Pramono soal Harga Plastik Naik: Kembali ke Cara Tradisional, Pakai Daun Pisang

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung saat memberikan sambutan sekaligus melaksanakan groundbreaking Pasar Gardu Asem dan Pasar Kramat Jaya (6/4/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti kenaikan nilai plastik nan dikeluhkan masyarakat, khususnya para pedagang kecil. Hal itu terjadi akibat gangguan pasokan bahan, menyusul bentrok di Timur Tengah.

Ia menyebut kondisi ini mendorong perlunya inovasi, termasuk kembali menggunakan metode pembungkus tradisional seperti daun pisang.

Pramono mengakui, kenaikan nilai plastik bukan berada dalam kewenangan langsung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun, dia menilai pemerintah wilayah tetap perlu mencari solusi agar beban masyarakat tidak semakin berat.

"Jadi nilai plastik ini memang naik, dan nilai plastik ini terus terang ketentuan bukan di Pemerintah DKI Jakarta,” tutur Pramono di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4).

Menurut dia, ketergantungan terhadap plastik perlu mulai dikurangi secara bertahap. Dalam kondisi nilai nan terus meningkat, penggunaan pengganti dinilai menjadi langkah realistis sekaligus ramah lingkungan.

"Tetapi tentunya kami kudu melakukan inovasi, lantaran sekarang ini kebutuhan plastik ini kan pelan-pelan kudu dikurangi, kudu ada substitusinya. Kalau kondisinya tetap seperti ini, pasti bakal menjadi beban,” ujar Pramono.

Ia pun menyarankan agar masyarakat mulai mempertimbangkan kembali penggunaan bahan alami nan sudah lama dikenal, seperti daun pisang, sebagai pengganti plastik.

"Maka untuk itu, ya kita kadang-kadang kudu kembali ke langkah tradisional, pakai balut daun pisang dan sebagainya,” kata dia.

Adapun nilai plastik di Indonesia melonjak dalam beberapa waktu terakhir. Gangguan pasokan bahan baku dunia akibat bentrok di Iran disebut jadi pemicu utama, hingga membikin rantai pengedaran tersendat dan nilai di pasar terus merangkak naik.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menjelaskan Indonesia tetap berjuntai pada impor bahan baku plastik, khususnya nafta (naphtha), dari area Timur Tengah.

“Kita itu bahan baku plastik salah satunya adalah naphtha. Naphtha itu 60 persen kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku nan kudu kita impor dari Timur Tengah,” ujar Budi dalam konvensi pers di Kantor KSP, Istana, Jakarta, dikutip Minggu (5/4).

Ia menegaskan, bentrok nan melibatkan Iran membikin rantai pasok terganggu dan berakibat langsung pada nilai plastik di dalam negeri.

Tak hanya Indonesia, gangguan ini juga dirasakan oleh sejumlah negara lain di Asia. Budi menyebut beberapa produsen di Singapura, China, Korea Selatan, Taiwan, hingga Thailand mengalami kondisi force majeure.

“Sehingga nan kita impor plastik pun juga sedikit terganggu,” jelasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan