Presiden Ngamuk ke Investor Pabrik Asing, Langsung Usir dari Negaranya

Sedang Trending 55 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Kenya William Ruto secara mengejutkan memerintahkan salah satu perusahaan kimia terbesar asal India, Tata Chemicals, untuk segera berkemas dan angkat kaki dari negaranya. Langkah drastis ini diambil setelah pemerintah menilai perusahaan tersebut kandas memberikan faedah nan cukup bagi negara lantaran hanya mengekspor mineral abu soda mentah daripada mengolahnya secara lokal menjadi bahan berbobot tambah seperti kaca dan bahan kimia industri.

Mengutip BBC, Jumat (04/09/2026), Ruto melontarkan kemarahannya tersebut saat melakukan kunjungan ke wilayah Kajiado, tempat berdirinya akomodasi pabrik Tata Chemicals Magadi. Ia menuduh perusahaan tersebut tidak melakukan cukup untuk rakyat Kenya dan hanya berfokus mengeruk sumber daya negara untuk dibawa ke luar negeri.

"Tata Chemicals Magadi telah mempunyai perjanjian selama 100 tahun, dan mereka tidak melakukan apa pun. Saya mengatakan kepada mereka tempo hari untuk berkemas dan pergi," tegasnya.

"Mereka tidak membangun apa pun di Kajiado, mereka tidak membangun pabrik apapun di Kajiado," ucapnya.

Ruto turut memastikan bahwa pemerintahannya telah mengidentifikasi serta menyiapkan dua penanammodal baru untuk segera mengambil alih operasi dari Tata Chemicals. Ia berambisi transisi ini bisa mendatangkan lebih banyak investasi nyata dan lapangan kerja bagi rakyat Kenya.

Sebagai latar belakang, pengusiran paksa ini terjadi lima pekan setelah menteri pertambangan Kenya mengarahkan Tata Chemicals Magadi untuk menangguhkan operasionalnya. Penangguhan tersebut diduga kuat dipicu oleh kegagalan perusahaan dalam memenuhi pembayaran royalti dan beragam persyaratan peraturan lainnya.

Merespons memanasnya situasi, pihak Tata Chemicals menyatakan bahwa mereka menghormati keputusan pemerintah. Perusahaan menyatakan telah memberikan tanggapan komprehensif kepada kementerian mengenai info kepatuhan dan sekarang tengah menunggu pengarahan lebih lanjut.

"Kami tetap berkomitmen pada keterlibatan konstruktif melalui saluran norma dan peraturan nan tepat untuk menyelesaikan masalah nan belum selesai," paparnya dalam sebuah pernyataan tertulis.

Perusahaan nan merupakan bagian dari konglomerat raksasa Tata Group ini beraksi di Danau Magadi, sekitar 120 km di barat daya ibu kota Nairobi, di mana mereka mengekstrak trona untuk diolah menjadi abu soda dan memproduksi garam alami.

Sejarah panjang operasional pabrik di letak ini sejatinya telah bergulir sejak 1911, disusul penandatanganan sewa pertambangan besar dengan pemerintah Kenya pada 1928. Tata Chemicals sendiri baru mengambil alih operasi tersebut pada tahun 2005 setelah mengakuisisi Brunner Mond Group nan berbasis di Inggris, dan sejak saat itu mereka menyatakan telah menjadi bagian integral dari ekonomi Kenya.

Secara global, Kenya merupakan produsen abu soda alami (natrium karbonat) terbesar keempat di bumi dengan menyumbang 1% dari produksi dunia menurut Survei Geologi AS. Mineral ini sangat vital dan digunakan luas dalam pembuatan kaca, bahan kimia, baterai, deterjen, tekstil, pengolahan air, hingga kertas.

Di benua Afrika, akomodasi di Magadi tersebut adalah produsen abu soda terbesar.

Perusahaan tercatat mengekspor lebih dari 95% produknya-atau sekitar 350.000 ton abu soda setiap tahunnya-ke pasar India, Asia Tenggara, Timur Tengah, dan wilayah Afrika lainnya. Laporan finansial tahun 2024 mereka membukukan penjualan sekitar 245.000 ton abu soda dengan total omzet mencapai US$ 78,7 juta alias setara Rp 1,39 triliun.

Selain mempekerjakan sekitar 500 karyawan, Tata Chemicals juga memihak diri dengan menyoroti akibat sosial nan telah mereka berikan. Perusahaan menyatakan program organisasi mereka telah memberikan faedah bagi sekitar 30.000 masyarakat di sekitar Magadi melalui penyediaan air bersih, infrastruktur, perawatan kesehatan, hingga pendidikan.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News