Populer: BEI Delisting 18 Emiten; Inflasi AS Melambung Imbas Perang

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Pengunjung melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jakarta, Jumat (10/4/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Bursa Efek Indonesia (BEI) delisting 18 emiten menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Sabtu (11/4). Selain itu, inflasi AS juga melonjak akibat perang dengan Iran. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman buletin terkenal tersebut:

BEI Delisting 18 Emiten Mulai 10 November 2026, Termasuk Sritex (SRIL)

BEI secara resmi mengumumkan penghapusan pencatatan (delisting) saham 18 perusahaan tercatat nan bakal efektif per 10 November 2026. Keputusan ini didasarkan pada pemenuhan kriteria delisting sesuai Peraturan Bursa Nomor I-N, nan mencakup kondisi pailit alias suspensi perdagangan nan berkepanjangan.

Salah satu emiten nan menjadi perhatian publik adalah PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) alias Sritex, nan masuk dalam daftar perusahaan nan bakal didepak dari bursa.

instagram embed

Delapan belas emiten tersebut dikelompokkan menjadi dua kategori utama. Tujuh perusahaan mengalami pailit, antara lain PT Cowell Development Tbk (COWL) dan PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL). Sementara itu, 11 emiten lainnya bakal delisting lantaran telah mengalami suspensi perdagangan lebih dari 50 bulan, jauh melampaui ketentuan Bursa nan menetapkan suspensi minimal 24 bulan sebagai dasar delisting.

Kondisi ini menunjukkan adanya akibat negatif signifikan terhadap kelangsungan upaya alias tidak adanya indikasi pemulihan nan memadai dari perusahaan-perusahaan tersebut.

Dampak Perang dengan Iran, Inflasi AS Maret 2026 Naik Jadi 3,3 Persen

Demonstran menggelar tindakan protes "No Kings"menentang kebijakan pemerintahan Presiden AS Donald Trump, di Los Angeles, California, AS, Sabtu (28/3/2026). Foto: Ringo Chiu/REUTERS

Inflasi di Amerika Serikat (AS) melonjak tajam pada Maret 2026, mencapai 3,3 persen secara tahunan, meningkat signifikan dari 2,4 persen pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan nilai daya sebagai akibat langsung dari perang di Timur Tengah.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mencatat bahwa nilai bensin melonjak sebesar 21,2 persen antara Februari dan Maret, merupakan kenaikan bulanan terbesar sejak pemerintah mulai menerbitkan indeks mengenai pada 1967.

Konflik antara AS/Israel dengan Iran nan dimulai pada 28 Februari, termasuk pemblokiran lampau lintas di Selat Hormuz oleh Iran, telah mengganggu pasokan minyak dan gas global. Meskipun AS merupakan produsen minyak mentah terbesar di dunia, negara tersebut tetap merasakan dampaknya dengan nilai bensin rata-rata mencapai USD 4,15 per galon, naik dari USD 3 sebelum perang. Situasi ini memberikan tekanan pada pemerintahan Presiden Donald Trump, nan sebelumnya berjanji untuk menekan inflasi.

video story embed

Para mahir ekonomi memperkirakan bahwa kesulitan ekonomi bakal terus berlanjut, terutama bagi rumah tangga berpenghasilan menengah dan rendah nan sudah tertekan oleh kenaikan nilai daya dan biaya perjalanan. Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union, Heather Long, menyatakan bahwa inflasi Maret mencapai tingkat tertinggi dalam nyaris dua tahun dan memprediksi kenaikan nilai makanan, biaya perjalanan, dan pengiriman bakal memperburuk penderitaan di bulan April.

Ekonom Christopher Low dari FHN Financial menambahkan bahwa meskipun Indeks Harga Konsumen sesuai perkiraan, lonjakan nilai bahan bakar menjadi pendorong utama inflasi, dengan perkiraan kerugian sekitar USD 350 per rumah tangga di AS akibat lonjakan nilai minyak.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan