Respons Ganjar usai Timsesnya Dikaitkan dengan Aksi Eks Ketua BEM UGM Tiyo

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ganjar Pranowo saat ditemui usai Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni oleh DPP PDIP, Jakarta, Senin (1/6/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Ketua DPP PDIP, Ganjar Pranowo, merespons tudingan Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bersatu nan mengaitkan sejumlah tokoh dalam tim suksesnya pada Pilpres 2024 lampau dengan tindakan mahasiswa nan dipimpin eks Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto.

Ganjar menilai, pelabelan terhadap aktivis alias golongan kritis sebagai bagian dari kubu politik tertentu justru mengaburkan substansi persoalan nan disampaikan.

"Melabeli aktivis alias penduduk nan kritis sebagai bagian dari kubu politik tertentu adalah langkah paling mudah untuk menghindari substansi persoalan," kata Ganjar kepada kumparan, Selasa (16/6).

Menurut Ganjar, kritik nan muncul semestinya dijawab dengan info dan kebijakan, bukan dengan membangun narasi mengenai hubungan politik pihak nan menyampaikan kritik.

"Kalau ada kritik, jawab dengan data. Kalau ada masukan, respons dengan kebijakan. Jangan membangun narasi seolah-olah hanya pendukung pemerintah nan boleh berbicara, sementara nan kritis pasti dianggap musuh politik," ujarnya.

Ganjar menegaskan kewenangan penduduk negara untuk menyampaikan pendapat dan melakukan pengawasan terhadap pemerintah merupakan bagian dari prinsip demokrasi.

"Negara ini dibangun bukan untuk melayani penguasa, tetapi untuk melindungi kewenangan penduduk negara, termasuk kewenangan untuk berbeda pendapat," lanjutnya.

Capres-cawapres 02 Ganjar Pranowo dan Mahfud MD saat hadiri Kampanye Akbar di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (10/2/2024). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Ganjar juga menilai pertanyaan mengenai hubungan politik kerap digunakan untuk mendelegitimasi kritik nan disampaikan masyarakat.

"Pertanyaan tentang hubungan politik sering kali bukan upaya mencari kebenaran, melainkan langkah untuk mendelegitimasi kritik," kata dia.

Menurut Ganjar, seseorang tidak kehilangan kewenangan untuk bersikap kritis hanya lantaran pernah mendukung alias dianggap dekat dengan tokoh politik tertentu.

"Dalam demokrasi, penduduk negara tidak kehilangan kewenangan kritisnya hanya lantaran pernah mendukung alias dianggap dekat dengan tokoh politik tertentu. Justru nan rawan adalah ketika kekuasaan mulai mengukur validitas kritik berasas siapa nan menyampaikan, bukan berasas kebenaran nan disampaikan," ujarnya.

Ia mengingatkan agar kritik tidak diukur berasas identitas alias kedekatan politik pihak nan menyampaikannya.

"Kalau kritik hanya dianggap sah ketika datang dari pendukung pemerintah, maka kita sedang bergerak menuju politik loyalitas, bukan kerakyatan konstitusional," tutur Ganjar.

"Penguasa datang dan pergi, tetapi kewenangan penduduk negara untuk mengawasi kekuasaan kudu tetap berdiri," sambungnya.

Kata BEM Bersatu

BEM Fakultas Bersatu menggelar bertemu pers mengenai aktivitas mahasiswa beberapa waktu terakhir di Komunitas Utan Kayu, Jakarta, Selasa (16/6/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Sebelumnya, Aliansi BEM Bersatu menduga terdapat keterlibatan tokoh politik praktis di kembali tindakan mahasiswa nan menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dugaan tersebut salah satunya didasarkan pada kedekatan ketua aksi, Tiyo Ardianto, dengan sejumlah tokoh nan mempunyai keterkaitan dengan PDIP maupun tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024.

Juru Bicara BEM Bersatu, Rahmat Djimbula, mengatakan pihaknya menemukan sejumlah indikasi nan menurut mereka patut dicermati publik.

"Kedua, kami memandang indikasi kuat keterlibatan tokoh politik praktis dalam aktivitas ini. Salah satu ketua aksi, Tiyo Ardianto, diduga mempunyai kedekatan dengan jaringan politik tertentu," kata Rahmat dalam konvensi pers, Selasa (16/6).

Rahmat menyebut mobil Toyota Fortuner nan digunakan Tiyo diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni, nan disebut sebagai adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso.

"Mobil Fortuner nan digunakannya diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso, nan merupakan besan Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa, tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024. Dugaan ini diperkuat kehadiran politisi PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, di tengah massa aksi," ujar Rahmat.

Menurut Rahmat, indikasi keterkaitan tersebut juga terlihat dari agenda nan bakal dihadiri Tiyo berbareng sejumlah tokoh nan selama ini dikenal kritis terhadap pemerintah.

"Keterkaitan tersebut juga diperkuat oleh kehadiran Tiyo Ardianto dalam Dialog Nasional Kebangsaan nan bakal dilaksanakan di Bandung pada tanggal 18 Juni 2026 mendatang, berbareng dengan sejumlah tokoh seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dan dr. Tifa. Dalam forum nan sama, Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso juga tercatat hadir, menunjukkan adanya jejaring nan patut dicermati," kata Rahmat.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan