Intervensi pasar obligasi bakal dilakukan pemerintah melalui Bond Stabilization Fund (BSF) untuk mencegah arus modal asing keluar alias capital outflow. Namun, perihal ini dinilai bisa berakibat pada APBN dalam jangka panjang.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, mengatakan BSF bisa berfaedah secara jangka pendek ialah menstabilkan nilai obligasi, di mana pemerintah bakal berkedudukan sebagai pembeli ketika permintaan berkurang.
"Proyeksi jangka pendek saya pikir ini tentunya bisa berfaedah dalam merendam volatilitas market, lantaran Bond establishment fund ini kan bisa berkedudukan sebagai set by buyer ketika terjadinya capital outflow," jelasnya kepada kumparan, Kamis (14/5).
Menurut Nafan, perihal ini bisa mencegah terjadinya kenaikan imbal hasil obligasi alias yield. Bahkan, BSF juga berfaedah untuk menjaga nilai tukar rupiah tidak terdepresiasi lebih jauh. Dengan begitu, secara jangka pendek, instrumen ini bisa menjadi sentimen positif untuk menjaga likuiditas pasar.
Hanya saja, dia menilai sentimen negatif diprediksi muncul secara jangka panjang, ialah salah satunya menjadi beban bagi finansial negara. Pasalnya, biaya untuk BSF kemungkinan disediakan melalui APBN.
"Masalahnya untuk jangka panjang, ini bisa menjadi fiscal burden. Itu risikonya. Kalau misalnya dikelola dengan efektif, tentunya BSF ini bisa memperkuat struktur pasar modal kita agar tidak terlalu mengalami depresiasi nan signifikan," tutur Nafan.
Dengan begitu, Nafan menilai BSF kudu dikelola dengan tepat dan efektif, serta kudu dititikberatkan pada transparansi dan akuntabilitas. "Apalagi jika misalnya BSF ini mengambil porsi besar dari APBN, kelak elastisitas fiskal pemerintah di sektor produktif lainnya bisa terganggu," imbuhnya.
Sementara itu, Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai bahwa BSF bisa menjadi salah satu solusi menjaga stabilitas pasar obligasi alias Surat Utang Negara (SUN) di Indonesia di tengah terjadinya tekanan dari sisi internal maupun eksternal.
"Kementerian Keuangan bisa melakukan intervensi. Misalkan terjadi penurunan nilai surat utang negara akibat capital outflow, akibat penanammodal asing nan melakukan keuntungan taking. Supaya harganya tidak anjlok, pemerintah bisa masuk ke situ," ungkapnya.
Dengan begitu, melalui pembelian kembali (buyback) alias pengalihan utang (debt switching), BSF dinilai dapat berakibat pada terjaganya nilai obligasi dan nantinya bisa menurunkan imbal hasil alias biaya utang nan perlu dibayarkan pemerintah.
"Untuk jangka pendek ini bagus sih. Setidaknya pada saat ada pressure, yield dari surat utang negara itu tidak mengalami lonjakan signifikan, jika yield melonjak dampaknya buat biaya utang itu jadi lebih mahal, meningkat," jelas Myrdal.
"Kalau biaya utangnya naik, pemerintah kelak bayar biaya utangnya lebih besar. Ini bakal mempengaruhi juga post pembayaran fiskal untuk APBN, kelak pengaruhnya bisa ke primary balance-nya pemerintah," imbuhnya.
Lonjakan imbal hasil, lanjut Myrdal, juga bisa berakibat jelek pada sektor ril. Sebab, jika kenaikannya jauh di atas biaya penanganan deposit untuk bank, perbankan bakal menggeser kegunaan intermediari dari nan sebelumnya konsentrasi untuk memberikan pinjaman ke sektor ril. Dengan begitu, BSF dinilai bisa menjaga suasana upaya nan sehat.
Dia menuturkan, dengan terjaganya imbal hasil obligasi, BSF juga bisa menjaga kredibilitas obligasi nasional. Misalnya, dengan sasaran imbal hasil SUN 10 tahun sesuai APBN sebesar 6,9 persen, intervensi pemerintah bisa menjaga lonjakannya tetap di bawah 7 persen.
"Saat terjadi market panic terutama dari aspek eksternal, yield kita itu bisa dijaga misalkan tadinya untuk 10 tahun 6,7 persen, bisa dijaga itu tidak melampaui 7 persen lantaran ada langkah stabilisasi nan dilakukan oleh pemerintah termasuk juga oleh BI. Jadi kredibilitas dari pasar kita juga bisa terjaga," tegas Myrdal.
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pemerintah sedang mencoba intervensi pasar sekunder obligasi untuk mencegah arus modal asing keluar nan bakal menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah semakin signifikan.
“Kita sedang ambil langkah untuk membantu memperkuat juga dari sisi bond market, mungkin kita coba lihat apakah kita bisa masuk untuk membantu apa nggak, tapi ke depan bakal ada perbaikan,” jelasnya kepada awak media, Rabu (13/5).
Purbaya menilai, BSF bakal membikin nilai obligasi di Indonesia lebih stabil dan menarik bagi investor. Dia meyakini bahwa nilai tukar rupiah bisa menguat kembali.
“Kita ada masuk ke stabilize bond market kan, jika bond tidak stabil orang itu menjual, takut capital loss nan keluar juga berkurang, itu hitungan saya. Apalagi jika bond menguat menguat ada potensi capital gain selain itu mereka biasa dapetnya capital gain,” tuturnya.
50 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·