Peternak sapi dan kambing di Malang, Jawa Timur, mengikuti Workshop dan Aksi Nyata nan merupakan Program Prioritas BPDP.(MI/Bagus Suryo)
PETERNAK sapi dan kambing di Malang, Jawa Timur, siap memanfaatkan limbah kelapa sawit untuk pakan ternak berbasis ekonomi sirkular. Inovasi itu datang sebagai solusi mahalnya biaya pakan.
Hal itu mengemuka dalam workshop dan tindakan nyata di instansi Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jatim, Selasa (20/10). Workshop digelar oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bekerja sama dengan Laboratorium Pengembangan Ekonomi Pembangunan (LPEP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.
Ketua Pelaksana workshop, Akhmad Jayadi menjelaskan peternak dan pelaku UMKM selama tiga hari pada 20-22 Oktober 2026 dibekali pemahaman potensi limbah sawit. Mereka juga menerima keahlian mengolah limbah sawit menjadi pakan dan pendampingan legalitas usaha. Termasuk kesempatan terhubung dengan perbankan melalui business matching.
"Kami mau setiap peserta pulang dengan hasil nyata, mulai dari keahlian membikin pakan dari limbah sawit, legalitas upaya seperti NIB, proposal pembiayaan nan siap diajukan, hingga rencana tindakan untuk mengembangkan usahanya," kata Akhmad Jayadi.
Ia menegaskan pembekalan ini menjadi wadah bertemunya peternak, UMKM, akademisi, pemerintah, perusahaan sawit, dan perbankan di Malang Raya.
Ketua LPEP FEB Universitas Airlangga, Dyah Wulan Sari mengungkapkan produksi minyak sawit mentah (CPO) nasional mencapai 47,24 juta ton pada 2025 dari luas areal sekitar 16,16 juta hektare. Data itu sesuai info BPS dan Kementerian Pertanian. Di sisi lain, biaya pakan dapat mencapai 60-70% dari total biaya produksi peternakan.
“Produksi sawit kita sangat besar, dan setiap ton minyak nan dihasilkan juga menyisakan produk sampingan seperti solid sawit, bungkil inti sawit, dan pelepah. Sementara peternak menghadapi pakan nan mahal. Dua kondisi ini bisa dipertemukan lewat ekonomi sirkular, ialah limbah dari satu sektor menjadi bahan baku bagi sektor lain,” ujar Dyah Wulan Sari.
STUDI KASUS
Adapun studi kasus mengangkat pengalaman Maulana Akbar, peternak kambing asal Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Ia memanfaatkan solid sawit nan difermentasi dan dicampur dengan hijauan serta konsentrat. Hasilnya, biaya pakan turun 30-40 persen dibandingkan penggunaan jejak tahu. Setelah uji coba selama 30 hari, beberapa kambing mengalami kenaikan berat 3-4 kilogram.
Menurut Dyah Wulan Sari, pelajaran krusial dari kasus ini adalah kemitraan untuk memastikan pasokan limbah nan berkelanjutan. Sedangkan perusahaan sawit menjamin bahan baku tetap tersedia.
“Bagi peternak di Malang Raya, kuncinya adalah membangun kemitraan pasokan dan memastikan kualitas pengolahan. Dengan begitu, ketergantungan pada pakan komersial bisa berkurang dan upaya lebih efisien,” tambahnya.
Pada kesempatan itu, para peternak diajak menganalisis kepantasan upaya pakan ternak berbasis limbah sawit. Analisis mulai dari kalkulasi biaya produksi, keuntungan, hingga penyusunan model upaya sederhana.
Selanjutnya pada 21 Oktober, training teknis pengolahan pakan ternak, meliputi standar mutu dan keamanan pakan, formulasi pakan, teknologi fermentasi, serta praktik pengolahan solid sawit, bungkil inti sawit, dan pelepah sawit.
Pada 22 Oktober 2026, peserta bakal mengikuti sesi legalitas dan pengembangan usaha, ialah pendampingan NIB dan perizinan berupaya melalui OSS-RBA. Selain itu, ada pemaparan skema pembiayaan termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta business matching dengan perbankan Himbara dan lembaga pembiayaan. Di akhir kegiatan, setiap peserta menyusun rencana tindakan pengembangan upaya sebagai pedoman setelah workshop.
“Kami mau peternak dan UMKM tidak hanya tahu bahwa limbah sawit bisa jadi pakan, tetapi juga bisa menghitung untung-ruginya. Pengolahan limbah nan baik juga mengurangi limbah nan terbuang dan membuka kesempatan upaya pakan nan baru,” ucapnya.(E-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·