Jalan-jalan di Beirut, Lebanon, khususnya di area pinggiran selatan nan dikenal sebagai Dahiyeh, dipadati kendaraan pada Senin (1/6/2026) setelah penduduk bergegas meninggalkan wilayah nan menjadi pedoman kuat Hizbullah. Kepanikan terjadi menyusul perintah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk melancarkan serangan ke area tersebut. (REUTERS/Mohamed Azakir)
Netanyahu memerintahkan militer Israel menyerang pinggiran selatan Beirut nan dikuasai Hizbullah, menandai eskalasi terbaru dalam bentrok nan semakin memperumit upaya diplomatik untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran. (REUTERS/Mohamed Azakir)
Dalam pernyataannya, instansi Netanyahu menyebut serangan dilakukan sebagai respons atas “pelanggaran berulang” terhadap gencatan senjata oleh Hizbullah serta serangan terhadap kota-kota dan penduduk Israel. (REUTERS/Mohamed Azakir)
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz turut mendukung operasi tersebut dengan memerintahkan serangan terhadap apa nan disebut sebagai “target teroris” di Dahiyeh. (REUTERS/Mohamed Azakir)
Di Teheran, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan serangan Israel di Lebanon menjadi salah satu aspek nan menghalang proses diplomatik untuk mengakhiri perang AS-Iran. Ia menegaskan bahwa tercapainya gencatan senjata di Lebanon merupakan bagian krusial dari setiap kesepakatan tenteram nan sedang diupayakan. (REUTERS/Mohamed Azakir)
Serangan terbaru ini terjadi setelah meningkatnya pertempuran di Lebanon selatan sepanjang akhir pekan. Pasukan Israel dilaporkan merebut Kastil Beaufort nan berumur sekitar 900 tahun, sementara Netanyahu memerintahkan ekspansi operasi darat. (REUTERS/Mohamad Azakir)
Sejak Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata Lebanon pada 16 April lalu, Israel hanya dua kali melancarkan serangan ke Dahiyeh, meski bentrok di wilayah selatan Lebanon terus berlanjut. (REUTERS/Mohamed Azakir)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·