Serangan Israel Tewaskan 2 Warga Gaza, Gudang Obat Rumah Sakit Hancur

Sedang Trending 55 menit yang lalu
Warga Palestina memandang letak setelah serangan Israel terhadap penyimpanan obat-obatan di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, Sabtu (1/8/2026). Foto: Mahmoud Issa/REUTERS

Dua penduduk Palestina tewas dalam serangan udara Israel di Jalur Gaza pada Sabtu (1/8). Di hari nan sama, serangan lain juga menghancurkan dua penyimpanan penyimpanan obat milik Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir al-Balah.

Otoritas kesehatan Palestina menyebut, dua korban tewas berada di area Sheikh Radwan, Kota Gaza. Militer Israel mengeklaim, serangan tersebut menyasar personil Hamas, namun tidak memberikan rincian maupun bukti pendukung atas klaim itu.

Beberapa jam kemudian, serangan udara kembali terjadi di Deir al-Balah, Gaza bagian tengah. Kali ini, dua penyimpanan penyimpanan obat milik Rumah Sakit Martir Al-Aqsa hancur akibat ledakan.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza menyatakan, penyimpanan tersebut menyimpan beragam perlengkapan medis penting, termasuk obat-obatan bagi pasien kandas ginjal nan menjalani cuci darah, kain kasa, serta peralatan medis untuk perawatan rutin.

Warga Palestina berdiri di dekat kawah setelah serangan Israel terhadap penyimpanan obat-obatan di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, Sabtu (1/8/2026). Foto: Mahmoud Issa/REUTERS

Selain menghancurkan dua penyimpanan utama, serangan juga merusak penyimpanan penyimpanan lain dan klinik rawat jalan rumah sakit. Tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Militer Israel menyatakan, serangan diarahkan ke letak nan disebut sebagai tempat persembunyian Hamas di dekat rumah sakit. Menurut Israel, letak itu digunakan untuk menyimpan senjata dan menjadi bagian dari operasi nan didasarkan pada info intelijen Shin Bet.

Namun, militer Israel tidak menyertakan bukti nan mendukung tuduhan bahwa Hamas menyimpan persenjataan di area rumah sakit tersebut.

Rekaman Reuters dari letak menunjukkan kawah besar jejak ledakan di sekitar kompleks rumah sakit. Puing-puing gedung dan perlengkapan medis tampak berceceran di area nan berdekatan dengan permukiman tenda pengungsi.

Dokter Rumah Sakit Martir Al-Aqsa, Khalil al-Daqran, mengecam serangan tersebut. Ia menyebut akomodasi nan dihancurkan berisi stok medis nan sangat dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan.

"Pendudukan Israel telah melakukan kejahatan keji. Di tengah malam mereka menargetkan penyimpanan nan berisi persediaan medis untuk rumah sakit dan menghancurkannya sepenuhnya," kata Khalil kepada Reuters.

Warga Palestina memandang letak setelah serangan Israel terhadap penyimpanan obat-obatan di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, Sabtu (1/8/2026). Foto: Mahmoud Issa/REUTERS

Sejumlah saksi mata mengatakan, militer Israel telah mengeluarkan peringatan pemindahan sebelum melancarkan serangan di area tersebut.

Salah seorang pengungsi, Fatima Sharab (34), mengatakan ledakan juga menghancurkan tenda-tenda nan menjadi tempat berlindung sekitar 60 hingga 70 orang.

Menurut Fatima, banyak family memilih tinggal di sekitar rumah sakit agar lebih mudah mengakses jasa kesehatan.

Rumah sakit dan akomodasi sipil pada prinsipnya mendapat perlindungan berasas norma humaniter internasional. Namun Israel berulang kali menyatakan Hamas menggunakan rumah sakit dan akomodasi sipil sebagai letak operasi militer maupun penyimpanan senjata, tuduhan nan acapkali dibantah Hamas.

Seorang wanita Palestina memeriksa rumahnya nan rusak setelah serangan Israel di Kota Gaza, Kamis (30/7/2026). Foto: Dawoud Abu Alkas/REUTERS

Serangan Berlanjut di Tengah Ketidakpastian Gencatan Senjata

Serangan terbaru terjadi ketika masa depan kesepakatan gencatan senjata di Gaza tetap belum jelas.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengeklaim telah terjadi terobosan dalam upaya mengakhiri perang dan menyebut, Hamas bersedia meletakkan senjata sebagai bagian dari kesepakatan damai.

Namun hingga sekarang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum memberikan pernyataan resmi mengenai klaim tersebut.

Sebaliknya, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menolak rencana itu. Ia menilai Israel semestinya tetap melanjutkan operasi militer terhadap Hamas.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan