Jakarta -
Fenomena penggunaan jasa pemasok pengunduran diri alias taishoku daiko sekarang sedang mengguncang bumi kerja Jepang. Hanya dengan bayar biaya layanan, para pekerja bisa lepas dari pekerjaan tanpa perlu berbincang lagi dengan pemimpin mereka.
Melansir Forbes, Kamis (17/9/2026), jasa agensi pengunduran diri terbukti memikat pasar Negeri Sakura seiring tingginya tekanan kepada para tenaga kerja dari budaya kerja di Jepang nan sangat menekankan loyalitas dan jenjang ketat membikin proses resign sering kali diwarnai intimidasi, rasa bersalah, alias penolakan dari pihak manajemen.
Belum lagi, banyaknya tindak kekerasan hingga pelecehan seksual turut mendorong penggunaan jasa ini semakin banyak dicari pekerja. Membuat satu dari enam pekerja Jepang, khususnya mereka nan berumur 20-an dan 30-an, tercatat pernah menggunakan jasa ini saat resign alias mengundurkan diri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di luar itu, ketenaran penggunaan pemasok resign ini hanyalah bagian dari kejadian nan lebih besar mengenai pergeseran langkah pandang pekerja terhadap perusahaan. Selain taishoku daiko, muncul pula tren-tren lain nan menunjukkan ketidakpuasan para pekerja di Jepang.
Semisal ada Ribenji Taishoku alias pengunduran diri 'balas dendam'. Tren ini merujuk pada tindakan mengundurkan diri nan dipicu rasa marah terhadap pemimpin alias perusahaan secara keseluruhan.
Dalam tren ini, pekerja biasanya sengaja memilih waktu alias langkah resign nan paling merugikan perusahaan alias atasan, seperti keluar mendadak di tengah proyek krusial. Hal ini dilakukan sebagai corak perlawanan dan penyampaian rasa kecewa pada manajemen.
Kemudian ada juga tren Shizuka na Taishoku alias quiet quitting (pengunduran diri diam-diam). Dalam tren ini, para pekerja tetap datang secara bentuk di kantor, tetapi hanya bekerja sesuai porsi minimum tanpa curahan emosi alias upaya ekstra.
Survei menunjukkan sebanyak 45% tenaga kerja penuh waktu di Negeri Sakura mendeskripsikan diri mereka berada di fase ini. Di mana kebanyakan dilakukan oleh pekerja kalangan pekerja berumur 20-an.
Biaya Sewa Jasa Resign di Jepang
Popularutas penggunaan jasa agensi resign alias pengunduran diri ini terbukti dari hasil keahlian salah satu perusahaan terkemuka di Jepang dalam bagian ini, Albatross. Agensi resign ini tercatat bisa membantu sekitar 450 orang untuk mengundurkan diri tanpa konfrontasi setiap bulannya.
Berdasarkan info dari Inquirer.net, mereka mengenakan biaya sekitar US$ 138,5 alias Rp 2.458.375 per pengguna nan bekerja penuh waktu. Mayoritas pengguna ini adalah para ahli muda di industri jasa dan manufaktur dengan proses dapat diselesaikan dalam waktu 15 menit.
"Alasan kenapa orang meminta kami untuk mengundurkan diri atas nama mereka beragam, mulai dari kekerasan bentuk hingga pelecehan seksual," kata Yuka Hamada, CEO Albatross.
"Mereka rentan dalam kasus ini, dan mereka tidak cukup berani untuk mengundurkan diri dari pekerjaan mereka," sambungnya.
Masalahnya, menurut survei terhadap pekerja Jepang berumur 20 hingga 49 tahun nan dilakukan oleh perusahaan konsultan Shikigaku, sekitar satu dari tiga orang alias 33,3% pekerja melaporkan pernah mengalami beberapa corak pelecehan di tempat kerja.
Belum lagi, budaya perusahaan tradisional Jepang nan banyak digunakan saat ini berasal dari masa booming ekonomi pasca Perang Dunia II dan sangat berjuntai pada sistem 'pekerjaan seumur hidup'.
Dalam budaya ini, loyalitas dianggap sebagai amal tertinggi, dan para pemimpin sering memandang pengunduran diri sebagai penghinaan, sehingga banyak tenaga kerja muda takut mengundurkan diri secara langsung.
"Mengumumkan niat untuk mengundurkan diri tidak hanya terasa seperti mengakhiri kontrak, tetapi juga seperti mengecewakan orang lain alias mengingkari angan nan sebelumnya terus dipenuhi," kata guru besar madya di Sekolah Pascasarjana Studi Desain Sosial Universitas Rikkyo, Hiroki Nakamori.
(igo/fdl)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·