Prevalensi Stunting di Jabar terus Turun, Targetkan tidak Ada Kasus Baru

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Prevalensi Stunting di Jabar terus Turun, Targetkan tidak Ada Kasus Baru Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman(ISTIMEWA)

PEMERINTAH Provinsi Jawa Barat menargetkan tidak ada lagi kasus stunting baru. Untuk itu, kerja kolaboratif dan kerja keras terus dilakukan berbareng semua komponen.

"Hari ini, kita lakukan pertimbangan progres penanganan stunting serta kesehatan ibu dan anak. Kita bakal terus menekan nomor kematian ibu dan bayi saat melahirkan, serta menargetkan tidak ada kasus stunting baru," ujar Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman, Rbu (10/6).

Untuk itu, dia membujuk semua komponen kerja bareng. Semua kudu kerja keras sebagai sebuah super tim.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Vini Adiani Dewi menambahkan upaya penurunan prevalensi stunting sudah dilakukan berbareng pemerintah kabupaten dan kota.

"Kita terus lakukan pemantauan ke lapangan, sehingga mengetahui persoalan sebenarnya. Dengan langkah itu, kita bisa temukan solusinya," tandasnya.

Lebih jauh Herman mengungkapkan prevalensi stunting di Jabar nan tercatat terakhir pada 2024 sudah mencapai 15,9%. Jumlah itu menurun drastis dibanding tahun sebelumnya sebesar 21,7%.

"Capaian ini menempatkan Jawa Barat sebagai salah satu provinsi dengan rekam jejak penurunan tertinggi secara nasional, mendukung sasaran pemerintah untuk terus menekan nomor stunting," jelasnya.

Saat ini, Kabupaten Cianjur mencatat prevalensi terendah sebesar 7,2%. Sementara Kabupaten Bandung Barat tertinggi sebesar 30,8%.

Pemprov Jabr menargetkan penurunan prevalensi stunting menjadi 12,2% pada 2029.


Kawal program


Sejumlah program dilakukan untuk mencapai sasaran itu. Di antaranya penguatan upaya promotif–preventif dan jasa kesehatan berbasis siklus hidup, mencakup pembudayaan PHBS, penemuan awal masalah kesehatan dan gizi, pemeriksaan kehamilan minimal enam kali, pemberian makanan tambahan bagi ibu mengandung KEK, ASI eksklusif, imunisasi dasar lengkap, pemantauan tumbuh kembang balita, serta konsumsi tablet tambah darah bagi remaja putri dan calon pengantin.
 
Selain itu juga dilakukan pemberdayaan kader Posyandu, PKK, dan Pos KB Desa hingga tingkat RT dalam penuntasan dan pencegahan stunting melalui pendampingan family berisiko.

"Kita juga lakukan penguatan sinergi lintas sektor melalui Program Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting serta Peningkatan Gizi pada Kelompok dalam Siklus Hidup sebagai salah satu dari 25 program prioritas daerah," tandas Herman.

Implementasi berikutnya adalah penanganan stunting dan gizi jelek melalui penyediaan pangan bergizi dan bernutrisi tinggi, pemeriksaan kesehatan rutin bagi ibu mengandung dan balita, serta pengembangan industri pengobatan berbasis kearifan lingkungan.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia