Polri Buka Posko Aduan Rekrutmen Polisi: Kalau Ada Tawaran-Tawaran, Laporkan!

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Ilustrasi polisi. Foto: Shutterstock

Polri menegaskan komitmennya untuk memberantas praktik percaloan dalam rekrutmen terpadu personil kepolisian. Masyarakat diminta untuk tidak ragu melapor jika menemukan adanya oknum nan menjanjikan kelulusan dengan hadiah tertentu.

Wakil Inspektur Pengawasan Umum (Wairwasum) Polri, Irjen Merdisyam, menyatakan bahwa pengawasan rekrutmen tahun ini diperketat sejak awal dengan menggandeng pihak internal maupun eksternal.

“Kita membuka pengaduan. Jadi tadi sudah disampaikan, jika ada masyarakat nan menemukan alias mendapatkan seperti tadi tawaran-tawaran itu, adukan! Kita secara terbuka di situ ada pengaduan masyarakat, Dumas kita. Dumas di Inspektorat maupun Dumas di Propam,” kata Merdisyam di Polda Metro Jaya, Jumat (10/4).

Kapolda Sulsel Irjen Pol Merdisyam. Foto: Dok. Istimewa

Merdisyam menjelaskan bahwa seluruh tahapan seleksi dilakukan secara transparan melalui sistem one day service. Dengan skema ini, peserta bisa langsung mengetahui hasil tes di hari nan sama, sehingga meminimalisasi ruang mobilitas bagi para calo.

“Peserta melaksanakan aktivitas dengan sistem ‘one day service’, hasil langsung diketahui dan diumumkan. Jadi ini menutup celah adanya permainan-permainan alias ketidakterbukaan nan selama ini mungkin dicurigai alias juga dianggap kita ini tidak terbuka,” ujarnya.

Untuk memudahkan masyarakat, Polri juga menyediakan kanal pelaporan digital berbasis pemindaian kode (QR Code) selain laporan bentuk ke instansi polisi.

"Tadi sudah ini salah satu corak upaya dari Polda Metro ya, bahwa rekrutmen, eh dari Mabes Polri, jadi jikalau tidak mau mengadu secara langsung bisa mengadu lewat di-scan," ucap Merdisyam.

Ia menjamin setiap laporan nan masuk bakal ditindaklanjuti secara serius untuk menjaga integritas institusi.

"Ya, jadi keterbukaan itulah nan kita mau wujudkan dengan corak transparansi laporan dari masyarakat gitu. Dan yakinlah pasti bakal diproses. Itu salah satu juga mencegah gimana terjadinya transaksional di dalam proses rekrutmen ini, terusnya terjadinya unsur-unsur apa manipulatif, ya silakan kita sudah punya hotline-nya dan bisa langsung diadukan," sambungnya.

Ilustrasi polisi. Foto: Shutterstock

Proses seleksi ini juga melibatkan Kompolnas serta pihak eksternal seperti Dukcapil, IDI, psikolog, universitas, hingga LSM. Ketua Harian Kompolnas, Arief Wicaksono Sudiutomo, menyebut keterlibatan ini demi menjaga akuntabilitas.

"Ini bisa menanyakan langsung andaikan ada beberapa keluhan. Dan nan paling krusial dalam perihal proses penerimaan terpadu ini, di samping bersih, transparan, akuntabel, dan humanis, itu ada semacam added value alias nilai tambah," tutur Arief.

Senada dengan perihal tersebut, Komisioner Kompolnas Mohammad Choirul Anam (Cak Anam) mengimbau masyarakat agar tidak mudah tergiur janji manis pihak-pihak nan mengeklaim bisa meloloskan peserta.

“Kalau ada nan menjamin lolos dan minta duit, jangan pernah percaya,” tegas Cak Anam.

Ia mendorong peserta dan family untuk aktif mengawasi jalannya seleksi. Jika ditemukan kejanggalan, laporan bisa disampaikan ke beragam tingkatan pengawasan.

"Laporkan! Laporkan kepada kepolisian, minimal laporkan kepada Propam, kepada Itwasda jika di daerah, kepada Kompolnas monggo, sama Itwasum jika di pusat. Jadi kami membujuk seluruh masyarakat untuk juga bagian dari pengawasan," pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan