Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran keselamatan penerbangan di area Timur Tengah meningkat seiring bentrok Iran, dengan sejumlah pilot maskapai menyatakan mereka menghadapi tekanan untuk tetap terbang meskipun kondisi dianggap berisiko. Serikat pilot dunia memperingatkan adanya rasa takut bakal hukuman hingga pemecatan bagi pilot nan menolak penugasan.
Presiden International Federation of Air Line Pilots' Associations (IFALPA) Ron Hay mengatakan para pilot dari beragam negara menyampaikan kekhawatiran bahwa mereka bisa kehilangan pendapatan apalagi pekerjaan jika menolak terbang di wilayah nan situasinya tidak menentu selama perang Iran.
"Ada ketakutan mendasar bakal pembalasan," kata Hay kepada Reuters dalam wawancara pertamanya mengenai rumor tersebut, dilansir Jumat (10/4/2026).
Menurut Hay, pilot dari Lebanon hingga India menyampaikan kekhawatiran nan "meluas" bahwa mereka dapat menghadapi hukuman jika tidak terbang dalam kondisi nan sering berubah secara tiba-tiba, termasuk penutupan wilayah udara tanpa pemberitahuan akibat serangan rudal alias drone.
Komentar tersebut muncul saat beberapa maskapai Timur Tengah mulai memulihkan penerbangan, meskipun gencatan senjata dua minggu nan diumumkan Selasa tetap menghadapi tantangan dari serangan nan berlanjut.
Hay, nan juga kapten di Delta Air Lines, mengatakan sebagian pilot cemas bakal dipecat jika menolak penugasan.
"Bagi nan lain, mereka mungkin tidak kehilangan pekerjaan tetapi (manajemen) mungkin berkata, 'Jangan terbangkan rute itu dan Anda tidak dibayar untuk itu,'" ujarnya.
Ia menolak menyebut maskapai nan terlibat, tetapi mengatakan situasi tersebut mencerminkan budaya keselamatan nan tidak sehat, di mana pilot semestinya didorong untuk menyampaikan kekhawatiran.
"Itu sudah lama kurang di area Timur Tengah dan semakin diperparah oleh bentrok ini," kata Hay.
IFALPA nan berbasis di Montreal mempunyai asosiasi personil di Bahrain, Mesir, Israel, Kuwait, dan Lebanon. Namun organisasi itu tidak mencantumkan asosiasi personil di maskapai besar Teluk di Uni Emirat Arab dan Qatar, nan tidak mempunyai serikat pekerja.
Maskapai-maskapai Timur Tengah menyatakan mereka memprioritaskan keselamatan. Penerbangan ke dan dari Uni Emirat Arab dan Qatar disebut beraksi melalui koridor unik nan ditetapkan berbareng regulator.
Reuters mencoba menghubungi lebih dari selusin pilot nan berbasis di area Teluk untuk menanyakan apakah mereka merasa kondusif terbang dalam situasi saat ini, tetapi semuanya menolak berbicara, apalagi secara anonim, alias tidak merespons.
Setelah pengumuman gencatan senjata, European Union Aviation Safety Agency memperpanjang larangan bagi maskapai Eropa untuk beraksi di wilayah udara beberapa negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab dan Qatar, hingga 24 April. Namun maskapai nan berbasis di Dubai dan Doha tetap beroperasi, demikian pula maskapai India.
Kekhawatiran pilot tersebut mendorong IFALPA menerbitkan arsip minggu ini nan mengingatkan maskapai bahwa pilot kudu mempunyai bunyi "yang tidak dapat dinegosiasikan" mengenai keselamatan.
"Ada kekhawatiran mendalam di area tersebut, nan menjadi salah satu argumen arsip itu dibuat," kata Hay.
Buletin nan dikeluarkan badan penerbangan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Kamis menyebut akibat kesehatan mental di area bentrok sebagai aspek "kritis bagi keselamatan".
"Personel nan terlibat dalam operasi penerbangan sipil di dalam alias dekat area bentrok dapat mengalami tingkat stres, kecemasan, dan kelelahan nan lebih tinggi, baik di darat maupun di udara," demikian isi buletin tersebut.
Hay mengatakan pilot nan terbang ke wilayah tersebut mengeluhkan kurangnya pedoman mengenai risiko, nan menyulitkan perencanaan jika airport tiba-tiba ditutup akibat serangan drone.
Pada akhir Maret, pilot personil IFALPA di India menyebut keputusan Air India untuk terus mengoperasikan penerbangan ke area Teluk nan terdampak sebagai "kekhawatiran serius". Kelompok pilot tersebut meminta regulator penerbangan sipil India menangguhkan operasi hingga dilakukan "penilaian risiko" terpusat.
Air India disebut telah melibatkan konsultan akibat untuk memantau apakah kondusif terbang setiap hari, menurut sumber nan mengetahui masalah tersebut. Regulator penerbangan India belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Pilot juga menghadapi akibat lain di lapangan. Hay mengatakan dia menerima pertanyaan dari personil di Beirut nan menghadapi kesulitan apalagi setelah mendarat.
"Jalan antara airport dan rumah mereka telah dibom sepenuhnya," katanya. "Mereka apalagi tidak tahu gimana bisa pulang."
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·