Review Buku Nasib Publik dalam Republik

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Nasib Publik dalam Republik – “Ketika Masa Lalu Masih Membayangi Republik” menjadi gambaran besar dari kitab Nasib Publik dalam Republik karya Ariel Heryanto.

Buku ini menghimpun seratus esai reflektif nan menyoroti perjalanan ruang publik dan kerakyatan di Indonesia, sekaligus menelusuri keterkaitan antara masa lalu, terutama era Orde Baru, periode Reformasi, hingga dinamika politik nan terjadi saat ini.

Nasib Publik dalam Republik adalah karya terbaru Ariel Heryanto nan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 7 Maret 2026 dengan ketebalan 598 halaman.

Sebelum masuk lebih jauh ke dalam sinopsis dan ulasannya, ada baiknya kita terlebih dulu mengenal sosok penulis nan berada di kembali kitab nan menggugah ini.

Profil Ariel Heryanto – Penulis Buku Nasib Publik dalam Republik

Ariel Heryanto lahir di Malang, Jawa Timur, pada tahun 1954 dan dikenal sebagai sosiolog asal Indonesia. Ia pernah menjadi pembimbing besar di School of Culture, History and Language di Australian National University, Australia. Sebelum itu, dia juga menjabat sebagai Ketua Southeast Asian Studies Centre di universitas nan sama.

Karier akademiknya mencakup beragam posisi penting, antara lain sebagai Dosen Senior sekaligus Ketua Program Indonesia di University of Melbourne, Dosen Senior di National University of Singapore, serta pengajar di program pascasarjana Universitas Kristen Satya Wacana.

Sejak awal 2017, Ariel Heryanto juga turut dipercaya mengemban tugas sebagai Herb Feith Profesor untuk Studi Indonesia di Monash University, Australia.

Dalam bumi kesusastraan Indonesia, Ariel juga dikenal sebagai salah satu penggagas aktivitas Sastra Kontekstual di Surakarta pada tahun 1984 berbareng Halim HD, Murtidjono, dan Arief Budiman.

Sepanjang kariernya, dia aktif melakukan beragam penelitian serta menulis sejumlah kitab penting, di antaranya Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia (2015), Perlawanan dalam Kepatuhan: Esai Esai Budaya (2000), dan Nasib Publik dalam Republik (2026).

Sinopsis Buku Nasib Publik dalam Republik

Belakangan ini muncul dugaan bahwa Indonesia sedang bergerak kembali menuju suasana era Orde Baru.

Terpilihnya Prabowo Subianto sebagai presiden, nan mempunyai kedekatan family dan ideologi dengan Soeharto, sering dianggap sebagai tanda bahwa bangsa ini mulai menjauh dari semangat Reformasi 1998.

Namun, seberapa jauh sebenarnya kemunduran itu terjadi? Apakah masa setelah Reformasi betul-betul membawa kemajuan besar? Apa saja persamaan dan perbedaan antara kondisi sekarang dengan masa lalu, serta pelajaran apa nan dapat dipetik dari keduanya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi dasar penyusunan kitab Nasib Publik dalam Republik. Melalui seratus kolom reflektif nan ditulis oleh Ariel Heryanto, seorang intelektual nan konsisten berkarya selama lebih dari empat dekade, kitab ini berupaya membantu pembaca memahami beragam peristiwa nan telah terjadi, sedang berlangsung, dan mungkin kembali terulang dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Nasib Publik dalam Republik

Pros & Cons

Pros

  • Mengangkat isu-isu kontemporer.
  • Bernuansa reflektif dan kritis.
  • Memberi perspektif tentang peran publik.

Cons

  • Pendekatan personal.
  • Kurangnya kedalaman materi.

Kelebihan Buku Nasib Publik dalam Republik

Buku Nasib Publik dalam Republik karya Ariel Heryanto menjadi karya nan membahas isu-isu krusial di negeri ini, menciptakannya sebagai kitab nan berpengaruh di masa ini.

  • Mengangkat isu-isu kontemporer

Salah satu kelebihan utama kitab ini terletak pada topik nan diangkat. Penulis membahas beragam persoalan krusial seperti kewarganegaraan, peran media sosial, terorisme, hingga kecenderungan feodalisme nan tetap terlihat dalam struktur masyarakat modern Indonesia.

Pembahasan tersebut membikin kitab ini terasa relevan lantaran berangkaian langsung dengan realitas nan dihadapi masyarakat saat ini.

  • Bernuansa reflektif dan kritis

Buku ini merupakan kumpulan refleksi dari Ariel Heryanto nan mendorong pembaca untuk memandang beragam peristiwa sosial dan politik secara lebih kritis.

Penulis menguraikan beragam kejadian dengan style bahasa nan tajam, tetapi tetap reflektif, sehingga pembaca diajak merenungkan kembali beragam dinamika nan terjadi di Indonesia.

  • Memberi perspektif tentang peran publik

Melalui esai-esainya, penulis berupaya membujuk pembaca menengok masa lampau untuk memahami kondisi masa kini.

Buku ini memberikan perspektif pandang nan menarik tentang gimana posisi masyarakat sering kali berada dalam situasi nan terhimpit dalam sistem republik nan berjalan.

Dari sini, pembaca diajak untuk lebih memahami peran, hak, dan tanggung jawabnya sebagai penduduk negara.

Kekurangan Buku Nasib Publik dalam Republik

Meskipun Buku Nasib Publik dalam Republik karya Ariel Heryanto menawarkan banyak kelebihan, kitab ini tetap tidak luput dari kekurangan nan bisa ditingkatkan lagi.

  • Pendekatan personal

Sebagian besar tulisan dalam kitab ini berkarakter reflektif dan membujuk pembaca berpikir kritis tentang masa lampau dan masa kini. Namun, bagi kalangan akademisi nan mengharapkan kajian teori sosiologi nan lebih sistematis dan teknis, style penulisan esai terkenal dalam kitab ini mungkin terasa kurang mendalam dari sisi metodologi.

  • Kurangnya kedalaman materi

Buku ini mencakup beragam topik nan sangat luas, mulai dari media sosial hingga persoalan feodalisme dalam masyarakat. Luasnya cakupan tersebut membikin beberapa rumor terasa hanya dibahas secara singkat alias sebagai pemantik diskusi.

Akibatnya, pembaca nan mencari pembahasan nan sangat perincian alias solusi praktis mungkin merasa penjelasan dalam beberapa bagian tetap terbatas.

Posisi Rakyat dan Nasib Rakyat Indonesia

Dalam konsep republik nan berasal dari istilah Latin res publica yang berfaedah urusan berbareng alias kepentingan publik, rakyat memegang kedudukan nan sangat krusial sebagai sumber utama kedaulatan negara. Berikut beberapa peran utama rakyat dalam sistem republik:

  1. Sumber Kedaulatan Negara: Rakyat merupakan pemilik kekuasaan tertinggi dalam negara. Legitimasi pemerintah berasal dari mandat masyarakat, bukan dari garis keturunan, kekuasaan turun-temurun, ataupun legitimasi religius.
  2. Subjek Hukum nan Setara: Dalam sistem republik, seluruh penduduk negara mempunyai kedudukan norma nan sama. Tidak ada perbedaan kasta antara pemimpin dan rakyat biasa. Semua pihak, termasuk pejabat negara, wajib tunduk pada norma nan berlaku.
  3. Partisipasi dalam Kehidupan Politik: Rakyat tidak hanya berkedudukan sebagai pihak nan diperintah, tetapi juga sebagai pengawas jalannya pemerintahan. Partisipasi tersebut dapat diwujudkan melalui pemilu, kebebasan menyampaikan pendapat, serta beragam corak kontrol sosial terhadap kebijakan negara.
  4. Tujuan Utama Kebijakan: Negara republik dibentuk untuk melayani kepentingan berbareng alias bonum commune. Oleh lantaran itu, kesejahteraan rakyat menjadi tolok ukur utama keberhasilan pemerintahan.

Secara sederhana, dalam sistem republik rakyat adalah pemilik kekuasaan, sedangkan pemerintah berfaedah sebagai pelaksana mandat publik.

  1. Situasi Ekonomi: Pemulihan “Bentuk K” 

Kondisi masyarakat Indonesia pada Maret 2026 dapat dilihat dari beberapa aspek penting, mulai dari ekonomi hingga kehidupan sosial sehari-hari.

  • Ketimpangan: Pemulihan ekonomi menunjukkan pola nan sering disebut sebagai K-shaped recovery. Sebagian golongan masyarakat dan sektor industri mengalami peningkatan pendapatan nan signifikan, sementara sebagian besar masyarakat, terutama kelas menengah, tetap menghadapi tekanan ekonomi akibat berkurangnya tabungan dan meningkatnya utang konsumtif sejak 2025.
  • Tekanan Global: Ketidakpastian geopolitik internasional, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, berpotensi mempengaruhi stabilitas ekonomi domestik. Salah satu akibat nan dikhawatirkan adalah kenaikan nilai bahan bakar. Sebagai langkah efisiensi energi, pemerintah apalagi mulai mempertimbangkan kebijakan kerja dari rumah alias Work From Home bagi sebagian masyarakat.
  • Proyeksi Pertumbuhan: Secara makro, perekonomian Indonesia tetap dinilai stabil dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 4,9 persen hingga 5,7 persen. Meski demikian, akibat pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya dirasakan secara merata oleh masyarakat di tingkat bawah.
  1. Dinamika Politik dan Kepercayaan Publik
  • Kepuasan terhadap Pemerintah: Survei nan dilakukan oleh Indikator Politik Indonesia pada awal 2026 menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap keahlian Prabowo Subianto mencapai sekitar 79,9 persen.
  • Stabilitas Nasional: Pemerintah menilai kondisi nasional tetap relatif stabil meskipun terdapat tekanan dari situasi global. Namun, sejumlah pengamat dari Centre for Strategic and International Studies mengingatkan bahwa potensi ketegangan sosial dapat muncul andaikan persoalan kesejahteraan masyarakat tidak segera ditangani secara serius.
  1. Kehidupan Sosial dan Keseharian
  • Mobilitas Rakyat: Pada pertengahan Maret 2026, perhatian jutaan masyarakat Indonesia tertuju pada persiapan mudik Lebaran. Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 18 Maret 2026 dengan perkiraan seremoni Idul Fitri jatuh pada 21 Maret 2026.
  • Tantangan Lingkungan: Masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan hujan lebat dan angin kencang selama perjalanan mudik berasas peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.
  • Isu Keamanan Digital: Di tengah meningkatnya aktivitas digital, masyarakat tetap menghadapi beragam persoalan mengenai keamanan siber serta ketimpangan prasarana teknologi info di beragam daerah.

Jika dikaitkan dengan pendapat Ariel Heryanto dalam kitab Nasib Publik dalam Republik, masyarakat Indonesia saat ini berada pada titik persimpangan.

Di satu sisi terdapat optimisme terhadap kepemimpinan baru dan stabilitas nasional, tetapi di sisi lain tetap terdapat tekanan struktural berupa ketimpangan ekonomi dan kerentanan terhadap krisis global.

Dengan demikian, masa depan “nasib publik” sangat berjuntai pada keahlian pemerintah dalam menerjemahkan stabilitas ekonomi makro menjadi kesejahteraan nan betul-betul dirasakan oleh masyarakat luas, terutama golongan ekonomi menengah dan bawah.

Penutup

Nasib Publik dalam Republik layak dibaca oleh siapa saja nan mempunyai minat pada kajian sosiologi, politik, maupun humaniora. Melalui tulisan-tulisannya, Ariel Heryanto menghadirkan perspektif pandang nan lebih kritis dan reflektif, sehingga pembaca dapat memandang beragam dinamika sosial dan politik di Indonesia melampaui narasi sejarah nan sering kali berkarakter sepihak.

Tunggu apa lagi, Grameds? Sebagai publik di negara ini, kitab Nasib Publik dalam Republik karya Ariel Heryanto menjadi salah satu kitab nan disarankan untuk dibaca. Kamu bisa dapatkan kitab ini di Gramedia.com, ya! Untuk mendukung Anda #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan info dan produk terbaik untuk kamu.

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

Mendayung Demokrasi di Era Vuca

Mendayung Demokrasi di Era Vuca

Di tengah bumi nan penuh ketidakstabilan, ketidakpastian, kompleksitas, dan ketidakjelasan—kondisi nan dikenal dengan era VUCA—demokrasi dihadapkan pada sejumlah tantangan besar. Institusi-institusi nan menjadi pilar penopang demokrasi, terutama ruang publik, pemilu, partai politik, dan sistem hukum, mengalami halangan untuk berfaedah secara optimal sehingga diperlukan penguatan terhadap institusi-institusi tersebut.

Buku ini datang sebagai refleksi mendalam tentang gimana kerakyatan dapat bertahan, apalagi berkembang, di tengah realitas nan tidak menentu. Diawali dengan pemetaan karakter VUCA, kitab ini selanjutnya meninjau gimana tantangan nan muncul dari konsep tersebut berakibat kepada ruang publik, pemilu, partai politik, dan sistem hukum. Uraian tersebut secara keseluruhan bermaksud untuk menunjukkan sungguh krusialnya mengupayakan pembangunan institusi-institusi kerakyatan tersebut agar tetap menjadi sistem nan inklusif dan responsif di era VUCA.

Politik Identitas dan Politik “Isi Tas”?

Politik Identitas dan Politik

button cek gramedia com

Buku ini membahas dinamika politik identitas dan kejadian politik “isi tas” (yang sering dikaitkan dengan politik duit alias money politics), serta gimana faktor-faktor ini memengaruhi keputusan pemilih di Indonesia.

Buku ini berfokus pada kajian mendalam mengenai perilaku pemilih di Indonesia.

Secara keseluruhan, kitab ini bermaksud untuk memberikan wawasan segar dan mendalam tentang realitas politik di Indonesia.

Public Policy: Sebuah Pengantar untuk Pembelajaran

 Sebuah Pengantar untuk Pembelajaran

button cek gramedia com

Kebijakan publik adalah napas suatu bangsa. Pemerintah nan baik, berkualitas, dan bertanggung jawab tahu perihal itu. Kebijakan nan buruk, jelek, korup, apalagi jahat membikin napas bangsa tersumbat, tersengal-sengal, berhenti, apalagi bisa kandas napas. Bangsa itu menjadi bangsa “mati”.

Pada ulang tahun ke-80, pemerintah Indonesia sudah sepantasnya menjadi pemerintah nan berbobot dan bertanggung jawab, nan tidak membikin rakyatnya tersengal-sengal, apalagi kandas napas.

Selengkapnya
Sumber Gramedia
Gramedia