PT Kereta Api Indonesia (KAI) menargetkan pengerjaan integrasi Stasiun Karet dengan Stasiun Sudirman Baru alias BNI City rampung dalam waktu sekitar tujuh bulan.
Integrasi tersebut merupakan bagian dari pengembangan jasa pikulan urban KAI untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan jumlah pengguna di sejumlah stasiun, termasuk di Stasiun Karet.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, integrasi Karet dengan BNI City dilakukan dengan menata akses penumpang dari kedua stasiun agar perpindahan antarmoda maupun perjalanan menuju stasiun dapat berjalan lebih kondusif dan nyaman.
"Jadi dapat kami sampaikan bahwa Karet saat ini sedang ada pekerjaan. Jadi sementara ditutup," kata Anne dalam agenda bertemu pers KAI di Stasiun BNI City, Jumat (4/9).
Anne mengungkapkan dalam proses pengerjaannya, KAI bakal melakukan penataan area di sekitar Stasiun Karet. Area tersebut nantinya bakal dilengkapi dengan akomodasi untuk mendukung integrasi antarmoda, termasuk area untuk ojek dan drop zone bagi penumpang.
KAI juga menyiapkan akomodasi penghubung berupa travelator datar dan travelator nan mengarah ke atas dari sisi Stasiun Karet menuju BNI City. Sementara dari sisi Jalan Kendal (jalan di samping Stasiun Karet menuju BNI City) bakal disiapkan akomodasi pedestrian dan eskalator sebagai akses menuju area stasiun.
Penataan ini dilakukan untuk membikin perpindahan penumpang lebih nyaman sekaligus mengantisipasi potensi kemacetan di sekitar stasiun.
“Kita memandang bahwa ada potensi macet juga ketika kita tidak membenahi ini. Jadi stasiun Karet bakal difasilitasi area drop zone. Dan kita juga menata untuk pejalan kaki sehingga stasiun Karet ini tetap aktif di dalam akses pelanggan, tetap aktif melayani jalur KRL,” jelas Anne.
Pengerjaan integrasi tersebut bakal dilakukan secara berjenjang selama satu hingga tujuh bulan ke depan. Fasilitas nan sudah selesai nantinya dapat dibuka secara berjenjang untuk digunakan pelanggan.
Meski saat ini area Stasiun Karet ditutup sementara untuk pengerjaan, Anne menegaskan bahwa Stasiun Karet tidak secara resmi ditutup alias dinonaktifkan. Stasiun Karet nantinya tetap menjadi bagian dari perjalanan kereta.
Namun demikian, jasa naik dan turun penumpang KRL di Stasiun Karet bakal diintegrasikan dengan peron BNI City.
"81 tahun KAI belum pernah nan namanya menutup stasiun. Jadi saya sangat menolak diksi bahwa Karet ditutup," ujar Anne.
Menurut dia, terdapat beberapa jenis stasiun dalam operasional KAI, mulai dari stasiun nan melayani pikulan pelanggan/penumpang, stasiun untuk pikulan barang, hingga stasiun nan hanya melayani perjalanan kereta.
Untuk Stasiun Karet, Anne menegaskan stasiun tersebut tetap aktif dalam perjalanan KRL. Sementara kegunaan naik-turun penumpang bakal diarahkan dan diintegrasikan dengan BNI City. Penataan ini bukan berfaedah Stasiun Karet dihapus dari jaringan perjalanan kereta. Area Karet justru bakal tetap dimanfaatkan sebagai pintu akses pengguna serta bagian dari integrasi antarmoda.
"Jadi nggak ditutup. Tetapi untuk jasa naik turun KRLnya itu diintegrasikan peronnya agar lebih kondusif dengan memandang pertumbuhan volume pengguna kita," tutur Anne.
KAI sebelumnya telah mengkaji rencana integrasi Karet dan BNI City selama sekitar dua tahun. Dalam proses sosialisasi, perseroan juga menerima beragam masukan mengenai akses penumpang, perpindahan dari Karet menuju BNI City, hingga potensi kemacetan. Masukan tersebut kemudian menjadi pertimbangan dalam penyiapan akomodasi integrasi nan saat ini mulai dikerjakan.
KAI Juga Lakukan Penataan di Stasiun Cawang, Duri, dan Bogor
Selain integrasi Karet-BNI City, KAI juga melakukan penataan di sejumlah stasiun dengan volume penumpang tinggi, ialah Cawang, Duri, dan Bogor.
Di Stasiun Cawang, penataan dilakukan untuk mendukung integrasi dengan LRT Cikoko serta mengurai kepadatan penumpang. KAI bakal memperbaiki Hall Barat dan Hall Timur, termasuk menambah akomodasi eskalator dan menata akses di area luar stasiun.
“Karena pada saat ini kan crowd banget di stasiun Cawang dan ini juga kita melakukan penataan di luar, aksesnya. Karena pada saat ini dengan adanya ojek online, ini juga sangat mempengaruhi mobilisasi pengguna kami di stasiun,” tutur Anne.
Sementara di Stasiun Duri, penataan dilakukan lantaran tingginya arus penumpang dan aktivitas transit. Dalam delapan bulan, volume transit di Stasiun Duri tercatat nyaris 20 juta penumpang, dengan rata-rata sekitar 80 ribu pengguna pada hari kerja dan 64 ribu penumpang pada weekend.
Adapun di Stasiun Bogor, KAI menyiapkan pengembangan Intermoda Station Paledang, termasuk penataan akses menuju pikulan umum, area ojek online maupun konvensional, serta akses ke jembatan penyeberangan orang.
KAI juga berencana bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bogor untuk melakukan penataan area stasiun. Penataan tersebut menjadi bagian dari upaya KAI mengantisipasi pertumbuhan pengguna KRL Jabodetabek, khususnya Bogor Line, dalam jangka panjang.
“Nah ini juga bagian dari masukan voice of customer dan kita memandang juga di media sosial gimana keadaannya stasiun ini ketika jam-jam sibuk. Sehingga nan menjadi prioritas kami pada saat ini di luar Karet-BNI City, Cawang, juga stasiun Duri,” ujarnya.
47 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·