Polri Libatkan Pendiri ESQ Ary Ginanjar dalam Asesmen Perwira Tinggi

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Polri terus memperkuat reformasi internal melalui penguatan sistem meritokrasi dan manajemen talenta sebagai tindak lanjut rekomendasi Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP).

Salah satu langkah nan dilakukan adalah melibatkan Founder ESQ Corp., Ary Ginanjar, dalam penyelenggaraan Assessment Center Perwira Tinggi Polri pada Kepangkatan Brigadir Jenderal Polisi Tahun Anggaran 2026 nan dibuka Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Selasa (9/6).

Keterlibatan pihak eksternal tersebut menjadi bagian dari komitmen Polri untuk membangun tata kelola sumber daya manusia nan semakin transparan, objektif, dan berbasis kompetensi. Langkah ini sekaligus menjawab salah satu rekomendasi KPRP mengenai penguatan sistem merit dalam kaderisasi dan pengisian kedudukan strategis di lingkungan Polri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam arahannya, Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo menegaskan bahwa tantangan Polri ke depan semakin kompleks, mulai dari dinamika geopolitik global, ancaman siber, kejahatan transnasional, hingga meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap kualitas pelayanan publik.

"Karena itu, Polri memerlukan pemimpin nan adaptif, berintegritas, humanis, dan bisa menghadirkan solusi bagi masyarakat melalui sistem kaderisasi nan objektif, transparan, dan berbasis meritokrasi," kata Dedi dalam keterangannya, Selasa (9/6).

Sementara itu, Asisten SDM Kapolri Irjen Pol. Dr. Anwar menjelaskan bahwa Assessment Center Polri merupakan instrumen strategis dalam membangun sistem manajemen talenta nan modern dan berkelanjutan.

Menurutnya, perkembangan assessment center di beragam lembaga bumi saat ini tidak lagi sekadar digunakan untuk menilai kompetensi individu, tetapi telah berkembang menjadi instrumen untuk memetakan potensi kepemimpinan, keahlian adaptasi, kapabilitas kolaborasi, pengambilan keputusan, hingga kesiapan menghadapi perubahan nan dipicu perkembangan teknologi dan kepintaran buatan.

"Assessment Center Polri dibangun untuk memastikan bahwa pembinaan pekerjaan personel melangkah secara objektif dan berbasis data. Tujuannya bukan sekadar menilai seseorang layak alias tidak menduduki kedudukan tertentu, tetapi menemukan potensi terbaik nan dimiliki setiap personel agar dapat dikembangkan secara optimal," ujar Anwar.

Ia mengatakan keberadaan Assessment Center menjadi salah satu fondasi krusial dalam penerapan sistem merit dan manajemen talenta di lingkungan Polri.

"Melalui assessment, kita dapat memetakan kompetensi, potensi, kesiapan, serta karakter kepemimpinan personel secara lebih komprehensif. Hasilnya menjadi dasar dalam pengembangan karier, pendidikan, promosi jabatan, maupun penyiapan kader-kader ketua Polri di masa depan," katanya.

Anwar menambahkan, penguatan Assessment Center juga menjadi bagian dari upaya transformasi SDM Polri nan sejalan dengan Grand Strategy Polri 2025-2045 serta beragam rekomendasi reformasi kelembagaan nan mendorong tata kelola SDM nan lebih profesional, transparan, dan akuntabel.

"Kami mau memastikan bahwa setiap personel mempunyai kesempatan nan sama untuk berkembang berasas kompetensi, integritas, dan potensi nan dimiliki. Inilah prinsip meritokrasi nan terus diperkuat di lingkungan Polri," tegasnya.

Sementara itu, Ary Ginanjar mengatakan bumi saat ini tengah memasuki era "Talentism", ialah periode ketika kelebihan organisasi semakin ditentukan oleh kemampuannya mengelola dan mengembangkan talenta manusia.

Mengacu pada beragam kajian global, termasuk World Economic Forum (WEF), Ary menjelaskan bahwa perkembangan kepintaran buatan (Artificial Intelligence) dan robotika bakal mengubah banyak pola kerja konvensional.

Karena itu, keahlian nan tidak dapat digantikan teknologi seperti kepemimpinan, kreativitas, keahlian beradaptasi, pengaruh sosial, integritas, dan pengambilan keputusan bakal menjadi aspek pembeda utama.

"Di masa depan, organisasi tidak lagi bersaing berasas siapa nan mempunyai sumber daya terbesar, tetapi siapa nan paling bisa menemukan, mengembangkan, dan menempatkan talenta terbaiknya secara tepat," kata Ary.

Menurutnya, organisasi modern di beragam negara sekarang mulai beranjak dari pendekatan penilaian berbasis kedudukan menuju pendekatan berbasis talenta dan potensi. Assessment tidak lagi dipandang sebagai perangkat pertimbangan semata, tetapi menjadi instrumen strategis untuk memetakan kekuatan perseorangan dan menyiapkan kepemimpinan masa depan.

Ary mengapresiasi langkah Polri nan mulai membangun Big Data talenta untuk memetakan potensi personel secara lebih jeli sebagai dasar pengembangan pekerjaan dan penempatan jabatan.

"Saya memandang Polri menjadi salah satu lembaga pionir nan mulai membangun Big Data talenta untuk mengidentifikasi profil kelebihan setiap personel secara lebih presisi. Ini merupakan fondasi krusial bagi sistem meritokrasi nan objektif dan terukur," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa asesmen modern tidak lagi berfokus pada pencarian kelemahan individu, melainkan mengungkap potensi autentik nan selama ini belum terpetakan.

"Assessment bukan tentang mencari siapa nan paling hebat, tetapi menemukan di mana seseorang dapat memberikan kontribusi terbaiknya. Ketika talenta ditempatkan secara tepat, organisasi bakal bergerak lebih efektif dan manfaatnya bakal dirasakan langsung oleh masyarakat," kata Ary.

Menurut Ary, penempatan berbasis talenta bakal menghasilkan personel nan lebih memahami makna tugasnya, lebih berdikari dalam bekerja, lebih sigap berkembang kompetensinya, dan bisa memberikan akibat nan lebih besar bagi organisasi maupun masyarakat.

"Tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan pemimpin nan sukses secara individu, tetapi membangun organisasi nan bisa berkembang secara berkepanjangan melalui sistem nan melangkah berasas kompetensi, talenta, dan integritas," tutupnya.

Assessment Center Perwira Tinggi Polri Tahun Anggaran 2026 diikuti 100 peserta dan menjadi bagian dari langkah konkret Polri menindaklanjuti rekomendasi Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP) dalam memperkuat sistem meritokrasi, manajemen talenta, dan tata kelola SDM nan profesional.

Melalui proses nan objektif serta keterlibatan perspektif eksternal, Polri berupaya memastikan kaderisasi kepemimpinan melangkah berasas kompetensi, integritas, dan potensi terbaik setiap personel. Pada akhirnya, penguatan kualitas pemimpin Polri diharapkan bisa menghadirkan pelayanan publik nan semakin profesional, humanis, transparan, dan semakin dipercaya masyarakat.

(ugo/ugo)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional