Putri Ayudya Angkat Kegelisahan Perempuan Jawa Milenial lewat Dapur Sumur Tutur

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Pementasan Dapur Sumur Tutur oleh Putri Ayudya di Jakarta, Sabtu (25/4/2026). Foto: Dok. Galeri Indonesia Kaya

Galeri Indonesia Kaya sukses menghadirkan pagelaran seni melalui pementasan pagelaran satu orang (one man show) berjudul Dapur Sumur Tutur. Pementasan ini merupakan sebuah karya nan menyoroti dinamika wanita lintas generasi di tengah perubahan nilai dan tradisi.

Pementasan Dapur Sumur Tutur diproduseri oleh Nosa Nurmanda dan disutradarai oleh Ben Bening dan dipentaskan oleh Putri Ayudya. Putri Ayudya selaku tokoh tunggal di pagelaran ini menuturkan bahwa karya ini lahir dari pengalaman individual dan hasil riset berbareng tim kreatif.

"Kisah ini berangkat dari kegelisahan sebagai wanita Jawa generasi milenial. Sebagian materi berasal dari pengalaman pribadi kami dan sebagian lainnya dari riset tentang wanita Jawa, generational trauma, serta proses re-parenting," kata Putri dalam keterangan rilis nan diterima kumparan, Senin (27/4).

Aktris peraih Piala Maya itu juga mengungkapkan makna di kembali titel pementasan tersebut. Kata Putri, Dapur Sumur Tutur menyajikan perubahan peran wanita dari masa lampau ke masa sekarang.

"Judul Dapur Sumur Tutur sendiri menggambarkan perubahan peran perempuan, dari nan semula terbatas di ranah domestik menjadi ruang berkata dan menyuarakan pengalaman," ujarnya.

Selama kurang lebih satu jam, penikmat seni diajak menyelami kisah tiga generasi wanita Jawa dalam satu family nan datang dalam momen sakral peringatan seribu hari wafatnya Eyang Kakung.

Melalui perspektif pandang YangTi, Ibuk, dan Mbak, pagelaran ini menghadirkan perbincangan jiwa tentang tradisi, relasi keluarga, serta pengalaman nan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pementasan Dapur Sumur Tutur oleh Putri Ayudya di Jakarta, Sabtu (25/4/2026). Foto: Dok. Galeri Indonesia Kaya

Dengan pendekatan pagelaran satu orang nan berkarakter imersif, karya ini menghadirkan pengalaman nan intim dan reflektif bagi penonton.

Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, mengatakan bahwa pementasan Dapur Sumur Tutur sejalan dengan komitmen Galeri Indonesia Kaya untuk menghadirkan karya seni pagelaran nan tidak hanya menghibur, tetapi juga mengangkat isu-isu nan dekat dengan kehidupan masyarakat.

"Melalui cerita nan individual dan pendekatan artistik nan kuat, kami berambisi pagelaran ini dapat membuka ruang refleksi bagi penikmat seni tentang dinamika keluarga, peran perempuan, serta perubahan nilai budaya nan terus berlangsung," ujar Renitasari.

Pertunjukan Dapur Sumur Tutur berangkat dari kegelisahan generasi milenial wanita Jawa terhadap tradisi nan seringkali diwariskan tanpa pemaknaan ulang. Dalam banyak kisah, nilai-nilai tersebut diteruskan tanpa memahami akar dan konteksnya, sehingga susah diadaptasi dengan perubahan era dan berpotensi menimbulkan generational trauma.

Pementasan Dapur Sumur Tutur oleh Putri Ayudya di Jakarta, Sabtu (25/4/2026). Foto: Dok. Galeri Indonesia Kaya

Pergeseran ranah wanita dari konco wingking menjadi mitra sejajar dalam kehidupan modern turut menjadi benang merah dalam pagelaran ini. Selain itu, rumor sandwich generation dan ageism diangkat sebagai refleksi kondisi sosial saat ini.

Nosa Nurmanda sebagai Produser menjelaskan soal Pemilihan tiga generasi wanita dan latar peringatan seribu hari kematian nan mempunyai makna simbolis di baliknya. Kata Nosa, Momen ini adalah ruang refleksi keluarga, ketika duka sudah mengendap dan bisa dimaknai ulang.

"Di situ lah kita memandang gimana nilai, luka, dan langkah pandang diwariskan antar generasi, terkadang tanpa disadari. Harapannya, melalui pagelaran ini penonton dapat lebih memahami bahwa tradisi dapat terus hidup dan relevan jika disikapi secara bijaksana," tandasnya.

Pementasan Dapur Sumur Tutur oleh Putri Ayudya di Jakarta, Sabtu (25/4/2026). Foto: Dok. Galeri Indonesia Kaya

Pertunjukan Dapur Sumur Tutur juga menjadi penutup rangkaian pagelaran seni akhir pekan di Galeri Indonesia Kaya sepanjang bulan April. Sebelumnya, Galeri Indonesia Kaya telah menghadirkan pagelaran Bukan Kartini oleh Wulangreh Omah Budaya, Makkunrai Nusanusa oleh Kinarya GSP, serta Close Friends oleh Shafiq Husein dan Ufa Sofura.

Ke depannya, Galeri Indonesia Kaya bakal terus menghadirkan beragam pagelaran seni setiap akhir pekan dengan info lebih lanjut nan dapat diakses melalui situs resmi Indonesia Kaya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan