Erupsi Gunung Anak Krakatau: Penerbangan dan Operasional Bandara Terdekat Tetap Normal

Sedang Trending 40 menit yang lalu
 Penerbangan dan Operasional Bandara Terdekat Tetap Normal Ilustrasi(Antara)

KEMENTERIAN Perhubungan (Kemenhub) menyatakan seluruh operasional penerbangan di airport sekitar wilayah ibu kota tetap kondusif dan beraksi normal menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu (5/9). Keselamatan dan kelancaran jasa transportasi udara tetap menjadi prioritas utama di tengah pantauan aktivitas vulkanik.

Terkait kondisi penerbangan, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga kelancaran transportasi. 

"Kemenhub pastikan operasional bandara melangkah normal pasca terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau," ungkap Lukman di Baubau, Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan info ASHTAM Nomor VAWR3739 nan rilis pada pukul 09.10 WIB setelah laporan awal dari Stasiun Meteorologi BMKG, pemetaan jarak sebaran abu vulkanik terhadap akomodasi penerbangan utama adalah sebagai berikut:

- Bandara Internasional Soekarno-Hatta: Berjarak sekitar 31,4 km
- Bandara Halim Perdanakusuma: Berjarak sekitar 31,4 km
- Bandara Pondok Cabe: Berjarak sekitar 18,5 km

Khusus di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, pengelola telah melakukan uji observasi menggunakan paper test VA. Lukman memaparkan hasil pengetesan tersebut secara langsung. 

"Dan hingga saat ini tidak terdeteksi adanya abu vulkanik. Operasional penerbangan di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta tetap melangkah aman, normal, dan lancar," jelasnya.

Ditjen Perhubungan Udara saat ini bersiaga dan terus memperkuat koordinasi intensif berbareng BMKG, AirNav Indonesia, pengelola bandara, hingga maskapai. Langkah preventif terus digalakkan, dan Lukman secara unik meminta seluruh pihak mengenai untuk bersiaga.

"Serta mengikuti info resmi dan perkembangan terbaru melalui NOTAM/ASHTAM mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau dan potensi sebaran abu vulkanik."

Dari sisi aktivitas vulkanik, letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kali ini merupakan erupsi menerus berupa pancaran lava (lava fountain) nan dimulai sejak Jumat (4/9) malam pukul 23.07 WIB dan menjadi letusan dengan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026.

Pengamat Gunung Api Anak Krakatau di Serang, Muhammad Dika Nurzaman, merinci skala erupsi nan tengah terjadi. 

"Rangkaian letusan pada 4 hingga 5 September ini menjadi nan tertinggi secara intensitas sejak gunung tersebut berstatus siaga. Sejak tadi malam terjadi satu kali gempa letusan alias erupsi dengan amplitudo maksimum 70 milimeter. Durasi nan tercatat mencapai 21.600 detik," pungkas Dika. (Ant/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia