Longer Human

Pros & Cons

Pros

  • Karya tulis abadi.
  • Semi autobiografi.
  • Gambaran kemanusiaan nan nyata.
  • Gambar kesedihan tanpa melodramatis.
  • Dunia Barat dengan sentuhan Jepang.

Cons

  • Narasi nan gelap.
  • Bahasan bertema misogini.


Kelebihan Novel No Longer Human

Novel No Longer Human karya Osamu Dazai menjadi karya nan menyajikan banyak kelebihan nan sukses mempertahankan kepopulerannya hingga berumur 78 tahun sejak diterbitkannya. 

  • Karya tulis abadi

No Longer Human termasuk karya nan bisa memperkuat lintas generasi. Kisah Oba Yozo sebagai sosok nan terasing dan kehilangan arah hidup terasa tetap relevan hingga kini.

Ia digambarkan sebagai pribadi nan penuh kepura-puraan dan tidak bisa menunjukkan jati dirinya, hingga akhirnya merasa tidak layak disebut sebagai manusia.

  • Semi autobiografi

Novel ini disusun dalam corak tiga memorandum, dengan bagian terakhir terbagi menjadi dua.

Dazai memasukkan banyak pengalaman pribadinya ke dalam cerita, sehingga pembaca dapat merasakan kedalaman emosi nan lebih nyata.

Unsur autobiografi ini membikin kisah Yozo terasa semakin hidup dan menyentuh.

  • Gambaran kemanusiaan nan nyata

Sebagai kisah tentang keterasingan sosial, novel ini menghadirkan gambaran manusia nan begitu apa adanya.

Dazai menyingkap sisi gelap nan sering disembunyikan, seolah membuka lapisan ilusi nan biasa digunakan manusia untuk menutupi realita pahit dalam hidup.

  • Gambar kesedihan tanpa melodramatis

Dazai sukses menggambarkan kesedihan nan mendalam tanpa terkesan berlebihan. Emosi nan disajikan terasa tulus dan dekat dengan pengalaman sehari-hari, seperti upaya seseorang untuk tetap terlihat baik-baik saja di tengah tekanan jiwa nan berat.

  • Dunia Barat dengan sentuhan Jepang

Menurut Donald Keene sebagai penerjemahnya, Dazai bisa menghadirkan suasana nan terasa dekat dengan budaya Barat, namun tetap mempertahankan kepekaan unik Jepang.

Hal ini membikin novel ini mudah dipahami oleh pembaca dunia tanpa kehilangan identitas aslinya.

Kekurangan Novel No Longer Human

Meskipun novel No Longer Human karya Osamu Dazai menawarkan banyak kelebihan, kitab ini tetap tidak luput dari kekurangan nan bisa ditingkatkan lagi.

  • Narasi nan gelap

Novel ini dipenuhi suasana gelap nan bisa terasa berat bagi sebagian pembaca. Bagi mereka nan sedang dalam kondisi emosional rentan, kisahnya berpotensi membawa emosi semakin terpuruk lantaran narasi nan terus menyoroti sisi suram kehidupan.

  • Bahasan bertema misogini

Beberapa bagian cerita mengandung perspektif pandang nan dianggap merendahkan perempuan. Hal ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan pembaca, lantaran dinilai cukup sensitif dan dapat menimbulkan ketidaknyamanan.

Kemanusiaan dan Praktiknya di Masa Ini

Istilah kemanusiaan (humanity) bisa dilihat dari dua sisi utama nan saling melengkapi:

  • Sebagai Sifat (Hakikat)

Kemanusiaan merujuk pada sifat dasar nan menjadikan seseorang sebagai manusia, seperti empati, kasih sayang, keahlian berpikir rasional, serta kesadaran moral.

Bersikap manusiawi berfaedah bisa menghargai dan memperlakukan orang lain dengan penuh martabat.

  • Sebagai Tindakan (Aksi)

Kemanusiaan juga tercermin dalam tindakan sehari-hari. Hal ini bisa berupa membantu korban bencana, memperjuangkan kewenangan asasi manusia, alias menunjukkan kebaikan sederhana kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.

Secara umum, kemanusiaan adalah kumpulan nilai nan menjunjung tinggi martabat manusia, seperti empati, kepedulian, dan keadilan tanpa memandang perbedaan latar belakang. Idealnya, nilai ini menjadi dasar untuk saling membantu dan menjaga kewenangan hidup setiap individu.

Namun, dalam praktiknya di bumi saat ini, terdapat jarak nan cukup besar antara angan dan kenyataan.

  • Krisis Kemanusiaan nan Berulang

Di tengah kemajuan teknologi, bentrok bersenjata tetap sering terjadi dan menimbulkan banyak korban sipil. Hukum internasional pun kerap terlihat kurang efektif ketika berhadapan dengan kepentingan politik negara-negara besar.

  • Selektivitas Empati

Kepedulian masyarakat dunia seringkali berkarakter selektif. Ada peristiwa tertentu nan mendapat perhatian luas, sementara tragedi lain nan lebih parah justru terabaikan lantaran perbedaan latar belakang alias lokasi.

  • Ketimpangan Ekstrem

Perkembangan di bagian ekonomi dan kesehatan tidak dirasakan secara merata. Di satu sisi terdapat kemajuan dan kemakmuran, tetapi di sisi lain tetap banyak orang nan kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar seperti air bersih, makanan, dan jasa kesehatan.

  • Sisi Terang (Solidaritas Digital)

Di kembali beragam tantangan tersebut, muncul sisi positif berupa meningkatnya kesadaran masyarakat.

Melalui internet, aktivitas kemanusiaan dapat dilakukan dengan cepat, misalnya melalui penggalangan biaya nan diinisiasi oleh perseorangan alias organisasi tanpa kudu menunggu peran pemerintah.

Pada akhirnya, nilai kemanusiaan saat ini sedang diuji. Manusia mempunyai keahlian dan sarana untuk saling membantu, namun seringkali tersendat oleh kepentingan pribadi maupun kelompok.

Penutup

Apa sebenarnya makna menjadi manusia? Di tengah masyarakat nan kerap meraih keberhasilan dengan mengorbankan orang lain, muncul pertanyaan apakah kita diam-diam membiarkan sosok bermuka dua menentukan standar kemanusiaan itu sendiri.

Apakah menjadi manusia hanya berubah menjadi rangkaian kemerosotan moral dan kepura-puraan nan dianggap wajar, sementara mereka nan mengejar status bebas memutar arah nilai sosial demi memuaskan ambisi pribadi?

Novel nan disajikan dalam corak kumpulan catatan nan diterima oleh sang narator ini menelusuri perjalanan hidup seseorang nan menganggap dirinya sebagai orang terpinggirkan. Dari masa kecilnya nan dipenuhi kepura-puraan sebagai pelawak demi menyembunyikan ketakutan dan rasa tidak layak, hingga masa dewasanya nan tenggelam dalam alkohol, kehampaan, dan keputusasaan saat hidupnya perlahan runtuh—kisah ini tidak hanya menggambarkan kejatuhan seorang individu, tetapi juga mempertanyakan kembali makna kemanusiaan di bumi nan sering kali kehilangan arah.

No Longer Human karya Osamu Dazai menjadi karya nan menggambarkan bumi sosial nyata nan rupanya tetap relevan sampai saat ini dan masa depan.

Grameds nan tertarik, kalian bisa dapatkan novel ini di Gramedia.com ya! Untuk mendukung Anda #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan info dan produk terbaik untuk kamu.

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

Kotak Pandora

Kotak Pandora

button cek gramedia com

Badai mematikan telah merusak tanah kelahiran Mina selama beberapa generasi. Kotak Pandora karya Osamu Dazai adalah novel nan mencerahkan dan sarat renungan, karya nan tepat untuk para pembaca nan mendambakan eksplorasi tajam tentang pergumulan batin, tema-tema harapan, dan kompleksitas Jepang pascaperang, dengan menghadirkan karakter-karakter nan bertungkus lumus ke dalam pengalaman manusia saat membangun ulang dan menemukan kembali makna setelah hantaman trauma.

Bambu Biru : Kumpulan Kisah Fantastik dan Romantik

Bambu Biru

Bambu Biru merupakan kumpulan cerpen karangan Osamu Dazai. Buku ini tak hanya memuat cerita-cerita khayalan romantis nan berkawan ditemui dalam khazanah prosa Jepang. Tujuh dongeng racikan Dazai dalam kitab ini merupakan bauran antara alegori fantastis, dongeng-dongeng rakyat, serta kisah romantis. Dalam kitab ini, Anda bakal mendapati seberapa besar daya imajinatif Osamu Dazai nan dikenal sebagai pengarang dekaden pada zamannya.

Funiculi Funicula (Before the Coffee Gets Cold)

Funiculi Funicula

Kafe tua nan berada di gang mini Tokyo terletak di bawah gedung lain, tidak butuh pendingin untuk mendinginkan Kafe tersebut. Tidak begitu ramai, namun terkenal lantaran bisa membawa pengunjungnya menjelajahi waktu.

Keajaiban kafe itu menarik seorang wanita nan mau memutar waktu untuk berbaikan dengan kekasihnya, seorang perawat nan mau membaca surat nan tak sempat diberikan suaminya nan sakit, seorang kakak nan mau menemui adiknya untuk terakhir kali, dan seorang ibu nan mau berjumpa dengan anak nan mungkin takkan pernah dikenalnya.

Namun, ada banyak peraturan nan kudu diingat. Satu, mereka kudu tetap duduk di bangku nan telah ditentukan. Dua, apapun nan mereka lakukan di masa nan didatangi takkan mengubah realita di masa kini. Tiga, mereka kudu menghabiskan kopi unik nan disajikan sebelum kopi itu dingin.

Rentetan peraturan lainnya tak menghentikan orang-orang itu untuk menjelajahi waktu. Akan tetapi, jika kepergian mereka tak mengubah satu perihal pun di masa kini, layakkah semua itu dijalani?

Selengkapnya
Sumber Gramedia
Gramedia