Pidato Berapi-api Prabowo Soal Penjajah: Derajat RI Ditempatkan di Bawah Anjing

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Presiden RI, Prabowo Subianto memberikan paparan dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Terkait KEM dan PPKF RAPBN 2027 di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Foto: YouTube/ Sekretariat Presiden

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan pidato bersuara tegas saat memaparkan Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN 2027 dalam Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta, Rabu (20/5).

Dalam pidatonya, Prabowo tidak hanya menyinggung arah kebijakan ekonomi nasional, tetapi juga mengulas sejarah panjang kolonialisme nan menurutnya meninggalkan luka mendalam bagi bangsa Indonesia.

Prabowo mengatakan para pendiri bangsa telah mempunyai pandangan jauh ke depan mengenai pengelolaan ekonomi negara. Menurutnya, para tokoh pendiri bangsa memahami secara langsung akibat kolonialisme lantaran pernah mengalami penghinaan, eksploitasi, hingga perampasan martabat bangsa.

"Saya merasa perihal ini kudu saya sampaikan dari pelaksana kepada legislatif dan ketua lembaga tinggi negara," kata Prabowo.

Ia menggambarkan gimana pengalaman kolonialisme telah meruntuhkan rasa percaya diri bangsa Indonesia pada masa lalu.

"Mereka merasakan dijajah, mereka merasakan dihina, mereka merasakan diperbudak, mereka merasakan dirampas kehormatan, dirampas nilai diri, dirampas dignity bangsa Indonesia," ujar dia.

Kemudian, Prabowo menyinggung pandangan para kolonialis terhadap bangsa Indonesia pada masa lampau.

"Mereka merasakan bahwa bangsa Indonesia ditempatkan derajatnya di bawah anjing," ucapnya.

Prabowo juga menilai kekayaan Nusantara selama ratusan tahun diambil oleh bangsa lain untuk memperkaya negara mereka sendiri. Namun demikian, dia menegaskan tidak membujuk masyarakat untuk menumbuhkan kebencian terhadap negara lain.

"Saya tidak membujuk kita untuk membenci siapa pun. Saya tidak membujuk kita membenci bangsa-bangsa lain, tidak. Bahkan saya membujuk kita belajar tapi juga kita belajar dari sejarah," tandas dia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan