Niko Prayoga
, Jurnalis-Minggu, 02 Agustus 2026 |10:24 WIB

Benarkah Jengkol Mengandung Racun? (Foto: Okezone)
JAKARTA – Jengkol menjadi salah satu makanan favorit banyak orang di Indonesia. Namun, di kembali cita rasanya nan khas, bahan pangan ini disebut mempunyai kandungan alami nan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan andaikan dikonsumsi secara berlebihan alias diolah dengan langkah nan kurang tepat.
Ahli toksikologi Indonesia nan juga menangani kasus gigitan hewan berbisa, tumbuhan, jamur beracun, dan keracunan, dr. Tri Maharani, menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami bahwa sejumlah bahan pangan, termasuk jengkol, mempunyai senyawa alami nan dapat menimbulkan pengaruh tertentu pada tubuh. Hal itu disampaikannya dalam cuplikan podcast nan diunggah di akun IG @risyadandson.
Selain membahas jengkol, dr. Tri juga mengingatkan bahwa masyarakat sehari-hari kerap terpapar beragam unsur tambahan pada makanan olahan. Menurutnya, penggunaan pewarna, perasa, pengembang, hingga pengawet perlu diperhatikan agar tidak dikonsumsi secara berlebihan.
“Banyak, dari warna, rasa, apalagi pengawetnya udah dapat semua. Bahan kimia rumah tangga gitu racunnya. Kalau kita pergi ke mal alias toko makanan, nyaris semua makanan itu untuk membikin putih, membikin warna cokelat, dan sebagainya kan ada pewarnanya. Belum lagi pengembang, pelembut, pengawet. Jadi sebetulnya kita makan racun tuh,” kata dr. Tri Maharani.
Kandungan Jengkol
Ia menjelaskan, jengkol mengandung senyawa alami berupa masam jengkolat. Pada kondisi tertentu, senyawa ini dapat membentuk kristal di saluran kemih maupun ginjal sehingga berpotensi mengganggu kegunaan ginjal.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·