Puisi Berbasis Riset Selami Duka Anak Korban Perundungan

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Puisi Berbasis Riset Selami Duka Anak Korban Perundungan ilustrasi korban perundungan.(MI)

KARYA ilmiah pengajar Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Ilmu Pendidikan UNU Yogyakarta, Hidar Amaruddin, tentang upaya pencegahan perundungan bisa menembus jurnal bergengsi internasional. Uniknya, karya ilmiah tersebut disusun dalam corak sajak, sehingga diharapkan bisa menyentuh emosi pendidik dan pengambil kebijakan untuk mengatasi masalah di bagian pendidikan tersebut.  

Sajak berjudul Lingkaran nan merupakan bagian dari puisi panjang dari karya ilmiah Circle, Screen, and Scar: Radical Casework in a Spectacle Society. Pada medio Juli ini, karya ini terbit di Journal of Progressive Human Services (Taylor & Francis Group) volume 37. Terindeks di Scopus kuartil 2 (Q2), jurnal internasional ini berfokus pada riset tentang praktik kemanusiaan di bagian sosial dan pendidikan.

Hidar menjelaskan, karya ini berbentuk puisi panjang ilmiah, sebuah pendekatan arts-based scholarship di mana pengalaman lapangan dan kajian kritis disampaikan melalui karya sastra alias bahasa lirik, bukan laporan penelitian konvensional.

Akan tetapi, di Indonesia, khususnya di bagian pendidikan dasar, karya ilmiah sastrawi ini  sangat jarang dan belum banyak dipilih akademisi untuk publikasi ilmiah.

“Arts-based research seperti ini sudah menjadi tradisi nan cukup mapan dalam penelitian kualitatif di luar negeri. Jurnal-jurnal internasional tertentu, termasuk Journal of Progressive Human Services, memang menerima karya semacam ini lantaran dinilai bisa menangkap dimensi pengalaman manusia nan sering lenyap dalam bahasa akademik biasa,” papar Hidar dalam keterangannya, Selasa (4/8).

Dalam karya tersebut, narasi sajak mengisahkan anak berjulukan "A” nan menjadi korban perundungan. Kisah itu terbagi dalam empat bagian, ialah Circle, Screen, Scar, dan Aftercare, nan mengikuti pengalaman A menjadi korban perundungan di lorong sekolah, lantas viral di media sosial, masuk ke laporan resmi sekolah, hingga perundungan itu menjadi jejak luka nan menetap.

Hidar memaparkan, buahpikiran karya ini lahir dari pergulatannya selama bertahun-tahun dalam meneliti perundungan, termasuk saat melakukan riset doktoral. “Puisi ini adalah kesaksian reflektif nan dibangun dari beragam perjumpaan saya selama meneliti dan mendampingi persoalan perundungan di sekolah dasar,” ujarnya.

Selama riset, dia mencatat pengalaman sejumlah anak nan menjadi  korban perundungan dan merangkumnya sebagai karakter A di karya tersebut. Sejumlah perincian disamarkan untuk melindungi identitas anak, namun kebenaran emosional tetap dipertahankan.

“Ada hal-hal nan saya saksikan di lapangan nan terasa tidak selesai jika hanya ditulis sebagai tulisan riset. Karena outputnya puisi, ini memungkinkan saya bersaksi tanpa mengekspos anak siapa pun, sekaligus menghadirkan apa nan tidak bisa dimuat secara kuantitatif, seperti gimana rasanya luka nan ‘mengikuti’ anak,” tuturnya.

Menurutnya, dari riset ini dia hendak mengungkapkan bahwa bahasa institusional sering kandas menampung apa nan sesungguhnya dialami anak korban perundungan. Tak kalah menyedihkan, platform digital mengubah penderitaan anak menjadi tontonan.

“Sebagai tawaran, puisi ini membayangkan pemulihan bukan lewat pengawasan dan hukuman, melainkan lewat kedekatan, tanggung jawab bersama, dan praktik restoratif nan lambat namun sungguh-sungguh,” ungkapnya.

Hidar menegaskan bahwa karya ini ditujukan bagi pendidik, peneliti, dan praktisi pendidikan nan hendak memahami perundungan secara lebih dalam dan berupaya mencegahnya di lingkungan pendidikan.

“Puisi ini diharapkan menjadi pengingat bagi pembimbing dan pihak sekolah bahwa penanganan perundungan tidak selesai hanya dengan rekaman CCTV dan berkas laporan. nan menyembuhkan anak korban perundungan adalah kehadiran orang dewasa nan dekat dan mau mendengarkan,” ujar Hidar.

Sajak berbasis riset ini merupakan bagian dari penelitian panjangnya tentang perundungan di kalangan siswa. Karya tersebut bakal dilanjutkan oleh riset mendalam dan empiris tentang perundungan di delapan SD di Yogyakarta.

Penelitian berjudul “Children, Screens, and Everyday Bullying: Digital Popular Culture, Families, and Schools in Yogyakarta’s Elementary Education” ini meraih hibah dari Spencer Foundation, sebuah lembaga filantropi Amerika Serikat di bagian pendidikan.

“Dengan demikian, kesaksian puitik di karya ini kelak dilengkapi bukti lapangan nan bisa menjadi dasar pedoman praktis bagi pembimbing dan orang tua,” pungkasnya.

Berikut sajak berjudul Lingkaran selengkapnya:
A meringkuk di kembali hoodie nan kebesaran.
 Ibunya mengirim pesan dari giliran kerja malam:
 sudah, tidakhadir masuk sana.
 Lalu tiga titik itu menghilang,
 seperti janji nan terbang entah ke mana.

Buku pedoman menyebutnya kasus.
 Kita menyebutnya makan siang, koridor,
 dan tawa nan meninggalkan luka—lelucon nan selalu menemukan
 wajah nan sama.
"Katakan apa nan kau perlukan
 agar merasa aman," kataku.
Lantai lebih banyak tahu
 daripada orang-orang dewasa.
 Keheningan menggambar peta
 dengan garis nan tak kasat mata.

 Yang beranjak hanya bola, bukan kata maaf. 
A pun menunjuk perspektif di belakang lemari piala—
titik buta di mana kamera berkedip
 bagai dewa-dewa nan kelelahan.

Klasisme tersamar di lembar absensi.
 Ableisme berlindung di kembali cap anak bermasalah.
 Seksisme datang dengan kalimat,
 "Jangan cengeng. Jadi anak laki-laki nan kuat."
Sementara kita terus berpura-pura
 bahwa pena di tangan kita
 menulis dengan tinta nan netral.

(Cah/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia