Jakarta, CNBC Indonesia - Prancis dan Jerman resmi menghentikan proyek pengembangan jet tempur generasi baru Eropa, Future Combat Air System (FCAS), setelah bertahun-tahun diwarnai perselisihan antara perusahaan-perusahaan nan terlibat.
Keputusan tersebut menjadi pukulan besar bagi ambisi Eropa untuk memperkuat kerja sama pertahanan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz menilai perusahaan-perusahaan nan terlibat dalam proyek tersebut tidak lagi bisa mencapai kesepakatan mengenai arah pengembangan program.
"Mereka telah mencapai penilaian berbareng bahwa perusahaan-perusahaan tersebut tidak bakal dapat bersatu. Mereka mengakui realita ini," kata seorang pejabat nan dikutip AFP, Selasa (9/6/2026).
FCAS pertama kali diluncurkan pada 2017 oleh mantan Kanselir Jerman Angela Merkel berbareng Macron sebagai proyek strategis untuk menggantikan jet tempur Rafale milik Prancis dan Eurofighter nan digunakan Jerman serta Spanyol sekitar tahun 2040.
Program tersebut mempunyai nilai sekitar 100 miliar euro alias setara Rp2.080 triliun (kurs Rp20.800 per euro). Namun, proyek raksasa itu terus dihantui bentrok antara Dassault Aviation dari Prancis dan Airbus nan mewakili kepentingan Jerman serta Spanyol.
Perselisihan terutama berangkaian dengan pembagian kendali dan kepemimpinan program. Dassault disebut mau menjadi kontraktor utama guna melindungi kewenangan kekayaan intelektualnya, sementara Airbus mendorong model kerja sama nan lebih seimbang dengan transfer teknologi nan lebih luas.
Selain persoalan industri, Paris dan Berlin juga mempunyai perbedaan pandangan mengenai spesifikasi pesawat nan bakal dikembangkan. Prancis menginginkan satu platform tempur Eropa nan dapat memenuhi seluruh kebutuhan militernya, termasuk keahlian membawa senjata nuklir dan beraksi dari kapal induk. Di sisi lain, Jerman menilai kebutuhan militernya berbeda sehingga tidak memerlukan spesifikasi nan sama.
Merz apalagi sebelumnya mempertanyakan relevansi pengembangan jet tempur generasi keenam berawak bagi angkatan udara Jerman. Ia menilai negara-negara personil Uni Eropa mempunyai kebutuhan alutsista nan beragam sehingga susah menyatukan satu kreasi untuk semua pihak.
Berakhirnya FCAS menjadi kemunduran bagi upaya Eropa membangun kemandirian pertahanan setelah bertahun-tahun menghadapi keterbatasan investasi militer. Langkah tersebut juga terjadi ketika negara-negara Eropa berupaya memperkuat keahlian pertahanan menghadapi ancaman Rusia serta ketidakpastian komitmen keamanan dari Amerika Serikat.
Meski demikian, sejumlah sumber Eropa menyebut tidak seluruh komponen FCAS bakal dihentikan. Program pengembangan drone tempur dan sistem cloud info militer berkeamanan tinggi berkesempatan tetap dilanjutkan.
Sumber pemerintah Jerman mengatakan "inti sebenarnya dari FCAS bakal dilanjutkan sebagai sistem Eropa". Menurutnya, sistem tersebut berfaedah sebagai "sistem saraf" nan menghubungkan pesawat tempur, drone, dan beragam komponen pertahanan lain dalam satu jaringan terintegrasi.
Keputusan penghentian proyek disebut telah dibahas Macron dan Merz dalam pertemuan di sela-sela KTT Uni Eropa dan Balkan Barat di Montenegro. Sebelumnya, kedua pemimpin telah berupaya mendorong Airbus dan Dassault mencapai kompromi, termasuk menunjuk mediator dari masing-masing negara pada Maret lalu.
Namun beragam upaya pengamanan kandas membuahkan hasil. Kepala Dassault apalagi menegaskan perusahaannya bisa mengembangkan proyek tersebut sendiri dan menolak konsep pengelolaan bersama. Hingga kini, baik Dassault maupun Airbus belum memberikan komentar resmi mengenai penghentian proyek FCAS.
(tfa/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·