Review Buku Ketika Quran Jatuh di Hati Hamba yang Merasa Biasa

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Ketika Quran Jatuh di Hati Hamba nan Merasa Biasa –  Al-Qur’an datang sebagai petunjuk nan ditujukan bagi seluruh umat manusia, tanpa batas latar belakang maupun keilmuan.

Cahayanya tidak eksklusif bagi para mahir tafsir semata, melainkan dapat menyentuh hati siapa pun nan dikehendaki oleh-Nya.

Kalam Allah mempunyai jalan tersendiri untuk berdomisili dalam jiwa, menembus sekat-sekat nan sering kali kita ciptakan. Sebab, pada hakikatnya, Allah tidak menilai siapa kita alias dari golongan mana kita berasal; melainkan memandang kesungguhan niat dan upaya tulus dalam membuka diri terhadap sinar Al-Qur’an.

Buku Ketika Quran Jatuh di Hati Hamba nan Merasa Biasa diterbitkan oleh Penerbit Bentang Pustaka pada 28 Oktober 2025 dengan jumlah 230 halaman.

Bagi Grameds nan mau memahami bagian akhir Al-Qur’an dengan lebih mendalam, kitab ini direkomendasikan untukmu. Selamat membaca!

Profil Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A. (Hons), Ph.D. – Penulis Buku Ketika Quran Jatuh di Hati Hamba nan Merasa Biasa

Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A. (Hons), Ph.D. (lahir 8 Desember 1973) merupakan akademisi asal Indonesia nan saat ini mengajar di Fakultas Hukum Universitas Melbourne sejak 1 Juli 2024. Sebelumnya, laki-laki nan berkawan disapa Gus Nadir ini berkecimpung di Fakultas Hukum Universitas Monash pada periode 2015 hingga 2024 sebagai Associate Professor sekaligus Deputy Associate Dean bagian International. Selain itu, dia juga dipercaya sebagai Adjunct Professor di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.

Sebelum berasosiasi dengan Universitas Monash pada 2015, Nadirsyah Hosen telah lebih dulu mengajar selama delapan tahun di Fakultas Hukum Universitas Wollongong sejak 2007 hingga mencapai posisi Associate Professor.

Karier akademiknya juga mencakup pengalaman sebagai post-doctoral research fellow di TC. Beirne School of Law, Universitas Queensland pada tahun 2005.

Kini, dia menjabat sebagai Deputy Director di The Centre for Indonesian Law, Islam and Society nan berada di Melbourne Law School. Di luar bumi akademik, dia juga dikenal sebagai seorang ustad nan berasal dari organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama.

Dalam bagian publikasi ilmiah, dia telah menghasilkan lebih dari 50 tulisan nan dimuat dalam beragam jurnal internasional bereputasi, seperti Nordic Journal of International Law dari Lund University, Asia Pacific Law Review dari City University of Hong Kong, Australian Journal of Asian Law dari University of Melbourne, European Journal of Law Reform dari Indiana University, Asia Pacific Journal on Human Rights and the Law dari Murdoch University, Journal of Islamic Studies dari University of Oxford, serta Journal of Southeast Asian Studies dari University of Cambridge.

Sinopsis Buku Ketika Quran Jatuh di Hati Hamba nan Merasa Biasa

Apakah seseorang nan merasa hidupnya sederhana dan biasa saja dapat merasakan kedekatan dengan makna Al-Qur’an?

Jawabannya adalah bisa. Al-Qur’an tidak membeda-bedakan siapa nan berkuasa merasakannya. Ia tidak hanya datang untuk mereka nan terbiasa bangun di sepertiga malam alias nan mendalami kitab-kitab klasik, tetapi juga menyapa siapa saja, mulai dari tukang ojek, pedagang, ibu rumah tangga, hingga kalangan profesional.

Bahkan, mereka nan merasa dirinya biasa pun mempunyai kesempatan nan sama, selama mempunyai hati nan terbuka.

Melalui kitab Ketika Quran Jatuh di Hati Hamba nan Merasa Biasa, Gus Nadir menghadirkan tafsir Juz Amma dengan pendekatan nan lebih dekat dengan kehidupan masa kini. Ia menggunakan kisah-kisah naratif nan menghubungkan pesan ayat dengan dinamika kehidupan sehari-hari, sehingga terasa relevan, menyentuh, dan sarat makna.

Setiap bagian ditutup dengan angan singkat nan bisa menggugah perasaan, menjadikan kitab ini bukan hanya sebagai karya tafsir, tetapi juga sebagai perjalanan spiritual nan menghidupkan. Buku ini menjadi jembatan nan bagus antara wahyu dan realitas, antara nilai-nilai langit dan pengalaman manusia di bumi.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Ketika Quran Jatuh di Hati Hamba nan Merasa Biasa

Pros & Cons

Pros

  • Penyajian Tafsir dalam corak cerita.
  • Analogi cerita sehari-hari.
  • Pengalaman membaca nan menyenangkan dan mengalir.
  • Sederhana dan menyentuh hati.

Cons

  • Pendalaman nan terasa kurang maksimal.
  • Pola cerita nan terasa repetitif.

Kelebihan Buku Ketika Quran Jatuh di Hati Hamba nan Merasa Biasa

Buku Ketika Quran Jatuh di Hati Hamba nan Merasa Biasa karya Nadirsyah Hosen menjadi kitab pedoman nan membikin mimpi Anda menjadi lebih dekat.

Berikut beberapa kelebihan nan ditawarkan bukunya:

  • Penyajian Tafsir dalam corak cerita

Buku ini mengangkat tafsir Juz 30 dengan pendekatan naratif, di mana setiap ayat dikaitkan dengan kisah-kisah singkat nan relevan.

Tafsir nan disampaikan juga merujuk pada penafsiran nan telah ada, lampau ditutup dengan rangkuman hikmah serta doa, sehingga memberikan pengalaman membaca nan utuh dan reflektif.

  • Analogi cerita sehari-hari

Keindahan kitab ini terletak pada kemampuannya menghadirkan afinitas dari kehidupan sehari-hari.

Gaya penyampaian nan sederhana membikin pesan Al-Qur’an terasa lebih dekat dan mudah dipahami oleh beragam kalangan pembaca.

  • Pengalaman membaca nan menyenangkan dan mengalir

Membaca kitab ini memberikan sensasi seperti mempelajari kembali Islam dari awal, layaknya seorang anak mini alias mualaf.

Penulis apalagi menganjurkan untuk membaca ayat secara perlahan per kata agar maknanya lebih terasa.

Dari sini, pembaca dapat semakin meyakini bahwa Al-Qur’an betul-betul diturunkan sebagai rahmat sekaligus petunjuk hidup nan membimbing manusia menuju jalan nan diridhai Allah, sekaligus menjadi bekal menuju akhirat.

  • Sederhana dan menyentuh hati

Bahasa nan digunakan terasa ringan, tapi tetap mengena.

Di kembali kesederhanaannya; terdapat banyak pengingat nan relevan dengan kehidupan modern nan sering kali penuh kesibukan dan kegaduhan, sehingga bisa menyentuh hati pembaca secara personal.

Kekurangan Buku Ketika Quran Jatuh di Hati Hamba nan Merasa Biasa

Meskipun Ketika Quran Jatuh di Hati Hamba nan Merasa Biasa menawarkan banyak kelebihan, kitab ini tidak luput dari kekurangan nan sebenarnya tetap bisa ditingkatkan lagi.

  • Pendalaman nan terasa kurang maksimal

Beberapa bagian terasa belum digali secara mendalam, baik dari sisi tafsir maupun pengembangan cerita.

Hal ini mungkin dipengaruhi oleh tantangan dalam menyajikan tafsir Al-Qur’an dalam corak naratif nan tetap ringkas dan mudah dipahami.

  • Pola cerita nan terasa repetitif

Alur cerita dalam setiap bagian terkadang terasa mempunyai pola nan serupa, terutama pada akhir kisah nan condong mengarah pada penyelesaian nan baik.

Pengulangan pola ini membikin sebagian pembaca merasa jenuh lantaran format penceritaannya terasa kurang bervariasi.

Fakta-fakta Juz’ Amma

Juz Amma merupakan bagian ke-30 sekaligus bagian terakhir dari Al-Qur’an. Penamaan ini diambil dari kata pertama pada ayat pembuka surah An-Naba’, ialah “Amma yatasa’alun”.

Berikut beberapa perihal krusial nan perlu diketahui tentang Juz Amma:

  1. Jumlah Surah: Juz Amma terdiri dari 37 surah pendek, dimulai dari surah ke-78 ialah An-Naba’ hingga surah ke-114 ialah An-Nas.
  2. Karateristik Surah: Sebagian besar surah dalam juz ini termasuk surah Makkiyah nan diturunkan di Mekkah sebelum hijrah. Kandungannya banyak menekankan pada penguatan akidah, gambaran hari kiamat, serta kebesaran dan kekuasaan Allah.
  3. Keistimewaan: Karena ayat-ayatnya relatif pendek dan mempunyai irama nan indah, Juz Amma sering menjadi bagian pertama nan dihafalkan, baik oleh anak-anak maupun oleh mereka nan baru belajar mengenal Al-Qur’an.
  4. Penggunaan: Ayat-ayat dalam Juz Amma kerap dibaca dalam salat wajib maupun sunnah lantaran lebih mudah diingat dan dilafalkan.

Beberapa surah nan paling dikenal dari Juz Amma antara lain Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas nan sering diamalkan sebagai angan perlindungan dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup

“Jika kebiasaanmu tidak sejalan dengan impianmu, maka Anda perlu mengubah kebiasaanmu alias mengubah impianmu.”

Impian sejatinya bukan hanya tentang apa nan mau kita capai di dunia, tetapi juga tentang gimana kita mempersiapkan bekal untuk akhirat.

Kebiasaan-kebiasaan mini nan kita lakukan setiap hari menjadi gambaran dari arah hati dan niat kita di hadapan Allah.

Ketika langkah-langkah kita belum sejalan dengan nilai nan diajarkan kepada kita, di situlah kita diajak untuk berbenah, memperbaiki diri, dan meluruskan kembali tujuan hidup.

Sebab, pada akhirnya, keberkahan tidak lahir dari sekadar mimpi nan tinggi, tetapi dari kesungguhan dalam menjaga amal, sekecil apa pun itu, agar tetap berada di jalan nan benar.

Buku Ketika Quran Jatuh di Hati Hamba nan Merasa Biasa karya Nadirsyah Hosen ini menjadi sebuah kitab tafsir nan memudahkan Anda mendalami juz’ amma.

Kalau tertarik untuk mencerna isinya, kitab ini bisa Anda dapatkan di Gramedia.com ya! Untuk mendukung Anda #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan info dan produk terbaik untuk kamu.

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

Surat Cinta Gus Nadir : Ilmu, Iman, Kehidupan

Surat Cinta Gus Nadir

Di tengah riuhnya media sosial nan serba cepat, Islam sering kali dibicarakan dengan tergesa, lebih banyak diperdebatkan daripada direnungkan.

Padahal, dalam berislam, kita tidak hanya butuh ilmu, tetapi juga kelembutan—suara nan menemani tanpa menghakimi, nan menyentuh bukan sekadar viral. Lewat surat-suratnya, Gus Nadir menghadirkan bunyi semacam itu.

Surat Cinta Gus Nadir, begitulah kumpulan surat ini dinamai. Di dalamnya, cerdas pandai Muslim dari University of Melbourne sekaligus penulis kitab laku Tafsir al-Qur’an di Medsos, bercakap-cakap dengan pembacanya—bukan dari atas mimbar kepada jamaah, melainkan seperti sahabat karib alias kekasih nan penuh kasih.

Ada rayuan untuk bercermin, kisah-kisah nan membawa hikmah—dari ustadz besar hingga pekerja sederhana—dan tafsir kehidupan nan mengurai persoalan dengan kejernihan logika dan kebeningan hati.

Ngaji Fikih: Pemahaman Tekstual dengan Aplikasi nan Kontekstual

Ngaji Fikih

Jangan bayangkan bahwa kitab ini bakal mengajarkan pengetahuan fikih nan kaku dan berat.

Dalam kitab ini, Nadirsyah Hosen alias berkawan disapa Gus Nadir, menuturkan indahnya keilmuan fikih nan dipelajari langsung dari sang bapak, Prof. K.H. Ibrahim Hosen, L.M.L., Ketua Bidang Fatwa di Majelis Ulama Indonesia pada 1980-2000.

Buku ini layaknya sebuah persembahan pengetahuan dari Abah dan anak, dalam mewarnai khazanah kajian fikih di Indonesia.

Tak hanya membahas hukum-hukum kepercayaan nan sering diperdebatkan banyak pihak, kitab ini juga turut memberikan solusi atas problematika masyarakat Islam era now.

Melalui kitab-kitab fikih nan jarang diketahui publik, dia membujuk kita berkaca pada langkah Rasulullah Saw. dan para sahabat dalam menyelesaikan masalah kepercayaan saat itu, nan disesuaikan dengan konteks saat ini.

Beautiful Stories Of The Quran Jejak Indah Kisah-Kisah Al-Quran

Beautiful Stories Of The Quran Jejak Indah Kisah-Kisah Al-Quran

Satu kisah kadang cukup untuk seribu pelajaran. Bukankah sepertiga Al-Qur‘an berisi kisah? Tentu tidak semata untuk menghibur, tapi darinya pelajaran tak ternilai mengucur.

Agar kita belajar tentang dengki, Allah bercerita tentang Qabil dan Habil

Agar kita belajar tentang kegoblokan para tiran,

Allah bercerita tentang Fir’an dan Namrud

Agar kita belajar tentang keteguhan,

Allah bercerita tentang para tukang sihir Fir‘aun

Agar kita belajar gimana para pengingkar menghindar,

Dan tetap banyak lagi… Kisah terbukti lebih meresap ke dalam jiwa manusia,

ia merupakan sarana pendidikan, motivasi, dan pencerahan.

Selamat menikmati rampai kisah dalam Al-Qur’an nan dituturkan secara sastrawi dan diperkaya dengan info historis, agama, geografis, dan apalagi politis di kembali tiap peristiwa. Lincah, indah, menggugah.

Selengkapnya
Sumber Gramedia
Gramedia