Kita Tidak Kehilangan Pengetahuan Lingkungan, Kita Kehilangan Hati Nurani

Sedang Trending 41 menit yang lalu
Ilustrasi banjir bukan lagi kejutan, dia telah menjadi bagian dari langkah manusia modern hidup. Foto: Generated by AI

Anak-anak sekolah difoto ibunya dengan latar belakang banjir. Fotonya lucu. Disebarkan. Mendapat tanda hati.

Tidak ada nan betul-betul heran lagi.

Barangkali nan paling tenggelam bukan rumah-rumah itu, melainkan keahlian kita untuk merasa terganggu.

Di Jakarta, orang sudah hafal gang mana nan lebih dalam, jalan mana nan tetap bisa dilalui. Di sungai-sungai Jawa dan Madura, popok bayi melayang-layang berbareng kantong kresek dan sisa stirofoam dari nasi balut infak kemarin. Kita mengirim makanan untuk sesama, tapi lupa bahwa wadah makanan itu bakal memperkuat lima ratus tahun setelah kita mati. Air masuk ke rumah-rumah, dan manusia tetap sibuk memastikan hubungan internetnya stabil.

Banjir bukan lagi bencana. Ia sudah menjadi bagian dari navigasi harian, seperti kemacetan dan polusi. Sesuatu nan dikeluhkan, difoto, diunggah, lampau dilupakan sampai musim hujan berikutnya.

Ada kekeliruan besar nan selama ini menggerakkan seluruh percakapan kita soal lingkungan. Kita percaya masalahnya adalah ketidaktahuan bahwa jika cukup banyak orang diberi info soal pemanasan global, polusi mikroplastik, kepunahan spesies, sesuatu bakal berubah. Maka kita produksi dokumenter, cetak poster daur ulang, viralkan foto beruang kutub nan kurus di atas es nan mencair.

Namun, pengetahuan rupanya tidak otomatis melahirkan nurani.

Kita tahu semuanya. Tentang plastik. Tentang karbon. Tentang laut nan meninggal perlahan. Manusia modern mungkin adalah jenis paling terdidik dalam sejarah—dan pada saat nan sama, paling lihai merasionalisasi kehancuran nan dihasilkannya sendiri.

Ilustrasi Bumi. Foto: Anton Balazh/Shutterstock

Bumi tidak dihancurkan oleh manusia nan tidak tahu. Ia dihancurkan oleh manusia nan tahu, lampau membiasakan diri untuk tidak peduli.

Dan saya mengatakan ini sembari sadar bahwa saya sendiri tidak sepenuhnya bebas dari pola nan saya kritik. Saya juga menikmati kenyamanan nan dibangun dari rantai ekstraksi panjang nan nyaris tak terlihat. Terkadang, saya takut generasi setelah kita tidak bakal mewarisi bumi nan rusak, tetapi mewarisi keahlian untuk menganggap kerusakan itu normal. Bahwa itulah nan betul-betul diwariskan: bukan krisis planetnya, melainkan anestesinya.

Filsuf Jerman, Max Weber, menyebut modernitas sebagai Entzauberung der Welt—penghilangan keajaiban dari dunia. Alam, dalam epistemologi pra-modern, bukan sekadar objek. Ia adalah subjek nan berbicara, nan dihuni makna di luar kalkulasi manusia. Hutan bukan simpanan kayu. Sungai bukan saluran air. Keduanya adalah sistem kehidupan nan mengatur keseimbangan tak terlihat, nan tak boleh sembarangan diperlakukan.

Modernitas mengakhiri itu semua. Alam direduksi menjadi natural resources dan kata itu sudah mengandung vonis sejak awal: bahan baku nan menunggu diekstraksi.

Namun, nan lebih rawan dari penghilangan keajaiban itu adalah penggantinya.

Yaitu kenyamanan.

Peradaban modern dibangun di atas satu janji sederhana: manusia tidak perlu lagi merasa tidak nyaman. Dan demi memenuhi janji itu, kita membakar hutan, menguras laut, menggali gunung, mendorong sawit hingga ke tepi kediaman terakhir orang utan, menambang nikel dari perut pulau-pulau mini nan tanahnya tidak pernah sempat dikenali namanya.

Krisis ekologi mungkin pada akhirnya hanyalah akumulasi dari miliaran keputusan mini manusia nan terlalu takut hidup sedikit lebih sulit.

Bukan kejahatanlah nan menghancurkan bumi, melainkan ketidakmampuan menanggung batas.

Dan sekarang, apalagi alam itu sendiri telah dikonversi menjadi estetika.

Ilustrasi hutan. Foto: Martinus Sallo/Shutterstock

Manusia modern tidak lagi memandang rimba sebagai ekosistem, tetapi melihatnya sebagai konten drone resolusi tinggi. Matahari terbenam kudu cukup dramatis untuk layak diunggah. Gunung kudu cukup fotogenik untuk worth dikunjungi. Hari ini, manusia lebih sering merekam hujan ekstrem daripada memikirkan kenapa musim berubah. Kita hidup di era ketika kebakaran rimba bisa menjadi konten cinematic dengan musik nan menenangkan di latar belakangnya.

Kamera menjadi langkah paling efektif untuk menciptakan jarak emosional dari kenyataan.

Empati berubah menjadi performa. Kepedulian berubah menjadi konten. Dan konten seperti sampah terus diproduksi, terus mengalir, tanpa pernah betul-betul terurai.

Kemudian, ada soal agama. Dan ini perlu dikatakan bukan sebagai serangan, melainkan sebagai duka.

Hampir seluruh tradisi besar keagamaan mempunyai akar teologis nan menempatkan alam sebagai sesuatu nan suci. Teks-teksnya ada. Perintahnya tertulis. Namun, nan terjadi adalah kompromi nan memukau.

Kita membangun masjid dan gereja dengan pendingin udara nan menyala sepanjang hari, lampau berbincang tentang kesederhanaan spiritual di dalamnya. Pengajian-pengajian besar menghasilkan gunung botol air sekali pakai setiap minggunya. Ritual-ritual suci meninggalkan jejak sampah nan memperkuat jauh lebih lama dari doa-doa nan dilantunkan.

Barangkali masalahnya bukan lantaran manusia modern kehilangan agama, melainkan lantaran kepercayaan sendiri terlalu lama dipisahkan dari tanah, sungai, dan pohon. Spiritualitas menjadi sangat langit-sentris, sangat sibuk dengan keselamatan vertikal, sehingga bumi diperlakukan sekadar ruang transit menuju tujuan nan lebih penting. Manusia terlalu sibuk mencari jalan menuju surga sampai lupa menjaga satu-satunya bumi nan betul-betul dia tinggali.

Di sinilah letak krisis nan paling jarang dibicarakan: bukan krisis data, bukan krisis teknologi, melainkan krisis khayalan moral.

Peradaban modern sangat maju dalam memperkirakan keuntungan, tetapi sangat jelek dalam membayangkan kehilangan. Kita mempunyai simulasi digital untuk masa depan pasar saham, tetapi tidak mempunyai kapabilitas emosional untuk membayangkan kepunahan sebagai pengalaman manusia nan nyata. Manusia modern bisa membayangkan kota di Mars, tetapi kandas membayangkan cucunya hidup tanpa air bersih.

Ilustrasi air bersih. Foto: Shutterstock

Psikolog Stanley Cohen menyebutnya sebagai states of denial—bukan ketidaktahuan, melainkan pengetahuan nan sengaja tidak diintegrasikan ke dalam kesadaran moral. Kita tahu rimba dibabat untuk perkebunan sawit. Kita tahu sawit itu memasok bahan baku produk nan kita gunakan setiap pagi. Kita tahu, kita tetap memakai produk itu, dan kita merasa baik-baik saja. Karena di antara pengetahuan dan tindakan, ada jarak nan sangat panjang, dan jarak itu diisi oleh normalisasi, abstraksi, serta sistem nan tidak mempunyai wajah tunggal untuk disalahkan.

Tidak ada seorang pun nan merasa bersalah lantaran tidak ada seorang pun nan merasa betul-betul bertanggung jawab.

Ini bukan kegagalan sistem semata, melainkan juga kegagalan karakter kolektif. Kegagalan nurani nan terorganisir dengan sangat rapi.

Saya tidak tahu gimana akhir cerita ini.

Yang saya tahu: selama kita terus mereduksi krisis ini menjadi soal teknis panel surya, izin emisi, sedotan stainless steel, kita bakal terus melewatkan lapisan terdalam persoalannya. Solusi teknis tanpa transformasi moral hanyalah langkah memperlambat kehancuran dengan lebih elegan.

Bumi, pada akhirnya, mungkin bakal pulih. Hutan tumbuh kembali dalam skala geologis. Laut menemukan keseimbangannya lagi setelah tekanan berkurang. Alam mempunyai waktu nan tidak dimiliki manusia.

Yang belum tentu selamat adalah kita sendiri.

Barangkali, hariakhir ekologis tidak datang ketika bumi berakhir menopang manusia, tetapi ketika manusia berakhir merasa terganggu oleh kehancurannya sendiri. Bukan sebagai ledakan besar, bukan sebagai akhir nan dramatis, melainkan sebagai sesuatu nan jauh lebih sunyi—spesies nan perlahan kehilangan keahlian untuk merasa bahwa ada sesuatu nan telah hilang.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan