Gerakan Tutup Mulut (GTM) mungkin sudah menjadi kejadian nan cukup umum dijumpai oleh para orang tua. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan perilaku anak nan menolak makan, mulai dari menutup mulut, menyemburkan makanan, hingga melepehnya.
Kondisi tersebut biasanya terjadi ketika anak mulai disapih alias memasuki fase pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Di fase ini, anak tetap perlu beradaptasi dengan beragam rasa, tekstur, dan langkah makan nan baru sehingga waktu makan bisa menjadi tantangan tersendiri.
Situasi ini tentu bisa membikin orang tua khawatir, apalagi jika GTM berjalan cukup lama. Sebab, kondisi tersebut dapat membikin kebutuhan nutrisi anak nggak terpenuhi dan berisiko memengaruhi berat badannya.
Jika si mini sedang mengalami perihal serupa, jangan langsung panik ya, Moms. Sejumlah ibu-ibu nan tergabung dalam organisasi kawan kumparanMOM punya beberapa tips nan bisa Anda coba untuk menghadapi GTM. Yuk, simak selengkapnya di bawah ini!
Cara Mengatasi Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada Anak
Tips pertama datang dari kawan kumparanMOM Ayu (36). Sebagai ibu dari anak nan sekarang berumur 6 tahun, Ayu tentu sudah cukup sering menghadapi momen ketika si mini susah makan, salah satunya saat anaknya nggak menyukai nasi putih.
Untuk menyiasatinya, Ayu mencoba beragam jenis makanan hingga kudu mengeluarkan budget lebih untuk menemukan makanan nan sesuai dengan selera si kecil.
Usahanya pun nggak sia-sia. Ia akhirnya menemukan preferensi makanan anaknya nan rupanya lebih menyukai kuliner mancanegara. “Dia doyan banget disuapin nasi kebuli, nasi kabsah, zuppa soup,” kata Ayu.
Sementara itu, kawan kumparanMOM Arvina (40) punya langkah berbeda saat menghadapi anak nan sedang GTM. Ketika si mini mulai menunjukkan penolakan untuk makan, Arvina memilih mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu.
Beberapa perihal nan biasanya dia perhatikan antara lain:
Apakah anak sedang mengalami sariawan?
Apakah ada radang tenggorokan nan membuatnya susah alias terasa perih saat menelan?
Apakah anak mulai jenuh dengan menu nan itu-itu saja?
Apakah makanan nan diberikan sudah cukup bervariasi?
Apakah anak terlalu banyak minum susu sehingga sudah merasa kenyang?
Apakah suasana alias kondisi tempat makan membikin anak kurang nyaman, misalnya terlalu dingin?
Setelah mengetahui penyebabnya, Arvina kemudian menyesuaikan langkah untuk mengatasi GTM si kecil. Mulai dari memberikan jarak sebelum makan, menawarkan minuman hangat, hingga mencoba menyuapi alias membiarkan anak makan sendiri selama 5–10 menit.
Nggak kalah penting, dia turut memastikan makanan nan diberikan tetap hangat. Menurutnya, makanan dengan suhu nan pas bisa membikin hidangan terasa lebih nikmat dan menggugah selera makan anak.
Untuk membantu meningkatkan nafsu makan, Arvina juga mulai mengenalkan rasa pedas melalui sambal alias saus saat anak memasuki usia 2 tahun. “Kalau anakku 2 tahun dah mulai suka sambal sama saus meski dikit, kepedesan tapi jadi nafsu makan,” tuturnya.
Temukan beragam inspirasi parenting dari ribuan ibu di seluruh Indonesia, gabung organisasi kawan kumparanMOM di kum.pr/mom4
52 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·