PJJ Buka Kesempatan Anak Tidak Sekolah di Bungo Kembali Raih Pendidikan

Sedang Trending 5 hari yang lalu
PJJ Buka Kesempatan Anak Tidak Sekolah di Bungo Kembali Raih Pendidikan WAKIL Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq.(Dok. Antara)

PROGRAM Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) nan dikoordinasikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjadi salah satu pengganti bagi Anak Tidak Sekolah (ATS) untuk kembali memperoleh pendidikan formal.

Program tersebut menyasar anak-anak nan sebelumnya tidak melanjutkan pendidikan lantaran beragam kendala, termasuk aspek ekonomi dan kondisi geografis. Di Kabupaten Bungo, Jambi, penyelenggaraan PJJ melibatkan sekolah induk dan sekolah mitra untuk mendekatkan akses pendidikan kepada masyarakat.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq memandang langsung penyelenggaraan PJJ ketika mengunjungi SMAN 1 Bungo, Jumat (7/8). Dalam kunjungan itu, Fajar berbincang dengan siswa nan menjadi bagian dari angkatan pertama PJJ sekaligus memberikan motivasi agar mereka tidak kembali putus sekolah.

Fajar menegaskan bahwa PJJ bukan program pendidikan nonformal, melainkan bagian dari sistem pendidikan formal. Para peserta didik tercatat sebagai siswa sekolah induk, ialah SMA Negeri 10 Jambi.

Dengan status tersebut, peserta PJJ mempunyai kewenangan nan sama dalam memperoleh pendidikan dan piagam setelah memenuhi ketentuan kelulusan.

"Nanti adik-adik resmi menjadi siswa SMA nan terdaftar di sekolah induk di Kota Jambi. Nilainya sama, kualitasnya sama," ujar Fajar.

Ia juga membujuk masyarakat nan memenuhi persyaratan untuk memanfaatkan kesempatan tersebut. Pendaftaran PJJ tetap dibuka hingga 30 Agustus mendatang.

Bagi sejumlah siswa di Bungo, program ini menjadi kesempatan untuk kembali mengejar pendidikan tanpa kudu meninggalkan pekerjaan nan membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Salah satunya Yanita Franselina Manik. Ia memilih mengikuti PJJ setelah sebelumnya tidak dapat melanjutkan sekolah lantaran kudu membantu kondisi ekonomi keluarganya. Yanita berambisi kesempatan tersebut dapat membawanya memperoleh piagam sekaligus memperbaiki masa depannya.

Hal serupa dialami Renaldi Pratama. Setelah menyelesaikan SMP, dia bekerja sebagai pencuci motor dengan penghasilan rata-rata Rp50.000 per hari. Kondisi tersebut membuatnya kudu membagi waktu antara mencari nafkah dan mengikuti pembelajaran.

Meski demikian, Renaldi tidak mau pekerjaannya menjadi penghalang untuk melanjutkan pendidikan.

"Harapan saya bisa dimudahkan dapat piagam sembari tetap bisa bekerja," ujarnya saat berbincang dengan Wamen Fajar.

Sementara itu, Muhammad Ali Imron sempat berakhir sekolah selama satu tahun. Ia sekarang kembali mempunyai kesempatan untuk belajar melalui PJJ sembari mengejar cita-citanya.

"Saya mau mempermudah dapat kerja, dan mungkin bisa jadi Bupati, itu tidak mustahil," kata Imron.

Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari Pemerintah Provinsi Jambi. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Umar, mengatakan pemerintah wilayah mengintegrasikan support PJJ melalui program “Pro-Jambi Cerdas”.

Program tersebut antara lain memberikan perlengkapan sekolah berupa pakaian, tas, buku, dan sepatu kepada siswa dari family prasejahtera nan telah terdata.

Selain support perlengkapan, pemerintah wilayah melakukan upaya jemput bola untuk menemukan anak-anak nan belum bersekolah. Sosialisasi dilakukan secara langsung hingga tingkat desa dan RT.

"Kami mengapresiasi penemuan Kemendikdasmen ini dan telah melakukan beragam upaya jemput bola, termasuk sosialisasi door-to-door ke instansi desa hingga tingkat RT guna menjaring ATS," jelas Umar.

Di Kabupaten Bungo, SMAN 1 Bungo berkedudukan sebagai sekolah mitra nan berkoordinasi dengan SMA Negeri 10 Jambi sebagai sekolah induk. Kepala SMAN 1 Bungo, Lugimin, mengatakan pihaknya terus menyebarluaskan info mengenai PJJ kepada masyarakat.

Sosialisasi dilakukan melalui media sosial serta melibatkan jaringan perangkat desa nan tersebar di 17 kecamatan di Kabupaten Bungo. Upaya tersebut sekaligus untuk menjawab keraguan masyarakat mengenai status pendidikan dan piagam peserta PJJ.

"Kami berupaya meyakinkan masyarakat bahwa piagam nan diterima nantinya betul-betul resmi dari SMA negeri di Kota Jambi," tambahnya.

Dalam kunjungan tersebut, Fajar juga meminta pemerintah wilayah dan pihak sekolah memperkuat support terhadap aspek teknologi serta meningkatkan keahlian pembimbing pendamping.

Kebutuhan prasarana digital menjadi salah satu perhatian lantaran pembelajaran jarak jauh sangat berjuntai pada kesiapan teknologi dan kualitas materi pembelajaran.

Umar mengatakan Pemerintah Provinsi Jambi telah menyiapkan rencana penguatan support tersebut. Pada tahun depan, pemerintah wilayah bakal menganggarkan pengadaan cloud server serta training bagi pendidik untuk meningkatkan keahlian membikin konten video pembelajaran.

Penguatan prasarana dan kompetensi pendidik diharapkan membikin penyelenggaraan PJJ semakin efektif. Dengan demikian, anak-anak nan sebelumnya tersendat melanjutkan sekolah tetap dapat memperoleh pendampingan dan menyelesaikan pendidikan umum tanpa kudu meninggalkan tanggung jawab mereka di family maupun pekerjaan.  (H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia