ilustrasi(MI)
PEMUKA kepercayaan Sumatra Utara, Tuan Guru Batak Syekh Ahmad Sabban el-Rahmaniy Rajagukguk mengingatkan pemerintah agar tetap konsentrasi menghadapi beragam persoalan nan sedang dirasakan masyarakat.
Hal itu disampaikannya juga dalam rangka merespons pernyataan mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, nan viral di media sosial lantaran diduga menyebut seekor kucing dengan nama nan dianggap menghina Presiden Prabowo Subianto.
Tuan Guru Batak menyebut kondisi ekonomi dan sosial saat ini memerlukan perhatian serius dari seluruh pemangku kebijakan. "Kami juga mengingatkan sekaligus mendoakan Bapak Presiden Prabowo Subianto dan segenap jejeran kementerian dan seluruh para pemimpin dan elit bangsa ini, bangsa kita saat ini sedang tidak baik-baik saja," katanya.
Ia menyoroti sejumlah persoalan nan terjadi di tengah masyarakat, mulai dari antrean kendaraan di sejumlah SPBU akibat kelangkaan BBM hingga kenaikan nilai kebutuhan pokok.
"Sepanjang jalan kita lihat ada antrean kendaraan, mobil, truk, bus, apalagi sepeda motor di setiap SPBU lantaran kelangkaan BBM. Bahan-bahan sembako dan kebutuhan lain naik. Naiknya nilai dolar seiring dengan situasi geopolitik dunia dan ekonomi dunia. Semua ini berpotensi mengundang ketidakstabilan ekonomi dan stabilitas politik," ujarnya.
Karena itu, Tuan Guru Batak berambisi pemerintah dapat menghadirkan kebijakan nan berpihak kepada masyarakat, khususnya golongan nan paling rentan menghadapi tekanan ekonomi.
"Kami minta kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto agar betul-betul memberikan kebijakan nan berpihak kepada masyarakat terutama masyarakat nan lemah dan susah," pungkasnya.
Dalam video nan beredar, Tiyo mengaku menyelamatkan seekor kucing nan dalam kondisi terkena penyakit kulit. Setelah itu, Tiyo memberi nama kucing itu nan diduga menyimpan makna penghinaan.
Tuan Guru Batak menilai kritik dan kebebasan beranggapan merupakan kewenangan setiap penduduk negara. Namun, kata dia, kebebasan tersebut kudu tetap disampaikan dengan mengedepankan etika, moralitas, dan etika sebagai karakter bangsa Indonesia.
"Saya sebagai anak bangsa, sebagai orang kampung, nan sangat mencintai negeri ini, saya bukan siapa-siapa. Tapi sungguh saya sangat prihatin menyaksikan apa nan telah disampaikan oleh ananda Tiyo Ardianto ini," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Indonesia merupakan bangsa nan menjunjung tinggi nilai agama, Pancasila, serta budaya ketimuran nan mengedepankan sopan santun dalam menyampaikan pendapat.
"Sebagai anak bangsa, sebagai bangsa nan beragama, nan punya Pancasila dimana sila pertama Ketuhanan nan Maha Esa, dan nan kedua Kemanusiaan nan Adil dan Beradab. Dan kita juga sebagai bangsa nan berbudaya, nan mempunyai nilai-nilai moralitas. Tentu kita sangat prihatin, dan mengecam apa nan dilakukan, disampaikan oleh ananda Tiyo Ardianto," ujarnya.
Menurutnya, perbedaan pandangan dan kritik terhadap pemerintah merupakan perihal nan lumrah dalam demokrasi. Namun, perihal tersebut tidak boleh diwujudkan dalam corak cacian, makian, maupun penghinaan kepada pihak lain.
"Silakan bersuara, bakal tetapi jangan sampai melakukan cacian, makian, cercaan. Kita tidak boleh saling menghujat, saling mencerca, lantaran kita bangsa nan beradab," tegasnya.
Tuan Guru Batak juga membujuk seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama memberikan edukasi kepada generasi muda mengenai pentingnya menjaga etika dan moralitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Kita sama-sama memberikan edukasi, mengajarkan nilai-nilai etika, nilai-nilai moralitas kepada seluruh anak bangsa kita, agar bangsa tumbuh menjadi bangsa nan besar, bangsa nan beradab nan senantiasa menjaga nilai-nilai agama, nilai-nilai Pancasila, dan nilai-nilai budaya dan moralitas," tandasnya. (Cah/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·