Rajin Nabung Rp50 Ribu Sehari, Tukang Bengkel Akhirnya Punya Rumah

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Rajin Nabung Rp50 Ribu Sehari, Tukang Bengkel Akhirnya Punya Rumah Tukang bengkel di Semarang, Jawa Tengah, akhirnya bisa punya rumah pertama.(Dok. MI)

SIAPA bilang pekerja bengkel dan tambal ban susah mempunyai rumah sendiri? Dwi Suryanto membuktikan bahwa penghasilan harian, jika dikelola dengan disiplin, bisa menjadi jalan menuju rumah impian.

Pemuda berumur 23 tahun asal Batang, Jawa Tengah, itu sukses mempunyai rumah pertamanya melalui akomodasi KPR BTN Bersubsidi. Perjalanannya bermulai dari kebiasaan sederhana yakni menyisihkan duit Rp50.000 nyaris setiap hari ke dalam sebuah kaleng.

Bagi Dwi, bunyi koin dan lembaran duit nan masuk ke kaleng tersebut bukan sekadar rutinitas. Sedikit demi sedikit, tabungan itu menjadi modal untuk mewujudkan salah satu sasaran terbesar dalam hidupnya, ialah mempunyai rumah sebelum menikah.

“Saya mau menikah tahun depan. Dari awal saya punya target, sebelum menikah kudu sudah punya rumah sendiri,” ujar Dwi, Jumat (7/8).

Dwi merupakan lulusan sekolah menengah kejuruan nan telah bekerja di bengkel dan upaya tambal ban sejak 2021. Saat ini dia tetap tinggal berbareng orang tuanya, tetapi sudah mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan rumah tangga secara lebih mandiri.

Dengan penghasilan sekitar Rp6 juta hingga Rp8 juta per bulan, Dwi memilih langkah menabung nan sederhana agar mudah dilakukan secara konsisten.

Karena menerima penghasilan setiap hari, dia menyisihkan Rp50.000 ke dalam tabungan setiap hari kerja.

“Saya mendapatkan penghasilan setiap hari, jadi saya membikin tabungan di kaleng. Setiap hari saya masukkan Rp50.000, selain hari Minggu,” katanya.

Tak Minta Bantuan Orang Tua

Menariknya, Dwi mengaku mempersiapkan kebutuhan awal untuk membeli rumah tanpa support finansial dari orang tuanya.

Tabungan nan dikumpulkannya selama ini digunakan sebagai bekal untuk memenuhi kebutuhan dalam proses pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Sebelum mengusulkan pembiayaan kepada PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk alias BTN, Dwi apalagi belum pernah mencoba mengusulkan KPR ke bank lain.

Karena itu, ketika pengajuan KPR BTN Bersubsidi miliknya berhasil, Dwi mengaku sempat tidak percaya.

“Saya tidak menyangka. Saya bekerja hanya sebagai tukang bengkel dan tambal ban, tetapi rupanya bisa mengusulkan KPR di BTN,” tuturnya.

Bagi Dwi, keberhasilan mendapatkan rumah juga berfaedah dimulainya tanggung jawab baru. Ia sadar angsuran KPR kudu dibayarkan secara disiplin dalam jangka panjang.

Kebiasaan menabung nan selama ini dilakukannya pun bakal terus dipertahankan.

“Menurut saya, mencicil sudah menjadi tanggung jawab sejak pertama memutuskan mengambil KPR. Jadi, saya kudu tetap semangat dan disiplin membayarnya,” ucap Dwi.

Rumah untuk Memulai Kehidupan Baru

Rumah tersebut nantinya bakal digunakan Dwi sebagai tempat tinggal setelah menikah. Ia tidak berencana mengubahnya menjadi bengkel alias tempat upaya tambal ban.

Bagi Dwi, mempunyai rumah bukan sekadar soal investasi alias kepemilikan aset. Rumah itu menjadi simbol kesiapan untuk memasuki tahap baru dalam kehidupannya.

Pengalamannya menabung hingga akhirnya bisa membeli rumah juga membikin Dwi mempunyai pesan tersendiri bagi anak-anak muda seusianya.

Ia membujuk generasi muda untuk mulai menentukan prioritas finansial sejak awal dan tidak menghabiskan penghasilan hanya demi mengikuti style hidup.

“Untuk remaja seusia saya, lebih baik menabung daripada terlalu sering nongkrong dan hanya mengikuti pamor lantaran itu tidak bakal memberikan hasil untuk masa depan. Rumah nan kita cicil nantinya bakal menjadi milik kita, daripada terus mengeluarkan duit untuk bayar kontrakan alias apartemen,” ujarnya.

Jadi Bagian dari Akad Massal 30.203 Debitur BTN

Dwi merupakan satu dari 30.203 debitur BTN nan mengikuti Akad Massal KPR Rumah Subsidi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada 30 Juli 2026.

Dalam aktivitas tersebut, BTN menjadi bank dengan jumlah peserta terbesar.

Secara nasional, janji massal nan diselenggarakan BP Tapera berbareng Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman itu melibatkan sebanyak 62.710 debitur KPR Sejahtera FLPP.

Sebanyak 200 debitur mengikuti aktivitas secara langsung, sementara 62.510 peserta lainnya mengikuti janji secara daring dari beragam daerah.

Kisah Dwi menjadi salah satu gambaran bahwa kesempatan mempunyai rumah pertama juga terbuka bagi masyarakat nan memperoleh penghasilan harian maupun bekerja di sektor informal, selama mempunyai keahlian bayar serta disiplin dalam mengelola keuangan.

BTN: Pekerja Informal Punya Kesempatan nan Sama

Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan, perjalanan Dwi dalam mendapatkan rumah pertama menunjukkan pentingnya ekspansi akses pembiayaan perumahan kepada beragam lapisan masyarakat.

Menurut Nixon, kepemilikan rumah dapat dipersiapkan sejak usia muda jika seseorang mempunyai tujuan finansial nan jelas dan disiplin dalam mengelola pendapatan.

“Kisah Dwi menunjukkan bahwa rumah pertama dapat dipersiapkan sejak usia muda melalui tujuan nan jelas, kebiasaan menabung, dan pengelolaan penghasilan nan disiplin. BTN mau memastikan pekerja umum maupun informal nan mempunyai keahlian bayar memperoleh kesempatan nan sama untuk mempunyai rumah,” kata Nixon.

Nixon menambahkan, pencapaian BTN dalam penyelenggaraan janji massal rumah subsidi juga didukung kerjasama dalam ekosistem perumahan nasional berbareng Danantara Indonesia.

Sinergi pemerintah, BP Tapera, BTN, pengembang, serta beragam pelaku upaya dinilai krusial agar kebutuhan masyarakat terhadap kediaman dapat terhubung dengan pembiayaan dan kesiapan rumah nan sesuai.

“Dukungan Danantara memperkuat kerjasama antarpemangku kepentingan dalam ekosistem perumahan. Melalui sinergi tersebut, BTN dapat memperluas akses pembiayaan sekaligus menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan kediaman nan layak dan terjangkau,” jelas Nixon.

Kolaborasi itu sejalan dengan semangat Danantara Indonesia dalam mendorong sinergi, inklusivitas, serta pembuatan akibat nyata bagi masyarakat.

BTN sendiri menjalankan peran sebagai penyedia pembiayaan dan jasa perumahan. Melalui KPR BTN Bersubsidi, perseroan terus membuka akses pembiayaan bagi masyarakat dari beragam pekerjaan dengan tetap mempertimbangkan keahlian membayar, kelengkapan persyaratan, serta prinsip kehati-hatian.

Selain pembiayaan KPR, BTN juga memperkuat ekosistem perumahan melalui pembiayaan dari sisi pasokan serta jasa digital balé Properti.

Layanan tersebut memungkinkan masyarakat mencari pilihan hunian, mengetahui info nilai dan lokasi, melakukan simulasi cicilan, hingga mengakses proses pengajuan KPR.

“Tujuan akhirnya bukan sekadar memperbesar jumlah akad, tetapi memastikan semakin banyak masyarakat seperti Dwi dapat memperoleh rumah nan sesuai dengan kebutuhan dan keahlian finansialnya,” pungkas Nixon.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia