Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Masih Selimuti Jabar, Ini Imbauan BPBD

Sedang Trending 51 menit yang lalu
 Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Masih Selimuti Jabar, Ini Imbauan BPBD Abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.(Dok. Antara)

BALAI Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah II mendeteksi sebaran abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau telah mencakup sebagian wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat (Jabar) pada Minggu (6/9) pukul 09.00 WIB. Temuan ini didasarkan pada hasil kajian gambaran satelit RGB Himawari-9.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar, Teten Ali, mengeluarkan sejumlah imbauan bagi masyarakat guna meminimalisasi akibat kesehatan akibat hujan abu vulkanik.

"Jika terjadi hujan abu vulkanik, masyarakat diimbau menggunakan masker untuk melindungi saluran pernapasan. Selain itu, gunakan kacamata alias pelindung mata saat beraktivitas di luar rumah," ujar Teten, Minggu (6/9).

Teten juga meminta penduduk untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama hujan abu berlangsung. Ia menganjurkan agar pintu, jendela, dan ventilasi rumah ditutup rapat untuk mengurangi masuknya abu ke dalam ruangan. "Hindari mengemudi jika jarak pandang terganggu," tambahnya.

Masyarakat juga diingatkan untuk membersihkan abu dengan hati-hati tanpa mengibaskannya agar tidak kembali beterbangan. BPBD meminta penduduk terus memantau info resmi dari PVMBG/Badan Geologi, BMKG, dan BPBD setempat.

Penjelasan BMKG Soal Suara Dentuman di Bandung Raya

Selain sebaran abu, BMKG Stasiun Geofisika Bandung juga menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai bunyi dentuman nan terdengar di wilayah Bandung Raya pada Sabtu (5/9) awal hari, sekitar pukul 00.30–05.00 WIB. Berdasarkan pengecekan info monitoring, berikut adalah poin-poin hasil kajian BMKG:

  • Kondisi Cuaca: Cuaca di Bandung Raya terpantau cerah dengan arah angin bertiup dari Timur ke Barat. Terdeteksi adanya awan vulkanik di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK).
  • Aktivitas Kegempaan: Tidak terdeteksi adanya aktivitas seismik di wilayah Bandung. Namun, seismogram di Pulau Sibesi mencatat anomali pada pukul 23.08 dan 23.32 WIB nan tetap memerlukan kajian lebih lanjut.
  • Magnet Bumi: Teramati adanya gangguan alias anomali pada stasiun magnet bumi Sukabumi (SKB) dan Serang (SRG) periode 4 September pukul 23.00 WIB hingga 5 September pukul 02.00 WIB. Anomali ini dipastikan berasal dari dalam bumi lantaran tidak ada aktivitas angin besar matahari, namun belum dapat dikaitkan langsung sebagai penyebab dentuman.
  • Aktivitas Petir: Lightning Detector mencatat aktivitas petir lokal di Bandung dengan intensitas rendah. Sebaliknya, aktivitas petir nan cukup signifikan terdeteksi di sekitar Gunung Anak Krakatau pada periode nan berdekatan dengan laporan warga.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Dr. Suaidi Ahadi, menegaskan bahwa bunyi dentuman tersebut tidak menunjukkan indikasi kejadian gempa bumi di wilayah Bandung Raya. Fenomena cuaca lokal juga dinilai tidak cukup signifikan untuk memicu bunyi tersebut.

"Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau memang terdeteksi dari gambaran satelit dan aktivitas petir nan signifikan di sekitar GAK. Namun, lantaran arah angin saat erupsi berdesir dari Timur ke Barat, kemungkinan bunyi dentuman berasal dari sumber lain dan tetap memerlukan kajian lebih lanjut," pungkas Suaidi.

BMKG berkomitmen untuk terus memantau aktivitas kegempaan, magnet bumi, dan kondisi atmosfer serta berkoordinasi dengan lembaga mengenai untuk memberikan info nan komprehensif kepada masyarakat. (H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia