Jakarta -
Pemerintah mempercepat pengembangan industri bioetanol untuk memperkuat ketahanan energi, salah satunya pengembangan bioetanol terintegrasi di Lampung. Lampung dipilih sebagai letak awal pengembangan lantaran mempunyai kelebihan dari sisi bahan baku maupun support prasarana dan mempunyai posisi geografis nan strategis.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu telah melakukan kunjungan lapangan ke Lampung. Hadir juga perwakilan PT Pertamina New and Renewable Energy (PNRE) dan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).
"Selain itu, posisinya sangat strategis lantaran dapat memasok kebutuhan Sumatera dan sebagian Jawa nan merupakan pusat konsumsi daya terbesar di Indonesia. Karena itu, kami menetapkan Lampung sebagai letak awal pengembangan ekosistem bioetanol nasional," tegas Todotua dalam keterangan tertulis, Rabu (10/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kunjungan lapangan ke Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran dan Desa Rejosari, Kabupaten Lampung Selatan, rombongan meninjau kesiapan letak nan diproyeksikan menjadi area pengembangan bioetanol terintegrasi.
Hasil peninjauan menunjukkan bahwa Lampung mempunyai potensi bahan baku nan kuat, baik berupa molases tebu, sorgum, maupun limbah biomassa nan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan bioetanol generasi pertama dan generasi kedua (second generation bioethanol).
Todotua menambahkan, proyek ini membuka kesempatan kemitraan antara industri dan petani lokal melalui pengembangan budi daya sorgum sebagai sumber bahan baku tambahan. Pemerintah Provinsi Lampung menyatakan support penuh terhadap pengembangan proyek ini.
Proyek bioetanol nan direncanakan di Provinsi Lampung bakal menggunakan konsep multi-feedstock dengan memanfaatkan beragam bahan baku seperti molases, sorgum, dan limbah biomassa.Pada tahap awal, proyek percontohan direncanakan mencakup penanaman sorgum varietas Enryu seluas 10 hektare (ha) dan pembangunan akomodasi bioetanol berkapasitas 60 KL/tahun.
Tahap komersial meliputi penanaman sorgum varietas Enryu seluas 6.000 ha di Lampung serta pembangunan pabrik bioetanol berkapasitas 60.000 KL/tahun nan ditargetkan dimulai pada kuartal III-2027 dan mulai beraksi pada kuartal IV-2028.
Sebagai tindak lanjut dari deklarasi berbareng dan kunjungan lapangan tersebut, para pihak bakal mempercepat penyelenggaraan studi kepantasan (joint feasibility study), penyusunan perencanaan proyek, pengembangan budidaya sorgum percontohan, serta finalisasi skema pembiayaan dan kemitraan strategis guna memastikan kesiapan penerapan proyek secara menyeluruh.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Joint Declaration berjudul Collaboration in Establishing Bioethanol Ecosystem Development in Lampung Province oleh Pemerintah Provinsi Lampung, PNRE, TMMIN, dan PT Toyota Tsusho Indonesia (TTI). Deklarasi ini menjadi landasan kerjasama para pihak dalam pengembangan rantai pasok bahan baku, pembangunan akomodasi produksi bioetanol, penguatan kemitraan dengan sektor pertanian, pengembangan teknologi, serta percepatan realisasi investasi guna mendukung ketahanan daya nasional.
(ily/ara)
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·