Angka Kelahiran Turun, Populasi Negara Juara Ini Terancam Menyusut

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - India menghadapi perubahan demografi besar. Hal ini terjadi setelah tingkat kesuburan total (Total Fertility Rate/TFR) turun di bawah periode pemisah nan dibutuhkan untuk mempertahankan jumlah masyarakat dalam jangka panjang.

Data terbaru menunjukkan TFR India sekarang berada di level 1,9 anak per perempuan, lebih rendah dari tingkat penggantian populasi sebesar 2,1.

Laporan terbaru Sample Registration System (SRS) nan dirilis Kantor Panitera Umum dan Komisioner Sensus India menunjukkan penurunan tersebut menjadi tonggak krusial dalam sejarah demografi negara berpenduduk sekitar 1,5 miliar jiwa itu. Pada awal 2000-an, nomor kesuburan India tetap berada di kisaran 3,3 kelahiran per perempuan.

"Angka kelahiran total sering kali turun ketika lebih banyak wanita dalam masyarakat mempunyai akses ke pendidikan, kontrasepsi, dan lebih banyak peran dalam pengambilan keputusan di rumah tangga," kata ahli ekonomi pembangunan India, Dipa Sinha, dikutip Al Jazeera, Rabu (10/6/2026).

Sinha menambahkan bahwa meningkatnya biaya hidup dan biaya membesarkan anak juga turut mendorong family mempunyai lebih sedikit anak.

Penurunan nomor kelahiran di India sebenarnya telah berjalan selama beberapa dekade. Sejak era 1970-an, pemerintah India menjalankan beragam program pengendalian masyarakat untuk mengatasi kekhawatiran terhadap ledakan populasi dan keterbatasan sumber daya.

Meski demikian, India tetap mencatat pertumbuhan jumlah masyarakat nan tinggi dan apalagi melampaui China sebagai negara dengan populasi terbesar di bumi pada 2023. Namun, tren terbaru menunjukkan laju pertumbuhan masyarakat mulai melambat secara signifikan.

Selain akses pendidikan dan kontrasepsi nan semakin luas, penurunan nomor kematian bayi juga menjadi aspek penting. Data SRS menunjukkan nomor kematian bayi turun dari 30 per 1.000 kelahiran hidup pada 2019 menjadi 24 per 1.000 kelahiran hidup pada 2024. Ketika kesempatan anak memperkuat hidup semakin tinggi, family condong tidak lagi merasa perlu mempunyai banyak anak.

Perbedaan tingkat kesuburan juga terlihat jelas antarwilayah. Negara bagian Bihar nan tergolong miskin tetap mencatat TFR 2,9, sementara Uttar Pradesh berada di nomor 2,6. Sebaliknya, ibu kota New Delhi hanya mencatat 1,2 kelahiran per perempuan. Negara bagian selatan seperti Tamil Nadu dan Kerala juga mempunyai tingkat kesuburan rendah, masing-masing sekitar 1,3.

Menurut Sinha, perkembangan ekonomi nan lebih cepat, peningkatan pendidikan, dan posisi wanita nan lebih kuat di wilayah selatan India menjadi aspek utama rendahnya nomor kelahiran di area tersebut.

Penurunan nomor kelahiran ini memunculkan kekhawatiran terhadap masa depan ekonomi India. Selama dua dasawarsa terakhir, India menikmati bingkisan demografi, ialah kondisi ketika jumlah masyarakat usia produktif lebih besar dibandingkan golongan usia nonproduktif. Fase ini telah membantu menopang pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

Namun, para mahir memperingatkan bahwa jika tren penurunan kelahiran terus berlanjut, India berpotensi menghadapi penyusutan angkatan kerja dan peningkatan jumlah masyarakat lanjut usia dalam 30 hingga 40 tahun mendatang.

"Jika jumlah anak nan lahir lebih sedikit, maka dalam waktu sekitar 30 hingga 40 tahun, India bakal mempunyai lebih banyak orang lanjut usia nan tidak dapat berperan-serta dalam angkatan kerja sebanyak sebelumnya, sehingga menimbulkan tantangan bagi angkatan kerja negara," ujar Sinha.

Perubahan demografi ini juga berpotensi memicu dinamika politik baru. Negara-negara bagian di India utara nan mempunyai tingkat kelahiran lebih tinggi diperkirakan bakal memperoleh porsi populasi lebih besar dibandingkan wilayah selatan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pengedaran bangku parlemen dan alokasi anggaran pemerintah pusat di masa depan.

Di sisi lain, sejumlah pemerintah wilayah mulai menawarkan insentif untuk mendorong kelahiran. Negara bagian Andhra Pradesh, misalnya, memberikan insentif sebesar 30.000 rupee (sekitar Rp6,59 juta) untuk kelahiran anak ketiga dan 40.000 rupee (sekitar Rp8,79 juta) untuk anak keempat. Beberapa negara bagian lain juga memperluas akses jasa fertilitas dan program bayi tabung nan didanai pemerintah.

Fenomena penurunan nomor kelahiran tidak hanya terjadi di India. Sejumlah negara Asia seperti China, Taiwan, dan Korea Selatan apalagi mencatat tingkat kesuburan nan lebih rendah. TFR China sekarang berada di sekitar 1,0 anak per perempuan, Taiwan sekitar 0,86, sementara Korea Selatan mencatat sekitar 0,75 anak per perempuan, nan merupakan salah satu nomor terendah di dunia.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News