Jakarta, CNBC Indonesia - Kanselir Jerman Friedrich Merz melontarkan kritik pedas terhadap Amerika Serikat (AS) dengan menyebut negara tersebut tengah dipermalukan oleh kepemimpinan Iran. Merz menilai pemerintahan Presiden Donald Trump telah kalah cerdas di meja perundingan dan terus-menerus diakali oleh Teheran dalam upaya diplomasi nan buntu.
Mengutip The Guardian, Merz memberikan penilaian tersebut saat berbincang di hadapan mahasiswa di Marsberg. Ia menganggap tim negosiasi Amerika tidak berkekuatan menghadapi strategi diplomasi nan dimainkan oleh pihak Iran.
"Orang-orang Iran jelas sangat terampil dalam bernegosiasi, alias lebih tepatnya, sangat terampil dalam tidak bernegosiasi, membiarkan orang-orang Amerika melakukan perjalanan ke Islamabad dan kemudian pergi lagi tanpa hasil apa pun," ujar Merz, dimuat Selasa (28/4/2026).
Merz menekankan bahwa kegagalan diplomasi ini merupakan tamparan keras bagi wibawa AS di mata dunia. Ia pun menyoroti peran Pengawal Revolusi Iran nan dianggap menjadi tokoh di kembali sulitnya mencapai kesepakatan.
"Seluruh bangsa sedang dipermalukan oleh kepemimpinan Iran, terutama oleh golongan nan disebut Pengawal Revolusi ini. Dan saya berambisi perihal ini berhujung secepat mungkin," kata Merz.
Pernyataan Merz ini menyusul keputusan Donald Trump dua hari lampau nan membatalkan rencana perjalanan tim negosiator Amerika ke Islamabad untuk pembicaraan tidak langsung. Padahal, dua minggu sebelumnya, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance telah memimpin delegasi ke ibu kota Pakistan tersebut, namun pertemuan berhujung tanpa ada kemajuan berarti.
Trump sendiri sebelumnya sempat sesumbar kepada Fox News bahwa negaranya berada dalam posisi nan jauh lebih unggul dibandingkan Iran. Ia mengeklaim bahwa pihak Teheran-lah nan semestinya memohon untuk bernegosiasi.
"Kami memegang semua kartu. Jika Teheran mau berbicara, mereka bisa datang kepada kami, alias mereka bisa menelepon kami," kata Trump.
Namun, di saat nan sama, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi justru menunjukkan kemesraan hubungan dengan Rusia saat berjumpa Presiden Vladimir Putin di Moskow. Araghchi mengeklaim bahwa blokade ekonomi AS tidak menggoyahkan posisi negaranya, melainkan justru menunjukkan ketangguhan sistem di Iran.
"Dunia sekarang telah menyadari kekuatan sejati Iran. Telah menjadi jelas bahwa Republik Islam Iran adalah sistem nan stabil, solid, dan kuat," ujar Araghchi.
Senada dengan itu, Putin menyatakan support penuhnya agar Iran bisa segera keluar dari krisis akibat blokade tersebut demi tercapainya stabilitas di kawasan.
"Rusia bakal melakukan segalanya nan melayani kepentingan Iran, kepentingan semua orang di area ini, sehingga perdamaian dapat dicapai sesegera mungkin," tutur Putin.
Sementara diplomasi di tingkat atas terus mengalami kebuntuan, situasi di lapangan justru semakin memanas. Perdana Menteri Israel (PM) Benjamin Netanyahu memberikan sinyal bahwa tindakan militer tetap menjadi opsi utama untuk meredam kekuatan kelompok-kelompok nan disokong oleh Iran.
"Masih ada dua ancaman utama dari Hizbullah: roket 122mm dan drone. Ini menuntut kombinasi aktivitas operasional dan teknologi," pungkas Netanyahu.
(sef/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·