Pukulan Telak untuk Netanyahu: Iran Bertahan, Trump Berbalik Arah

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang nan berjalan nyaris empat bulan dinilai tidak hanya mengguncang strategi Israel terhadap Teheran, tetapi juga berpotensi menghancurkan fondasi politik nan selama puluhan tahun dibangun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Dilansir Reuters, Kamis (25/6/2025), sejumlah analis, mantan pejabat AS, dan diplomat menilai korban terbesar dari kesepakatan AS-Iran justru bisa jadi bukan strategi Israel menghadapi Iran, melainkan gambaran politik Netanyahu sebagai pemimpin Israel nan dianggap bisa membengkokkan kebijakan Washington sesuai kepentingannya dalam rumor Iran.

Selama bertahun-tahun, Netanyahu membangun identitas politiknya di atas klaim bahwa dirinya adalah satu-satunya pemimpin Israel nan bisa menjaga keselarasan strategis antara AS dan Israel mengenai Iran. Dengan membangun hubungan erat dengan Partai Republik, Netanyahu memosisikan diri sebagai tokoh nan dapat memengaruhi presiden-presiden AS dari beragam periode pemerintahan.

Ia secara konsisten menegaskan bahwa hanya tekanan militer berkepanjangan nan dapat menahan ambisi Teheran.

Pada puncak pengaruhnya, para diplomat apalagi menjulukinya sebagai "pembisik Amerika", ialah pemimpin Israel nan cukup mengangkat telepon untuk memastikan kalkulasi strategis Washington sejalan dengan kepentingan Israel. Tidak ada perdana menteri Israel lain nan begitu sering berpidato di Kongres AS alias membangun modal politik sedemikian besar di sistem politik Amerika.

Namun, menurut para analis, kesepakatan sementara nan dicapai Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang nan dimulai oleh AS dan Israel pada Februari lampau menunjukkan bahwa narasi tersebut sekarang telah berbalik arah.

Alih-alih membentuk kebijakan Washington terhadap Iran, Netanyahu sekarang dinilai terpaksa menerima arah kebijakan nan ditentukan Presiden AS Donald Trump, nan makin mendorong penyelesaian diplomatik dan memandang keberatan Israel sebagai halangan nan kudu dikelola.

Di dalam negeri Israel, situasi Netanyahu juga dinilai makin sulit.

Mantan pejabat AS Dennis Ross mengatakan Netanyahu sekarang terjepit antara Presiden Trump nan mau mengakhiri bentrok dan pedoman politik domestiknya nan menolak beragam corak konsesi, terutama mengenai Lebanon.

Menurut Ross, jika Netanyahu memilih menarik diri dari konflik, dia berisiko menghadapi reaksi politik di dalam negeri. Sebaliknya, jika memilih meningkatkan eskalasi, dia berpotensi berkonfrontasi langsung dengan Washington.

Perang nan semula diharapkan Netanyahu bakal memperkuat warisannya sebagai pemimpin nan menghadapi Iran justru bisa dikenang sebagai bentrok nan meruntuhkan salah satu sumber utama kekuatan politiknya.

Dalam kondisi terisolasi secara internasional, dibatasi oleh sekutu terdekatnya sendiri, dan menghadapi pemilu pada musim gugur mendatang, aset politik nan selama ini menopang pekerjaan Netanyahu sekarang justru disebut telah berubah menjadi beban terbesarnya.

Pada awal perang melawan Iran, Netanyahu menjanjikan kemenangan mutlak. Namun hingga sekarang dia dinilai kandas mewujudkan runtuhnya sistem pemerintahan Iran, tidak sukses mengalahkan Hizbullah di Lebanon, dan belum bisa menjamin kepulangan kondusif penduduk Israel nan tinggal di wilayah utara negara tersebut.

Mantan penasihat Netanyahu, Aviv Bushinsky, menilai akibat kesepakatan tersebut sangat besar bagi posisi politik sang perdana menteri.

"Kesepakatan AS-Iran adalah pukulan telak bagi Netanyahu," kata Bushinsky.

"Ia bukan hanya kalah dalam perang melawan Iran, tetapi juga kehilangan Trump sebagai teman. Kini dia tidak hanya terisolasi secara internasional, tetapi juga terjebak dalam perselisihan besar dengan Trump."

Dalam konvensi pers bulan ini, Netanyahu menggambarkan hubungannya dengan Trump sebagai hubungan antara dua mitra nan "sering sepakat dan terkadang tidak sepakat". Ia juga mengatakan telah terjadi kampanye sistematis nan bermaksud mengecilkan apa nan disebutnya sebagai "pencapaian besar" Israel terhadap Iran dan kelompok-kelompok sekutunya.

Sementara itu, seorang pejabat Gedung Putih menegaskan bahwa hubungan Trump dan Netanyahu tetap kuat. Pejabat tersebut mengatakan pasukan militer Israel merupakan "mitra nan luar biasa" dalam perang nan telah "menghancurkan keahlian militer rezim Iran."

Sementara itu, para analis menilai perbedaan antara Trump dan Netanyahu sekarang tidak lagi sekadar persoalan hubungan pribadi, melainkan perbedaan tujuan strategis nan makin jelas.

Trump berupaya mengakhiri keterlibatan AS dalam bentrok Timur Tengah, sementara Netanyahu tetap memandang tekanan berkepanjangan terhadap Iran dan Hizbullah sebagai kebutuhan vital bagi keamanan Israel. Washington diketahui telah bermusyawarah langsung dengan Teheran, memasukkan bentrok Lebanon ke dalam kerangka perundingan nan lebih luas, serta membangun sistem penyelesaian sengketa gencatan senjata.

Menurut tiga sumber diplomatik kawasan, langkah-langkah tersebut makin menyingkirkan Israel dari sejumlah keputusan penting.

Negara nan sebelumnya memandang Netanyahu sebagai perantara nan tak tergantikan kini, menurut sumber-sumber tersebut, mulai melihatnya sebagai halangan bagi kesepakatan nan mau dipertahankan Washington.

Trump juga beberapa kali secara terbuka mengkritik operasi militer Israel di Lebanon. Wakil Presiden AS JD Vance apalagi menekankan bahwa hubungan AS-Israel mempunyai batas tertentu.

Ia memperingatkan para pengkritik kesepakatan di Israel agar tidak "menyerang satu-satunya sekutu kuat nan tetap mereka miliki di dunia."

Meski demikian, dua pejabat Israel nan mengetahui pandangan Netanyahu mengatakan sang perdana menteri tidak terlalu cemas bahwa komentar Trump dan Vance bakal berubah menjadi perubahan kebijakan konkret, seperti penundaan pengiriman senjata ke Israel, meskipun operasi militer di Lebanon terus berlanjut.

Trump sendiri telah menunjukkan kesediaannya untuk mengesampingkan prioritas Israel jika dianggap bertentangan dengan kepentingan Amerika Serikat.

Dalam wawancara televisi bulan ini, Trump mengatakan bahwa andaikan dia meminta Netanyahu "melakukan sesuatu, dia melakukannya."

Direktur Program Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, menilai Iran kemungkinan bakal memanfaatkan celah nan mulai muncul antara Washington dan Tel Aviv.

Menurutnya, Teheran bakal berupaya menggambarkan setiap operasi militer Israel di Lebanon sebagai upaya menggagalkan diplomasi Trump, sehingga Gedung Putih dipaksa memilih antara mendukung Israel alias menjaga kesepakatan dengan Iran.

Dampak kesepakatan AS-Iran juga dinilai menyentuh inti strategi jangka panjang Netanyahu.

Ia mempertaruhkan masa depan politiknya pada dua tujuan utama, ialah melemahkan alias apalagi menggulingkan kepemimpinan Iran serta mewujudkan normalisasi hubungan Israel dengan Arab Saudi melalui ekspansi Kesepakatan Abraham.

Namun kedua sasaran tersebut belum terwujud. Para pemimpin Iran justru keluar dari bentrok dalam posisi nan tetap bertahan, sementara normalisasi hubungan dengan Arab Saudi tetap jauh dari kenyataan.

Di area Timur Tengah, perubahan arah mulai terlihat. Negara-negara nan sebelumnya diharapkan Netanyahu makin dekat dengan Israel, terutama Arab Saudi, sekarang condong lebih berhati-hati. Mereka memperlambat proses normalisasi hubungan dengan Israel sembari membuka kembali jalur komunikasi dengan Teheran.

Sumber-sumber Teluk mengatakan logika nan selama ini menjadi dasar Kesepakatan Abraham mulai terkikis akibat perang Gaza, belum terselesaikannya rumor aneksasi Tepi Barat, serta meningkatnya persepsi bahwa Israel di bawah Netanyahu justru lebih banyak menimbulkan akibat dibandingkan faedah dalam tatanan regional nan baru.

Seorang pejabat Iran apalagi menilai upaya Netanyahu memperluas Kesepakatan Abraham telah mengalami kemunduran lantaran sejumlah negara sekarang berupaya mencari posisi dalam kerangka regional baru nan lebih dekat dengan Iran.

"Ini bukan hanya kemenangan bagi Iran. Ini adalah kegagalan bagi Netanyahu," kata pejabat tersebut.

Ia menambahkan bahwa Republik Islam Iran bukan hanya bisa memperkuat dari perang, tetapi juga keluar dari bentrok sebagai pemain regional nan lebih berpengaruh dibanding sebelumnya.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News