Pleno I Muktamar ke-35 NU Sahkan Tatib Sidang

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Jombang, CNN Indonesia --

Sidang Pleno I Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama resmi diselesaikan. Fokus pembahasannya adalah pengesahan agenda aktivitas dan tata tertib persidangan. Sedangkan tata tertib pemilihan Rais Aam maupun Ketua Umum dibahas secara terpisah.

Koordinator Komisi Organisasi Muktamar ke-35 NU, KH Miftah Faqih mengatakan, meski sempat diwarnai dinamika dan perdebatan nan cukup alot di antara para peserta, sidang sukses menemukan jalan tengah melalui jalur musyawarah mufakat.

"Jadi tadi itu pleno pertama alhamdulillah sudah bisa kita lalui, di mana pleno pertama itu membahas tentang tata tertib persidangan muktamar. Nah ini dipisah antara tata tertib persidangan muktamar dengan tata tertib sistem pemilihan Rais Aam maupun Ketua Umum," kata Miftah Faqih usai persidangan, di arena Muktamar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, jombang, Jumat (28/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aturan mengenai sistem pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum ini bakal digodok dan dibahas di tingkat Sidang Komisi Bidang Organisasi. Ia menjelaskan, keputusan ini bentuk dari kompromi nan baik.

Menurutnya, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi nan menjunjung tinggi nilai kekiaian selalu mengedepankan rasa dan penghargaan terhadap perbedaan. Dengan itu, setiap keputusan diambil demi kebaikan berbareng dan menghindari perpecahan.

"Misal, tadi itu berkembang dua pandangan. Pandangan nan pertama itu adalah tentang pembahasan tatib ini satu saja tidak boleh dipisah, tapi akhirnya lantaran ini juga ada dinamika sedemikian rupa, maka pembahasan tatib disepakati menjadi dibahas tersendiri agar bisa konsentrasi gitu. Nah itu sudah selesai," ucapnya.

Miftah menegaskan, orientasi utama dalam muktamar ini adalah permusyawaratan nan produktif tanpa menyisakan ketegangan. Ia berterima kasih bahwa kekhawatiran bakal adanya kegagalan dalam mengambil keputusan strategis akibat perbedaan pandangan sama sekali tidak terbukti.

"Jadi nan dicari itu adalah titik temu, bukan titik tengkar, sehingga bisa dikompromikan," katanya.

Dalam kesempatan nan sama, Rais Syuriah dan Sekretaris Steering Committee Muktamar NU ke-35, Prof Mohammad Nuh, turut mengonfirmasi kelancaran jalannya sidang.

Ia menyebut bahwa pleno pertama nan dijadwalkan sejak pagi tadi dapat dirampungkan secara efektif dan efisien dalam kurun waktu kurang dari tiga jam berkah kerjasama seluruh muktamirin.

"Jadi Alhamdulillah, setelah kemarin sore, pembukaan, terus tadi pagi kita lanjutkan sidang pleno pertama dengan agenda mengesahkan agenda aktivitas sekaligus tata tertib penyelenggaraan muktamar, persidangan di muktamar. Alhamdulillah semuanya bisa melangkah dengan sangat baik. Dalam waktu dua-tiga jam, tidak sampai, sudah bisa diselesaikan," kata Prof Nuh.

Terkait dengan sistem pemilihan ketua umum nan menjadi salah satu rumor krusial, Nuh memaparkan bahwa Steering Committee telah menyiapkan dua opsi untuk dibahas lebih lanjut dalam persidangan di tingkat komisi.

Opsi tersebut merujuk pada kebiasaan muktamar sebelumnya dan juga mengakomodasi usulan baru dari hasil Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Ulama nan mengusulkan pemilihan dilakukan oleh personil Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

"Ya, jadi kita ada dua opsi. Opsi nan pertama, opsi seperti nan biasanya. Yaitu dipilih setelah diusulkan oleh PCNU, PWNU, PCI, diambil bunyi minimal 99. Habis itu mendapatkan restu dari Rais Aam terpilih, lenyap itu dikembalikan lagi ke muktamirin untuk di-voting. Itu nan sudah berlangsung," ujarnya.

Untuk menjaga kemurnian dan keamanan usulan nama-nama personil Ahlul Halli wal Aqdi nan telah diajukan oleh pengurus bagian maupun wilayah sejak masa registrasi, panitia telah menerapkan sistem pengamanan nan ketat dan transparan.

Prof Nuh mengatakan, arsip usulan nama-nama calon personil AHWA disimpan dalam sebuah kotak nan dijaga ketat di dalam sebuah ruang kaca dan dipantau terus-menerus melalui kamera pengawas (CCTV).

"Kotaknya pun juga ndak pakai kunci. Ya, lantaran jika kunci kelak dipikir, 'sampeyan pegang kunci, kelak kuncinya sampeyan buka dan seterusnya'. Ndak ada kuncinya. Sehingga kelak bukanya dirusak, dijebol gitu. Ditempatkan di tempat nan depannya Gus Rozak (KH Abdul Rozaq Sholeh, Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang), di situ ada ruang kaca sehingga siapapun bisa melihat, dijaga, dan ada CCTV-nya. Sehingga dipastikan aman," pungkasnya.

(frd/wis)

placeholder

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional