Alifia (29), penduduk Jakarta Timur, mengaku rutin singgah ke Blok M. Sore itu, dia berjumpa teman-temannya di sekitar Blok M setelah turun dari MRT. Menurut dia, ada sesuatu nan membikin area ini terasa lebih “mengundang” dibanding tempat nongkrong lainnya di Jakarta Selatan.
“Blok M menurutku punya daya tarik nan lebih luas. Secara letak strategis, ada mal, coffee shop, kuliner nan beragam, ada Taman Literasi juga nan kadang jadi tempat konser gratis,” kata Alifia kepada Liputan6.com.
Bagi Alifia, Blok M menawarkan pengalaman nan tidak melulu soal style hidup mahal. Orang bisa datang dengan beragam tujuan dan anggaran. Ada nan duduk di taman tanpa biaya, ada nan berburu kopi estetik, ada pula nan sekadar melangkah kaki menikmati atmosfer kawasan.
“Akses transportasi juga gampang, dan secara budget tetap masuk buat anak muda ataupun keluarga,” ujarnya.
Cerita serupa datang dari Pernita (30), penduduk Jakarta Pusat. Awalnya, dia datang lantaran penasaran memandang Blok M nan terus muncul di media sosial dan percakapan teman-temannya. Namun, rasa penasaran itu berubah menjadi kebiasaan.
Kini, setidaknya dua minggu sekali dia menyempatkan diri datang ke area tersebut.
Menurut Pernita, Blok M menawarkan suasana nan lebih cair dibanding area elite lain di Jakarta. Orang-orang datang tanpa beban kudu tampil terlalu umum alias mengeluarkan banyak uang.
“Kalau di Blok M ramai, banyak pilihan dan harganya lebih terjangkau dibanding SCBD dan lainnya,” kata dia.
Di satu sisi jalan, visitor bisa menemukan jajanan kaki lima nan dipenuhi antrean. Di sisi lain, berdiri coffee shop modern dengan kreasi minimalis nan dipenuhi anak muda. Toko musik lawas, photobooth, hingga lorong-lorong mini bernuansa Jepang ikut memperkaya wajah Blok M hari ini.
“Karena banyak pilihan makanan, pengen coba makanan viral, ada coffee shop sampai tempat photobooth, jadi banyak pilihan untuk main di sana,” ujar Pernita.
54 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·