Golkar Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran: Momentum Pemerintah Perbaiki Fiskal

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI Muhammad Sarmuji menyambut baik kesepakatan tenteram antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Dia meminta Pemerintah Indonesia agar memanfaatkan momentum ini untuk kepentingan rakyat.

"Ini momentum nan tidak boleh disia-siakan. Pemerintah kudu bergerak sigap dan terukur untuk mengonversi perdamaian ini menjadi faedah nyata bagi rakyat Indonesia," kata Sarmuji dalam keterangan tertulisnya, dilansir Antara, Rabu (17/6/2026).

Sarmuji mengatakan sinyal pasar sudah berbincang lebih sigap dari kalkulasi apa pun. Harga minyak Brent langsung merosot nyaris 4 persen ke kisaran 83,92 dolar AS per barel pada perdagangan Senin pagi dari penutupan Jumat pada kisaran 87,33 dolar AS per barel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia merinci sejumlah langkah konkret nan mendesak dilakukan. Pertama, pemerintah perlu melakukan perbaikan fiskal dengan mengevaluasi dan menyesuaikan subsidi daya secara berjenjang seiring normalisasi nilai minyak global.

Sekjen Partai Golkar itu menegaskan ruang fiskal nan selama ini tergerus pembengkakan subsidi BBM, sekarang terbuka kembali dan kudu dimanfaatkan sebaik-baiknya.

"Anggaran nan sebelumnya terpaksa dialokasikan untuk menutup pembengkakan subsidi dapat dialihkan dan difokuskan pada sektor-sektor strategis dan prioritas, seperti infrastruktur, pendidikan, dan perlindungan sosial nan manfaatnya lebih langsung dirasakan rakyat," ujarnya.

Kedua, meredanya premi akibat geopolitik memungkinkan biaya impor minyak dan gas menjadi lebih efisien, nan bakal berakibat langsung pada penurunan biaya produksi domestik dan tekanan inflasi.

Ketiga, pembukaan penuh Selat Hormuz kudu segera dimanfaatkan untuk memperlancar rantai pasok ekspor-impor nan selama berbulan-bulan terganggu, sekaligus memangkas biaya logistik internasional nan membebani pelaku usaha.

Keempat, Indonesia perlu menggenjot ekspor nonmigas ke area Timur Tengah dan negara-negara nan selama ini terdampak konflik, termasuk menjalin kembali kesepakatan jual beli dengan Iran di sektor produk pertanian dan manufaktur nan sempat tertunda.

Sarmuji menekankan bahwa kesepakatan ini bukan hanya kemenangan bagi kedua negara nan bertikai, melainkan juga kemenangan bagi tatanan multilateral dan peran aktif diplomasi negara-negara berkembang.

Pakistan, berbareng Turki, Qatar, dan Arab Saudi, memainkan peran kunci sebagai penyedia dalam proses perundingan nan panjang dan melelahkan ini.

"Ini membuktikan bahwa jalur diplomasi, sekalipun susah dan berliku, selalu lebih terhormat daripada perang," tegasnya.

Sarmuji menekankan perdamaian di atas kertas kudu segera diterjemahkan ke dalam pemulihan ekonomi nan nyata. Menurutnya, perang AS-Iran telah meninggalkan luka ekonomi nan dalam, tidak hanya bagi area Timur Tengah, tetapi bagi seluruh dunia, termasuk Indonesia.

"Kami berambisi kesepakatan tenteram ini segera berakibat pada penurunan nilai minyak bumi nan selama ini terdampak oleh eskalasi bentrok dan penutupan Selat Hormuz. Harga minyak nan tinggi membebani APBN kita melalui subsidi BBM nan membengkak, menekan daya beli masyarakat, dan menambah tekanan inflasi. Normalisasi nilai daya bumi adalah kepentingan langsung rakyat Indonesia," ucap Sarmuji.

Ia menambahkan akibat ikutan dari bentrok ini tidak berakhir pada nilai minyak. Gangguan rantai pasok dunia nan dipicu penutupan Selat Hormuz telah mendorong lonjakan biaya logistik dan pengiriman internasional, nan pada akhirnya dirasakan konsumen dan pelaku upaya di Indonesia.

Di luar agenda jangka pendek, Sarmuji menekankan satu pelajaran struktural nan tidak boleh dilupakan meski situasi sudah membaik. Krisis Selat Hormuz telah mengekspos celah dalam ketahanan daya Indonesia ketika satu titik strategis tersumbat.

"Perdamaian ini tidak menghapus kerentanan itu. Justru sekarang, dalam situasi lebih tenang, adalah waktu nan tepat untuk membangun ketahanan nan sesungguhnya. Kita kudu mendiversifikasi sumber daya dan tidak boleh terlalu berjuntai pada satu alias dua negara pemasok saja. Pemerintah perlu menjajaki pengganti sumber daya baru dari beragam area dan beragam mitra agar kejadian seperti ini tidak terulang dan tidak membikin kita tak berdaya," ujar Sarmuji.

Ia mendorong pemerintah memperkuat kerja sama bilateral dengan negara-negara Timur Tengah secara lebih luas, termasuk Iran, untuk membangun kemitraan jangka panjang di bagian daya dan perdagangan non-migas.

"Golkar berambisi kesepakatan ini menjadi titik awal rekonstruksi area nan lebih stabil, adil, dan damai, bukan hanya gencatan senjata di atas kertas," imbuhnya.

(fas/fas)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News