Kesepakatan tenteram antara Amerika Serikat (AS) dan Iran nan diumumkan pada Minggu (14/6) mendapat sambutan positif dari beragam negara dan organisasi internasional.
Sejumlah pihak berambisi perjanjian tersebut dapat mengakhiri bentrok nan telah mengguncang area Timur Tengah selama lebih dari tiga bulan dan membuka jalan bagi stabilitas jangka panjang.
Dilansir AFP, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, bertindak sebagai mediator dan mengumumkan AS-Iran sepakat berdamai.
Semua operasi militer nan digelar, termasuk di Lebanon bakal segera dihentikan.
Perjanjian final bakal ditandatangani di Jenewa, Swiss, pada 19 Juni mendatang. Rencananya, penandatangan bakal dihadiri langsung oleh Wapres AS, JD Vance.
China: Hormuz Harus Segera Dibuka
Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China, Lin Jian, mengatakan Beijing menyambut tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran.
"China menyambut AS dan Iran nan telah mencapai kesepakatan atas memorandum tahap awal tersebut," kata Lin, dilansir Reuters.
Ia juga berambisi Selat Hormuz segera dibuka kembali demi menjaga stabilitas rantai pasok dan perdagangan global.
UEA Serukan Implementasi Penuh Kesepakatan
Uni Emirat Arab (UEA) menyerukan penerapan penuh kesepakatan AS-Iran, termasuk penghentian segera permusuhan dan memastikan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) UEA menilai dialog, diplomasi, dan penghormatan terhadap norma internasional krusial untuk menjaga stabilitas kawasan.
UEA merupakan negara Teluk nan turut merasakan akibat perang, termasuk serangan Iran terhadap jalur pelayaran dan prasarana daya nan mengenai dengan UEA selama bentrok berlangsung.
Turki Peringatkan Potensi Provokasi
Kemlu Turki menyebut kesepakatan AS-Iran sebagai perkembangan nan dapat membantu meredakan ketegangan regional.
Reuters melaporkan Menlu Turki Hakan Fidan berbincang via telepon dengan Menlu Iran Abbas Araghchi.
Fidan mengharapkan agar perundingan lanjutan antara Washington dan Teheran menghasilkan perkembangan positif setelah tercapainya kesepakatan penghentian perang.
Ia juga memperingatkan adanya potensi "provokasi" nan dapat menggagalkan penerapan perjanjian tersebut.
Uni Eropa Soroti Situasi Lebanon dan Nuklir Iran
Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen menyambut kesepakatan AS-Iran, namun mengingatkan bahwa perdamaian di Timur Tengah belum bakal terwujud selama bentrok di Lebanon tetap berlangsung.
"Perdamaian di Timur Tengah tidak mungkin terwujud selama Lebanon tetap terus diserang," kata von der Leyen, dikutip Reuters.
Ia kembali menyerukan semua pihak untuk menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon serta menerapkan gencatan senjata nan nyata.
Sementara itu, Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia menyatakan siap mencabut hukuman terhadap Iran jika Teheran mengambil langkah nan jelas dan dapat diverifikasi mengenai program nuklirnya.
PBB: Langkah Penting Menuju Perdamaian
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah krusial menuju penyelesaian bentrok di Timur Tengah.
"Ini merupakan langkah krusial menuju penyelesaian perang di Timur Tengah," kata Guterres dalam pernyataannya.
Sementara Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk, turut meminta seluruh pihak melaksanakan komitmen nan telah disepakati dan menghindari tindakan nan dapat memicu kembali eskalasi konflik.
"Sekarang saatnya menerapkan kesepakatan ini dengan itikad baik dan memastikan perlindungan penduduk sipil," ujarnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·