Perdana Menteri Australia Anthony Albanese melakukan percakapan dengan Presiden Prabowo Subianto. Hal ini disampaikan Albanese dalam unggahan di media sosial X.
Albanese mengatakan mendiskusikan situasi di Timur Tengah akibat perang AS-Israel dengan Iran dan dampaknya terhadap kawasan.
"Australia dan Indonesia bekerja berbareng untuk mendukung arus barang-barang penting, serta membikin rantai pasokan daya nan lebih handal di masa depan.
"Saya berterima kasih kepada Presiden Prabowo atas bantuannya mengamankan lebih banyak pupuk untuk Australia," ungkapnya.
Menurut Albanese, ini menunjukkan hubungan nan erat antara kedua negara.
"Hubungan nan kuat di area menjadi lebih krusial dari sebelumnya, dan kedua negara adalah sahabat dekat," pungkas Albanese.
Sebelumnya, rencana ekspor pupuk telah dibahas dalam pertemuan antara Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dengan Duta Besar Australia Rod Brazier. Kerja sama nan dijajaki ini diharapkan berkarakter timbal kembali alias resiprokal guna menjaga keseimbangan perdagangan dan kepentingan nasional kedua negara. "Ini hubungan nan resiprokal. Kita saling membutuhkan. nan krusial adalah gimana kita mengamankan kepentingan nasional sekaligus menjaga hubungan jual beli nan sehat," kata Sudaryono. Dalam skema kerja sama tersebut, Indonesia berkesempatan mengekspor urea ke Australia. Sebagai imbal baliknya, Indonesia bakal mengimpor bahan baku industri pupuk nan krusial seperti fosfat, termasuk jenis Diammonium Phosphate alias DAP dari negara tetangga tersebut.
Sudaryono menegaskan kelebihan Indonesia dalam memproduksi urea secara berdikari merupakan kekuatan strategis di tengah kondisi bentrok global. Meski potensi untung ekspor menggiurkan, dia menjamin kepentingan petani domestik tidak bakal tergeser.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·