Psikolog Ungkap Penyebab Kebiasaan Menunda Pekerjaan dan Cara Mengatasinya

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Psikolog Ungkap Penyebab Kebiasaan Menunda Pekerjaan dan Cara Mengatasinya ilustrasi(freepik)

KEBIASAAN menunda-nunda pekerjaan (procrastination) sering kali dialami banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Psikolog klinis dan forensik, Stephen A. Diamond, Ph.D., menjelaskan bahwa perilaku ini umumnya muncul saat seseorang berupaya menghindari tugas nan dinilai membosankan, berat, alias tidak menyenangkan.

Dikutip dari laman Psychology Today, Diamond memaparkan bahwa procrastination berangkaian erat dengan bentrok internal dalam diri manusia, ialah antara kesadaran bakal tanggung jawab dan dorongan alami untuk mencari aktivitas nan lebih menghibur.

Secara alami, manusia condong menghindari ketidaknyamanan dan mencari hal-hal nan memberi rasa senang. Dorongan ini nan membikin seseorang lebih memilih menonton, bermain, alias beraktivitas lain daripada menyelesaikan kewajiban.

"Seseorang perlu mengenali dorongan tersebut dan secara sadar mengambil kendali untuk menentukan apa nan perlu dikerjakan. Kemampuan tersebut membantu seseorang tetap menyelesaikan tugas meskipun pekerjaan itu terasa membosankan," terang Diamond.

Selain rasa bosan, rasa kewalahan (overwhelmed) saat memandang besarnya beban pekerjaan juga menjadi pemicu utama procrastination. Untuk mengatasinya, Diamond menyarankan agar tidak berfokus pada keseluruhan beban tugas sekaligus, melainkan membaginya menjadi langkah-langkah kecil.

Fokus pada satu tindakan konkret saat ini membantu mencegah pikiran tersedot oleh dugaan seberapa rumit alias lamanya pekerjaan tersebut.

Dalam penjelasannya, Diamond mengutip dua afinitas dari mitologi Yunani:

  • Kisah Sisyphus: Menggambarkan pekerjaan rutin nan terus berulang. Manusia perlu belajar menerima realita bahwa sebagian tugas memang berkarakter repetitif, membosankan, dan tetap kudu diselesaikan.
  • Kandang Augean (Kisah Hercules): Menggambarkan akibat dari procrastination kronis. Tugas nan terus diabaikan tidak bakal lenyap dengan sendirinya, melainkan menumpuk dan menjadi jauh lebih susah dibereskan jika ditunda terlalu lama.

Untuk memutus rantai kebiasaan menunda, Diamond menekankan pentingnya melatih kesadaran penuh (mindfulness) pada tugas nan ada di depan mata dan secara aktif menolak pengalih perhatian.

Langkah ini dapat dimulai dengan melakukan satu tindakan sederhana, lampau dilanjutkan ke tahap berikutnya secara konsisten hingga tuntas. Kemampuan menghadapi tugas tidak menyenangkan secara sadar tak hanya mereduksi kebiasaan menunda, tetapi juga memberikan kepuasan emosional setelah pekerjaan sukses diselesaikan. (P-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia