Produksi Bijih Tembaga Freeport di 2026 Diperkirakan 156.000 Ton/Hari

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Freeport Indonesia (PTFI) memproyeksikan produksi bijih (ore) tembaga bakal mencapai 156.000 ton per hari pada 2026. Target tersebut sejalan dengan upaya pemulihan operasional tambang bawah tanah setelah sempat mengalami kejadian longsor pada September tahun lalu.

Direktur Utama PT Freeport Indonesia Tony Wenas menjelaskan bahwa saat ini perusahaan tetap melakukan proses pemulihan alias recovery di tambang Grasberg Block Caving (GBC), khususnya pada Blok Produksi 1. Dia menyebut aktivitas penambangan secara terbatas sudah mulai dilakukan pada Blok Produksi 2 dan 3 sebagai awal menuju kapabilitas produksi normal.

"Jadi jika dilihat di proyeksi penambangan bijih di diagram di sebelahnya itu ada di tahun 2025 ini kami hanya menambang 139.000 ton bijih per hari dan di 2026 156.000 ton bijih per hari," paparnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Jakarta, Senin (13/4/2026).

Peningkatan volume penambangan bijih tersebut diikuti dengan sasaran produksi logam sebesar 1,1 miliar pon tembaga dan 800 ribu ounces alias setara 26 ton emas pada 2026 ini. Tony menyebut hasil produksi 26 ton emas tersebut bakal diserap sepenuhnya oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

"Rencananya bakal melakukan ramp up mulai dari bulan Mei sampai dengan kuartal pertama 2027 baru kami bakal mulai mengoperasikan Production Block 1 nan memang high grade," jelasnya.

Dari sisi keuangan, perusahaan memperkirakan penerimaan negara pada tahun 2026 bakal mencapai US$ 2,9 miliar alias setara Rp 49,65 triliun (asumsi kurs Rp 17.121 per US$). Penerimaan tersebut terdiri dari setoran pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), serta dividen bagi MIND ID sebesar US$ 1 miliar setara Rp 17 triliun.

"Dan di 2027 baru bakal bisa mencapai produksi sekitar 200.000 ton bijih per hari nan merupakan sudah sekitar produksi normal kami dan seterusnya sampai dengan 2029 dan seterusnya," tuturnya.

Untuk mendukung keberlanjutan operasional, PTFI juga sedang membangun prasarana pengamanan tambang tambahan guna mengantisipasi hambatan material basah. Salah satu langkah strategis nan dilakukan adalah pembangunan terowongan baru sepanjang 3 kilometer untuk sistem drainase material agar tidak mengganggu area penambangan bijih utama.

"Kami saat ini sedang memastikan bahwa seluruh infrastruktur, seluruh rencana perbaikan dan juga pengelolaan tambang, khususnya di wilayah Grasberg Block Caving nan terkena longsoran itu dilakukan betul-betul secara hati-hati," tandasnya.

(wia) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News