Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat getaran seismik Gunung Anak Krakatau sudah menurun signifikan pada Minggu (6/9). Kendati begitu, PVMBG mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah lantaran potensi letusan nan lebih kuat tetap ada.
Kepala PVMBG, Siti Sumilah Rita Susilawati, menjelaskan bahwa nomor rekaman gempa memang melandai jika dibandingkan saat awal letusan menerus terjadi. Namun, penurunan diagram getaran ini sama sekali bukan tanda bahwa gejolak di dalam perut gunung api sudah lenyap alias reda.
“Berdasarkan info kami di 6 September 2026, setelah naik signifikan memang amplitudo seismiknya per tanggal 6 September ini ada menurun signifikan,” kata Rita dalam konvensi pers secara virtual, Minggu (6/9).
Rita memberi penekanan unik pada aktivitas magma di kawah nan dinilai tetap sangat aktif bergolak. Karena pergerakan di dalam perut gunung tetap dinamis, kesempatan terjadinya letusan lanjutan nan lebih besar tetap sangat terbuka.
“Tetapi dinamikanya tetap sangat tinggi, sehingga penurunan ini belum tentu menunjukkan bahwa aktivitasnya mereda seperti itu. Masih ada kemungkinan aktivitasnya meningkat, sehingga pemantauan terus-menerus dilakukan oleh Badan Geologi,” tegasnya.
Tetap Level III Siaga, Waspada Radius 3 Km
Merespons potensi erupsi nan tetap bisa menguat sewaktu-waktu, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, memastikan status Gunung Anak Krakatau tetap memperkuat di Level III (Siaga).
“Status Level III Siaga ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik berada pada tingkat tinggi dan erupsi dapat terjadi,” ujar Lana.
Lana menambahkan, ancaman bahaya lontaran batu pijar dan lava pijar sejauh ini tetap terpusat di tubuh kawah dengan pemisah kondusif di luar radius 3 kilometer. Namun, jarak larangan tersebut bisa langsung ditarik menjauh jika semburan letusan mendadak melonjak lebih dahsyat.
“Kemudian juga bahwa zonasi aman, zonasi kondusif nan ditetapkan juga itu adalah radius 3 km,” sambungnya.
“Radius rekomendasi dapat diperluas nantinya andaikan terjadi peningkatan daya alias skala erupsi secara signifikan, lontaran material mencapai jarak nan lebih jauh, dan peningkatan deformasi alias tekanan dalam tubuh gunung,” kata dia.
37 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·