Ratusan penduduk turun ke jalan di Nanyuki, Kenya tengah, pada Senin (1/6/2026) untuk memprotes rencana pembangunan akomodasi karantina Ebola di pangkalan militer nan berada di dekat wilayah tersebut. Aksi protes diwarnai pembakaran ban, blokade jalan, dan teriakan massa nan membikin sebagian aktivitas kota lumpuh. (REUTERS/John Muchucha)
Ketegangan ini muncul hanya beberapa hari setelah Pengadilan Tinggi memerintahkan penangguhan sementara proyek tersebut, menyusul gugatan norma nan menilai akomodasi nan diusulkan berpotensi menimbulkan akibat bagi kesehatan masyarakat. (REUTERS/John Muchucha)
Meski ada putusan pengadilan, penduduk mengaku tetap resah lantaran adanya laporan nan menyebut persiapan di letak tetap berlangsung. (REUTERS/John Muchucha)
Dalam tindakan tersebut, para demonstran sebagian membawa ranting sebagai simbol perlawanan dengan menyuarakan kemarahan terhadap pemerintah nasional dan daerah. Mereka menilai para pejabat kandas melibatkan masyarakat secara memadai dalam rencana pembangunan akomodasi nan dianggap sensitif tersebut. (REUTERS/John Muchucha)
Sejumlah penduduk menyebut rencana itu sebagai ancaman besar. Salah satu masyarakat apalagi menyatakan akomodasi tersebut bukan hanya berisiko bagi Kenya, tetapi juga dapat menjadi “tragedi” bagi Afrika secara luas, mengingat kekhawatiran mengenai potensi penyebaran Ebola. (REUTERS/John Muchucha)
Petugas polisi anti huru hara menahan seorang demonstran saat kericuhan terjadi di letak aksi. Situasi nan memanas membikin abdi negara keamanan dikerahkan untuk mengendalikan massa, dengan penjagaan di sejumlah titik strategis serta upaya membersihkan batu dari jalan dan mengatur arus lampau lintas. Dalam kejadian tersebut, setidaknya satu orang dilaporkan terluka, sementara petugas Palang Merah memberikan pertolongan pertama di tempat kejadian. (REUTERS/John Muchucha)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·