Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan salah satu pengalaman nan kurang menyenangkan selama setahun menjabat sebagai Bendahara Negara. Ia mengaku sempat dicap sombong lantaran kerap menyampaikan optimisme mengenai kondisi ekonomi Indonesia.
Menurut Purbaya, sikap tersebut bukan tanpa alasan. Saat pertama kali dilantik sebagai Menteri Keuangan, pemerintah baru saja menghadapi gelombang demonstrasi besar sehingga diperlukan langkah sigap untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat dan pelaku pasar terhadap perekonomian nasional.
"Pertama kan waktu saya jadi menteri, itu kan kita baru menghadapi demo besar. Saya mesti kembalikan confidence ke masyarakat secepat-cepatnya," kata Purbaya kepada pewarta, Jakarta Barat, Selasa (8/9/2026).
Sebagai ekonom, Purbaya mengaku menerapkan teori macroeconomics of self-fulfilling prophecies, ialah membentuk ekspektasi positif agar pelaku ekonomi bergerak ke arah nan diharapkan. Adapun, teori ini berasal dari bukunya nan berjudul The Macroeconomics of Self-Fulfilling Prophecies, terbit pada 1993.
"Caranya bagaimana? Saya terapkan pengetahuan nan sudah saya pelajari, macroeconomics of self-fulfilling prophecies. Jadi, kita membentuk ekspektasi, dari ekspektasi itu kelak biasanya ekonomi nan melangkah ke arah sana," ujarnya.
Namun, membangun ekspektasi positif di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian pasar bukan perkara mudah. Ia mengakui kudu tampil lebih vokal dan optimistis di ruang publik, nan kemudian memunculkan beragam penilaian negatif.
"Dalam waktu dekat kan susah untuk itu. Ya terpaksa saya omong gede, nan dibilang orang sombong, 'itu Purbaya sombong banget'. Itu bukan sombong, tapi kreasi untuk membentuk ekspektasi ke depan, ke arah nan positif," tegasnya.
Purbaya menjelaskan, ekspektasi memegang peranan krusial dalam menentukan arah perekonomian. Ketika masyarakat dan penanammodal percaya kondisi ekonomi bakal membaik, mereka bakal lebih berani membelanjakan uang, melakukan investasi, maupun memperluas usaha.
Sebaliknya, jika kebanyakan pelaku ekonomi meyakini ekonomi bakal memburuk, maka perlambatan bisa betul-betul terjadi lantaran masyarakat menahan konsumsi dan penanammodal menunda ekspansi.
"Investor tidak takut investasi, masyarakat tidak takut belanja, perusahaan pun tidak takut ekspansi lantaran mereka pikir ekonomi bakal membaik ke depan. Tapi jika semua berpikir ekonomi bakal meresesi, ekonomi bisa betul-betul resesi," kata Purbaya.
Ia mencontohkan, pemerintah telah mengambil sejumlah langkah untuk menjaga kepercayaan pasar, salah satunya dengan memindahkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke bank-bank pelat merah pada September tahun lampau guna memperkuat likuiditas di sistem keuangan.
Meski demikian, upaya tersebut sempat menghadapi tantangan baru ketika pasar merespons sejumlah perkembangan dunia dan penilaian lembaga pemeringkat internasional seperti MSCI, Fitch Ratings, dan Moody's.
Purbaya menegaskan, menjaga optimisme tetap menjadi bagian krusial dari strategi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nan lebih kuat dan berkelanjutan.
(chd/haa)
[Gambas:Video CNBC]
52 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·