Jakarta -
Produksi emas China dilaporkan mengalami penurunan nan cukup signifikan sepanjang kuartal pertama 2026. Penurunan produksi ini terjadi di tengah lonjakan permintaan penduduk Negeri Tirai Bambu terhadap logam mulia, nan berpotensi mengerek nilai emas.
Melansir Reuters, Rabu (13/5/2026), China Gold Association (CGA) melaporkan total volume produksi emas Negeri Tirai Bambu, baik dari bahan baku domestik maupun impor, mencapai 136,23 metrik ton, turun 3,3% dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya.
Penurunan produksi ini terlihat lebih dalam jika hanya menghitung volume produksi dari bahan baku domestik murni, nan tercatat ambruk hingga 7,1% secara year-on-year (yoy) menjadi 81,06 ton. Penurunan terjadi akibat penutupan sementara beberapa pabrik peleburan untuk perawatan rutin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, meski produksi emas sedang melandai, permintaan penduduk China terhadap logam mulia justru naik 4,4% yoy menjadi 303,29 ton. Hal ini menciptakan lembah nan semakin lebar antara pasokan dan permintaan emas pada kuartal pertama tahun ini.
Namun, di saat nan bersamaan, terjadi pergeseran konsumsi emas masyarakat China nan cukup mencolok. Permintaan emas batangan dan koin tercatat melonjak 46,4% menjadi 202,06 ton, sementara konsumsi emas perhiasan turun 37,1% menjadi 84,62 ton.
"Minat investasi pada emas tetap kuat, dengan emas batangan dan koin menjadi produk investasi nan sangat diminati, dan penjualan emas batangan melalui bank meningkat secara signifikan," kata CGA dalam pernyataan resminya.
Fenomena ini memicu spekulasi bahwa penurunan produksi dan lonjakan permintaan bakal mempengaruhi nilai emas di China. Terlebih, kondisi ekonomi dunia saat ini tetap penuh ketidakpastian seiring meningkatnya tensi geopolitik.
(igo/fdl)
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·