Review Buku Ketika Anak-anak Pergi

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Ketika Anak-Anak Pergi – Bagaimana jika bumi anak-anak nan semestinya dipenuhi permainan dan petualangan justru membawa mereka berhadapan dengan persoalan serius seperti persidangan? Inilah salah satu daya tarik nan ditawarkan Ketika Anak-Anak Pergi karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie.

Melalui perspektif pandang anak-anak, Ziggy kembali menghadirkan kisah nan tampak sederhana, tetapi menyimpan persoalan nan jauh lebih kompleks. Kali ini, Ma, Mi, Mo, dan Petronella kudu menghadapi situasi nan membawa mereka ke bumi orang dewasa, sekaligus mempertemukan mereka dengan beragam kejutan dan tokoh baru.

Buku Ketika Anak-Anak Pergi diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 11 Maret 2026 dengan ketebalan 216 halaman.

Melanjutkan kisah dari Mari Pergi Lebih Jauh, novel ini membawa Ma, Mi, Mo, dan Petronella ke dalam perjalanan nan semakin menantang setelah mereka mengetahui nasib Fifi. Persoalan nan mereka hadapi kali ini bukan lagi sekadar petualangan anak-anak, melainkan juga berangkaian dengan persidangan dan beragam perihal nan membikin mereka kudu berhadapan dengan bumi orang dewasa.

Lantas, seperti apa perjalanan Ma, Mi, Mo, dan Petronella ketika petualangan mereka mulai bersenggolan dengan persoalan hukum? Dan gimana Ziggy menghadirkan persoalan serius tersebut melalui perspektif anak-anak? Yuk, Grameds, langsung simak ulasan Ketika Anak-Anak Pergi berikut ini!

Profil Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie – Penulis kitab Ketika Anak-anak Pergi

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie merupakan salah satu penulis wanita Indonesia nan telah menghasilkan puluhan karya sastra. Kiprahnya di bumi kepenulisan dimulai sejak 2010 melalui karya pertamanya. Seiring waktu, Ziggy terus mengeksplorasi beragam jenis cerita, mulai dari kitab anak hingga novel dengan beragam genre. Namanya semakin dikenal melalui karya-karya nan kerap menempatkan anak-anak sebagai tokoh utama, tetapi membawa persoalan nan tidak selalu ringan.

Pemilihan tokoh anak menjadi salah satu karakter unik Ziggy dalam berkarya. Ia pernah mengungkapkan bahwa anak-anak memberinya ruang ekspresi nan lebih bebas dalam membangun cerita. Meski pada awalnya mau menulis kitab untuk anak-anak, Ziggy kemudian semakin aktif menjelajahi bumi novel dengan beragam genre, seperti horor, misteri, thriller, fantasi, antologi, hingga romansa. Keberagaman tersebut menunjukkan eksplorasinya dalam menghadirkan cerita dengan karakter dan persoalan nan berbeda-beda.

Di bumi sastra Indonesia, Ziggy juga telah memperoleh sejumlah penghargaan. Ia meraih juara kedua Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 2014 melalui Di Tanah Lada, kemudian menjadi pemenang utama sayembara nan sama pada 2016 lewat Semua Ikan di Langit. Menariknya, perjalanan pendidikannya justru tidak berasal dari bagian sastra. Ziggy merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran dan menyelesaikan pendidikan sarjananya pada 2017.

Selain menulis, Ziggy juga mempunyai kesukaan pada bumi ilustrasi. Kemampuan menggambarnya apalagi turut datang dalam sejumlah karyanya, seperti Tiga dalam Kayu, Di Tanah Lada, dan Kapan Nanti. Ilustrasi tersebut menjadi bagian dari langkah Ziggy membangun bumi ceritanya sekaligus memberikan ruang bagi pembaca untuk membayangkan kisah dari perspektif pandang nan lebih luas. Perpaduan antara kepiawaian menulis dan menggambar inilah nan membikin karya Ziggy mempunyai karakter visual dan naratif nan cukup khas.

Sinopsis Buku Ketika Anak-anak Pergi

Ketika Anak-Anak Pergi melanjutkan perjalanan Ma, Mi, dan Mo berbareng Petronella setelah terungkapnya nasib Fifi dalam Mari Pergi Lebih Jauh. Kali ini, mereka kembali menghadapi persoalan nan jauh lebih serius dan tidak mudah dipahami oleh bumi anak-anak, ialah sebuah persidangan. Situasi tersebut membawa mereka memasuki pengalaman baru nan mempertemukan bumi mereka dengan beragam persoalan orang dewasa.

Dalam perjalanan tersebut, pembaca juga bakal berjumpa dengan sejumlah tokoh baru nan turut mewarnai cerita. Ada Ryan nan doyan pergi sendirian hingga Pak Arkue, pemilik toko kue nan menjadi salah satu saksi dalam persidangan Mi. Kehadiran mereka membikin perjalanan Ma, Mi, Mo, dan Petronella semakin berwarna sekaligus membuka beragam kemungkinan baru dalam cerita.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Ketika Anak-anak Pergi

Pros & Cons

Pros

  • Mengangkat persoalan kekerasan dan perlakuan terhadap anak.
  • Memiliki karakter dan penamaan tokoh nan khas.
  • Gaya bahasa Ziggy nan absurd dan menghibur.
  • Dilengkapi ilustrasi nan mendukung pengalaman membaca.
  • Alurnya lebih mudah diikuti meskipun ceritanya padat.

Cons

  • Kurang cocok dibaca secara terpisah dari seri sebelumnya.
  • Tema cerita cukup gelap dan emosional.

Kelebihan Buku Ketika Anak-anak Pergi

Buku Ketika Anak-anak Pergi karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie mempunyai beberapa kelebihan nan membuatnya menarik untuk dibaca.

1. Mengangkat persoalan kekerasan dan perlakuan terhadap anak  

Di kembali beragam petualangan dan narasi nan terkadang terasa jenaka, kitab ini membawa persoalan nan cukup berat mengenai gimana anak-anak diperlakukan oleh orang dewasa.

Ziggy memperlihatkan bahwa bumi anak tidak selalu dipenuhi rasa aman, perhatian, dan kasih sayang. Persoalan tersebut membikin cerita terasa lebih emosional lantaran pembaca diajak memandang gimana anak-anak berupaya memperkuat dan mencari jalan keluar dari keadaan nan tidak mereka pilih sendiri.

2. Memiliki karakter dan penamaan tokoh nan khas  

Salah satu karakter menarik dari karya Ziggy adalah kemampuannya menciptakan nama tokoh dan tempat nan terasa tidak biasa.

Dalam kitab ini, Grameds bakal kembali berjumpa dengan tokoh-tokoh lama sekaligus beberapa karakter baru, seperti Pak Arkue, Anna Karyam, Sukaper Gisendi Ryan, Mozilla, dan Pak Aisa Yurasam. Nama-nama nan unik tersebut tidak hanya memberikan kesan khas, tetapi juga membikin bumi cerita terasa lebih imajinatif dan mudah dikenali.

3. Gaya bahasa Ziggy nan absurd dan menghibur 

Meskipun membawa tema nan cukup gelap, Ketika Anak-Anak Pergi tetap mempunyai sisi menghibur melalui permainan kata, pengulangan kata, serta narasi-narasi absurd nan menjadi salah satu karakter unik Ziggy.

Perpaduan antara lawakdan persoalan serius membikin suasana cerita menjadi tidak monoton. Pada satu bagian Grameds mungkin dibuat tersenyum alias tertawa lantaran tingkah dan narasinya, tetapi pada bagian lain dapat kembali dibuat tegang dan emosional.

4. Dilengkapi ilustrasi nan mendukung pengalaman membaca 

Ilustrasi menjadi salah satu daya tarik tambahan dalam Ketika Anak-Anak Pergi. Gambar-gambar nan datang di dalam kitab membantu memberikan gambaran visual terhadap bumi dan tokoh-tokoh nan dibangun Ziggy.

Kehadiran ilustrasi tersebut juga membikin kitab terasa lebih dekat dengan karakter cerita nan menggunakan tokoh anak-anak, sekaligus memberikan pengalaman membaca nan lebih menyenangkan secara visual.

5. Alurnya lebih mudah diikuti meskipun ceritanya padat 

Dibandingkan dengan cerita sebelumnya, perjalanan dalam kitab ketiga ini terasa lebih terarah lantaran konsentrasi utamanya berada pada upaya para tokoh untuk membantu Mi menghadapi persoalan nan sedang dihadapinya.

Ma, Mo, Petronella, dan tokoh lainnya mempunyai tujuan nan jelas sehingga perkembangan peristiwa lebih mudah diikuti. Meski menghadirkan cukup banyak kejadian dan karakter, hubungan antara kisah perlahan dapat dipahami seiring cerita berjalan.

Kekurangan Buku Ketika Anak-anak Pergi

Meskipun Buku Ketika Anak-anak Pergi karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie menawarkan banyak kelebihan, kitab ini tetap tidak luput dari kekurangan nan bisa menjadi pertimbangan bagi pembaca.

1. Kurang cocok dibaca secara terpisah dari seri sebelumnya
Sebagai kitab ketiga, Ketika Anak-Anak Pergi mempunyai banyak keterkaitan dengan cerita sebelumnya.

Meskipun terdapat penjelasan mengenai tokoh dan peristiwa tertentu, pembaca nan langsung memulai dari kitab ini mungkin bakal memerlukan waktu untuk memahami bumi cerita, hubungan antartokoh, serta beragam peristiwa nan telah terjadi sebelumnya. Karena itu, pengalaman membaca bakal terasa lebih utuh andaikan Grameds mengikuti seri ini sejak kitab pertama.

2. Tema cerita cukup gelap dan emosional

Di kembali style penulisan nan jenaka dan ilustrasi nan menggemaskan, Ketika Anak-Anak Pergi membawa sejumlah persoalan nan cukup berat. Pembahasan mengenai perlakuan orang dewasa terhadap anak, perjuangan untuk memperkuat hidup, hingga situasi nan dialami para tokohnya dapat menimbulkan emosi tidak nyaman alias emosional bagi sebagian pembaca.

Perpaduan antara lawakdan tema nan gelap juga membikin suasana cerita dapat berubah cukup drastis sehingga pembaca perlu mempersiapkan diri dengan nuansa cerita nan tidak selalu ringan.

Apa Itu Trauma Masa Kanak-Kanak? 

Pernahkah Grameds membayangkan gimana pengalaman jelek nan terjadi saat tetap mini dapat memengaruhi seseorang ketika tumbuh dewasa? Masa kanak-kanak merupakan periode krusial dalam perkembangan seseorang lantaran pada tahap ini anak mulai membangun rasa aman, kepercayaan, serta langkah memahami dirinya dan lingkungan di sekitarnya.

Ketika seorang anak mengalami peristiwa nan sangat menakutkan, menyakitkan, alias membuatnya merasa tidak aman, pengalaman tersebut dapat meninggalkan luka psikologis nan dikenal sebagai trauma masa kanak-kanak.

Trauma tersebut tidak selalu muncul akibat satu peristiwa besar, tetapi juga dapat terbentuk dari pengalaman jelek nan terjadi berulang kali.

Bentuk Trauma Masa Kanak-Kanak

Trauma pada masa kanak-kanak dapat muncul dalam beragam bentuk. Kekerasan fisik, kekerasan verbal, pelecehan, kehilangan orang terdekat, perundungan, hingga penelantaran merupakan beberapa pengalaman nan berpotensi memberikan akibat psikologis bagi anak. Selain itu, lingkungan family nan penuh bentrok alias kurang memberikan rasa kondusif juga dapat mempengaruhi kondisi emosional anak.

Dampaknya pun berbeda-beda pada setiap orang. Ada nan menjadi lebih mudah resah dan susah mempercayai orang lain, sementara sebagian lainnya dapat mengalami kesulitan dalam mengelola emosi alias membangun hubungan ketika dewasa.

Hal nan tidak kalah penting, kebutuhan emosional anak juga mempunyai peran besar dalam perkembangannya. Anak memerlukan perhatian, kasih sayang, penerimaan, serta sosok dewasa nan dapat membuatnya merasa aman. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi secara terus-menerus, anak dapat tumbuh dengan beragam pertanyaan mengenai dirinya sendiri maupun lingkungan di sekitarnya.

Oleh lantaran itu, memahami trauma masa kanak-kanak tidak hanya berfaedah memandang peristiwa nan dialami seorang anak, tetapi juga memahami gimana pengalaman tersebut mempengaruhi langkah mereka memandang dunia.

Trauma Masa Kanak-Kanak dalam Ketika Anak-Anak Pergi

Pembahasan mengenai trauma masa kanak-kanak mempunyai keterkaitan nan kuat dengan kisah Ketika Anak-Anak Pergi karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Melalui perjalanan Ma, Mi, Mo, dan tokoh-tokoh lainnya, kitab ini menghadirkan gambaran mengenai anak-anak nan kudu berhadapan dengan beragam persoalan serius di bumi orang dewasa.

Di kembali petualangan dan permainan kata nan menghibur, terdapat gambaran tentang anak-anak nan berupaya memperkuat ketika mereka tidak selalu mendapatkan perlindungan dan rasa kondusif nan semestinya.

Kisah tersebut membikin pembaca dapat memandang bahwa masa kanak-kanak tidak selalu identik dengan kehidupan nan ringan dan bahagia. Pengalaman nan dialami seorang anak dapat meninggalkan kesan nan mendalam, apalagi ketika mereka belum sepenuhnya bisa memahami apa nan sedang terjadi.

Tanpa perlu mengungkap perjalanan cerita lebih jauh, Ketika Anak-Anak Pergi membujuk Grameds untuk memandang bumi anak dengan lebih peka sekaligus menyadari sungguh pentingnya kehadiran orang dewasa nan bisa memberikan perlindungan, perhatian, dan kasih sayang.

Mengapa Trauma Masa Kanak-Kanak Penting untuk Dipahami?

Memahami trauma masa kanak-kanak membantu kita menyadari bahwa perilaku seorang anak tidak selalu dapat dilihat hanya dari apa nan tampak di permukaan. Sikap takut, marah, menarik diri, alias susah mempercayai orang lain bisa saja berangkaian dengan pengalaman nan pernah mereka alami. Karena itu, anak-anak memerlukan lingkungan nan kondusif serta orang dewasa nan bersedia mendengarkan dan memahami mereka, bukan sekadar menilai perilakunya.

Melalui Ketika Anak-Anak Pergi, Ziggy menghadirkan cerita nan membikin persoalan tersebut terasa lebih dekat dengan pembaca. Di kembali sosok anak-anak nan tampak mini dan polos, terdapat perasaan, ketakutan, dan perjuangan nan tidak selalu sederhana.

Pada akhirnya, kitab ini dapat menjadi pengingat bahwa setiap anak berkuasa tumbuh dalam lingkungan nan membikin mereka merasa aman, dicintai, dan mempunyai tempat untuk pulang.

Penutup

Buku Ketika Anak-Anak Pergi menjadi pilihan referensi nan tepat bagi Grameds nan menyukai kisah tentang petualangan anak-anak dengan persoalan nan lebih serius dan penuh makna.

Melalui perjalanan Ma, Mi, Mo, Petronella, dan tokoh-tokoh lainnya, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie tidak hanya menghadirkan cerita nan unik dan menghibur, tetapi juga membujuk Grameds untuk memandang gimana anak-anak dapat menghadapi bumi nan tidak selalu memberikan rasa kondusif dan perlindungan.

Setelah menutup laman terakhir, mungkin nan tertinggal bukan hanya rasa penasaran terhadap kelanjutan perjalanan mereka, tetapi juga renungan tentang sungguh pentingnya peran orang dewasa dalam menjaga dan memahami anak-anak.

Jika Grameds diberi kesempatan untuk mengubah satu perihal dari bumi nan mereka hadapi, apakah kalian bakal memilih membikin bumi menjadi lebih kondusif bagi anak-anak, alias membantu mereka menemukan tempat nan betul-betul bisa disebut rumah?

Buku Ketika Anak-anak Pergi karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie ini bisa Anda dapatkan hanya di Gramedia.com ya! Untuk mendukung Anda #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan info dan produk terbaik untuk kamu.

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

Jakarta Selintas Aram

Jakarta Selintas Aram

Jam sembilan pagi, kebaya, dan ruangan nan penuh pepat. Ada pengantin gugup, tamu-tamu bersemangat; dan rumah tua di tengah-tengah Jakarta menjadi saksi terciptanya family baru.

5 tahun sejak pertama berjumpa sudah berlalu. Bulan Januari ini, ada anak nan kabur, diary nan dibongkar, rahasia nan dibagi, dan pernikahan. Sekali lagi menelusuri kota dalam ingatan, kali ini Emina mengunjungi tempat-tempat lama di tengah kemacetan, di bawah matahari, berdampingan dengan kenangan sendiri..

Semua Ikan di Langit

Semua Ikan di Langit

Aku adalah bus kota biasa saja dengan trayek Dipatiukur-Leuwipanjang. Setelah perjumpaan dengan Beliau, saya menjadi bus nan bisa terbang mengitari angkasa dengan trayek lintas waktu, lintas dimensi. Dari kaki-kaki nan menapak pada tubuhku, saya menyimak gimana kisah dan hidup Beliau melaju. Ulang-alik waktu nan semakin meneguhkan gimana Beliau menyayangiku.

Semua Ikan di Langit adalah sebuah surat cinta panjang dengan ribuan kata. Tentang cinta dan sayang nan begitu polos. Dalam jenis ini, sebuah catatan mengiringi laju bus kota berbareng ikan julung-julung.

Mari Pergi Lebih Jauh

Mari Pergi Lebih Jauh

Fifi ditangkap Kucing-Kucing Luar Biasa. Namun, Ibu Mo dan Ibu Tetangga Sebelah bilang Fifi hanya gambaran cermin nan selalu dibawa Fufu. Fifi sedari awal tidak betul-betul ada. Kucing Luar Biasa hanyalah kucing, kuping nan digoreng krispi sebenarnya jamur kuping, jagung tidak bisa mengendalikan kereta; Mi dan Ma dan Mo hanya bermimpi. Mi dan Ma dan Mo merencanakan sesuatu ketika Bapak dan Ibu Mo meninggalkan Rumah Merah nomor 17 dan mencari duit lantaran duit di Kota Suara tidak lagi tersimpan di dasar laut,

Selengkapnya
Sumber Gramedia
Gramedia