Prediksi Terbaru, Agresi AS-Israel ke Iran akan Berlangsung Hingga Oktober 2027

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Prediksi Terbaru, Agresi AS-Israel ke Iran bakal Berlangsung Hingga Oktober 2027 Kapal militer AS(Aljazeera)

Konflik nan melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran tetap bakal berjalan hingga Oktober 2027, menurut pandangan Pakar Hubungan Internasional Binus University Dinna Prapto Raharja. Dampak bentrok ini semakin meluas di Timur Tengah, dengan serangan Israel ke Libanon.

“Menurut saya dengan memandang peta kekuatan Israel, (perang) tetap sampai Oktober.. sampai pemilu Israel selanjutnya,” kata Dinna ketika dihubungi ANTARA, Rabu (10/6).

Menurut dia, Israel bakal tetap melancarkan serangan militer terhadap golongan pejuang Libanon, Hizbullah, nan merupakan sekutu Iran dalam menekan Tel Aviv dan kepentingan Washington. “Israel itu mau membumihanguskan Beirut sebagai simbol jatuhnya Libanon,” ujar Dinna.

Sementara itu, Dinna menyebut negosiasi tenteram antara AS dan Iran nan dimediasi Pakistan bakal susah mencapai kesepakatan, lantaran pihak-pihak nan bertikai “belum sampai di titik jenuh untuk mengupayakan langkah selain intervensi militer”.

Dinna menyoroti kebuntuan dalam perundingan tersebut, lantaran masing-masing pihak tidak menuruti tuntutan satu sama lain demi tercapainya perjanjian damai.

“Iran merasa tidak selemah itu, sementara Amerika tidak memperhitungkan kekuatan Iran. Amunisi AS juga menipis lantaran perang nan sudah berjalan 100 hari dan belum bisa menyuplai kembali senjatanya,” kata dia.

Praktisi hubungan internasional Synergy Policies itu pun meyakini bahwa Iran tidak bakal menghentikan program nuklirnya, seperti nan dituntut oleh AS.

“Nuklir ini paling lama dan paling berat negosiasinya. Justru dengan Israel makin garang di Libanon dan negara-negara Timur Tengah, Iran makin tidak mau melepas program nuklirnya,” ujarnya.

Di lain pihak, AS hingga sekarang tetap membekukan miliaran dolar aset Iran di beragam negara dan memberlakukan hukuman kepada Teheran. Padahal, Iran menuntut pencairan aset tersebut sebagai syarat utama penyelesaian konflik.

Kedua negara tersebut juga tetap bentrok mengenai Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis nan dilintasi 20 persen pasokan minyak dunia—hingga memicu krisis daya global.

“Menurut saya situasinya masih deadlock di meja perundingan. Jadi prosesnya tetap sangat lama,” ujar Dinna.

“Sulit, perjanjian (damai) tetap jauh,” kata dia, menambahkan. (Ant/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia