Prabowo: Bangsa Maju tak Gemar Bertikai

Sedang Trending 2 jam yang lalu
 Bangsa Maju tak Gemar Bertikai Presiden Prabowo (kiri)(Antara)

PRESIDEN Prabowo Subianto mengingatkan pentingnya persatuan dan kerja sama nasional sebagai modal utama menuju kemajuan. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh terjebak dalam budaya konflik, dendam, dan saling menjatuhkan nan justru dapat merusak potensi besar nan dimiliki bangsa.

Pesan itu disampaikan Prabowo saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) HIPMI di Lampung, Rabu (10/6). Menurutnya, Indonesia kudu dibangun sebagai satu kesatuan ekonomi nan saling memperkuat, bukan sebagai kelompok-kelompok nan saling berhadapan.

"Saya selalu menggagas mengusulkan pendapat Indonesia Incorporated. Indonesia Incorporated adalah Indonesia sebagai satu kesatuan, satu kesatuan ekonomi," kata Prabowo.

Dalam konsep tersebut, persaingan tetap diperlukan, tetapi bukan untuk menghancurkan satu sama lain. Sebaliknya, kejuaraan kudu menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas, memperkuat kemampuan, dan mengangkat kemajuan bersama.

"Kita bersaing bukan bersaing untuk saling membunuh, kita bersaing untuk saling mengangkat, bersaing untuk saling mengangkat, bersaing untuk saling memperkuat," ujarnya.

Prabowo kemudian membujuk peserta Munas HIPMI belajar dari beragam negara nan terjebak dalam bentrok berkepanjangan. Menurutnya, kekayaan sumber daya alam tidak bakal berfaedah jika sebuah bangsa kandas menjaga persatuan dan stabilitas.

Prabowo mencontohkan sejumlah negara nan mempunyai persediaan minyak, gas, dan sumber daya alam melimpah, tetapi tidak bisa mengubah kekayaan tersebut menjadi kesejahteraan lantaran terus dilanda perang dan bentrok internal.

"Hanya bangsa nan tolol nan mau bertikai, nan mau konflik. Kita lihat, lihat dengan mata kita, apa nan terjadi kepada bangsa-bangsa lain nan kaya raya nan punya kekayaan luar biasa, punya gas, punya minyak, punya emas, tapi perang perang, perang saudara," katanya.

Ia secara unik menyinggung kondisi Sudan nan menurutnya menjadi contoh nyata gimana bentrok dapat menghancurkan potensi sebuah negara. Setelah bentrok antara wilayah utara dan selatan, perpecahan justru terus bersambung di masing-masing wilayah sehingga menimbulkan korban jiwa dan penderitaan berkepanjangan bagi rakyat.

Prabowo juga menyebut Libya, Irak, dan Suriah sebagai contoh negara kaya nan kudu menghadapi akibat berat akibat instabilitas dan konflik.

Melihat beragam pengalaman tersebut, Kepala Negara membujuk generasi muda, termasuk kalangan pengusaha, untuk membangun budaya nasional nan sehat. Semangat nasionalisme, menurutnya, kudu melangkah beriringan dengan kerja sama dan keahlian merangkul perbedaan. "Jadi anak-anak muda, pemimpin-pemimpin muda, bangunlah budaya nan baik, nasionalis tapi kerja sama," ujarnya.

Prabowo menekankan bahwa ada dua sikap nan kudu dihindari jika Indonesia mau maju dan menjadi bangsa nan kuat, ialah kebencian dan dendam. Menurutnya, persaingan merupakan perihal nan wajar dalam kehidupan maupun bumi usaha, tetapi tidak boleh berkembang menjadi permusuhan.

"Jangan membenci, jangan selalu dendam. Dua perihal nan kudu kita hindari, jangan benci, jangan dendam. Bersaing biasa, menang kalah, gak ada masalah," tegasnya. (Mir/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia