Ilustrasi(Magnific.com)
BAGI banyak orang, melewatkan sarapan mungkin hanya dianggap sebagai kebiasaan akibat kesibukan. Namun, bagi penderita Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), lambung nan terlalu lama kosong justru dapat memperburuk gejala. Rasa panas di dada (heartburn), makanan alias cairan nan naik kembali ke kerongkongan, hingga sensasi pahit di mulut bisa muncul lebih sering jika pola makan tidak teratur.
Di lansir NCBI Bookshelf, GERD merupakan kondisi ketika isi lambung mengalir kembali ke kerongkongan secara berulang sehingga menyebabkan iritasi pada lapisan kerongkongan. Penyakit ini menjadi salah satu gangguan pencernaan nan paling sering ditemui dalam praktik klinis di seluruh dunia.
Apa nan Terjadi saat Lambung Terlalu Lama Kosong?
Tubuh tetap memproduksi masam lambung meski seseorang belum makan. Ketika sarapan dilewatkan, lambung berada dalam kondisi kosong lebih lama setelah berpuasa semalaman.
Pada penderita GERD, refluks terjadi ketika isi lambung bergerak kembali ke kerongkongan akibat sistem pelindung di area sfingter esofagus bagian bawah tidak bekerja secara optimal. Kondisi ini menyebabkan masam lambung lebih mudah mengiritasi kerongkongan dan memunculkan indikasi seperti nyeri ulu hati serta regurgitasi.
Karena itu, menjaga agenda makan tetap teratur menjadi salah satu langkah krusial untuk membantu mengurangi gelombang kambuhnya gejala.
Risiko Porsi Makan Berlebihan
Melewatkan sarapan sering kali membikin seseorang merasa sangat lapar saat siang hari. Akibatnya, porsi makan menjadi jauh lebih banyak dibanding biasanya.
Menurut penjelasan StatPearls di NCBI Bookshelf, peningkatan tekanan di dalam lambung dapat mempermudah isi lambung naik ke kerongkongan, terutama pada orang nan sudah mempunyai gangguan kegunaan sfingter esofagus bagian bawah. Oleh lantaran itu, penderita GERD umumnya lebih dianjurkan makan dalam porsi mini tetapi lebih sering daripada langsung mengonsumsi makanan dalam jumlah besar.
Kenali Gejala GERD sejak Dini
Tidak semua penderita GERD mengalami keluhan nan sama. Namun, dua indikasi paling umum adalah heartburn alias rasa terbakar di dada dan regurgitasi, ialah naiknya makanan alias cairan lambung ke kerongkongan hingga mulut.
Selain itu, sebagian penderita juga dapat mengalami batuk kronis, bunyi serak, nyeri dada, sensasi mengganjal di tenggorokan, hingga gangguan tidur akibat refluks nan terjadi pada malam hari. Jika berjalan terus-menerus tanpa penanganan, GERD dapat meningkatkan akibat komplikasi seperti peradangan kerongkongan hingga Barrett's esophagus, ialah perubahan pada lapisan kerongkongan nan dapat meningkatkan akibat kanker esofagus. Hal ini juga dijelaskan dalam StatPearls dan National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK).
Pola Hidup Sehat Menjadi Kunci Mengendalikan GERD
Selain menjalani pengobatan sesuai rekomendasi dokter, perubahan style hidup mempunyai peran krusial dalam mengontrol GERD.
Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), penderita GERD dianjurkan menjaga berat badan ideal, makan secara teratur, menghindari makan terlalu dekat dengan waktu tidur, berakhir merokok, serta membatasi makanan alias minuman nan diketahui memicu refluks, seperti makanan tinggi lemak, alkohol, alias minuman berkafein.
Dengan menerapkan kebiasaan tersebut, termasuk tidak lagi melewatkan sarapan, akibat kambuhnya indikasi GERD dapat berkurang dan kualitas hidup penderita pun menjadi lebih baik.
Sumber: NCBI Bookshelf, National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·