Jakarta, CNBC Indonesia - Tepat 43 tahun lalu, bumi dikejutkan oleh salah satu tragedi penerbangan paling kontroversial dalam sejarah. Pesawat Korean Air Lines 007 (KAL 007) ditembak jatuh oleh jet tempur Uni Soviet setelah pesawat penumpang tersebut menyimpang dari jalur penerbangan dan memasuki wilayah udara Soviet nan dianggap sangat sensitif.
Sebanyak 269 orang, terdiri dari 240 penumpang dan 29 awak, tewas dalam kejadian nan terjadi pada 1 September 1983 tersebut. Tidak ada satu pun orang di dalam pesawat nan selamat.
KAL 007 merupakan pesawat Boeing 747 nan mengoperasikan penerbangan jarak jauh dari New York, Amerika Serikat, menuju Seoul, Korea Selatan. Penerbangan berjalan normal ketika pesawat melakukan persinggahan di Anchorage, Alaska.
Tanpa disadari awak pesawat, KAL 007 memasuki wilayah udara Uni Soviet. Pesawat apalagi melintasi area militer nan sangat sensitif di Timur Jauh Soviet.
Saat radar Soviet mendeteksi keberadaan pesawat tersebut, militer mengirim jet tempur untuk melakukan pencegatan. Namun, upaya komunikasi dan peringatan tidak sukses membikin pesawat sipil itu mengubah jalurnya.
Situasi kemudian berhujung tragis. Jet tempur Soviet menembakkan rudal ke KAL 007. Pesawat tersebut jatuh ke perairan Laut Jepang.
"Sekitar 12 menit setelah KAL 007 jatuh, serpihan pesawat ditemukan. Tidak ada satu pun dari 269 orang di dalamnya nan selamat,"ungkap arsip Asosiasi Penumpang dan Keluarga Korban KAL 007.
Insiden tersebut langsung memicu kecaman internasional. Dalam pidatonya, Presiden AS Ronald Reagan (1981-1989) langsung menyatakan penembakan pesawat sipil itu tidak dapat dibenarkan dan mengecam tindakan Uni Soviet. Seluruh penerbangan Soviet ke Paman Sam langsung dihentikan. Sebagian kerjasama diplomatik langsung diputus.
Di sisi lain, pemerintah Soviet berkilah tindakan tersebut berangkaian dengan keamanan nasional. Pesawat telah memasuki wilayah udara nan dilarang dan terbang mendekati sejumlah instalasi militer strategis.
Situasi semakin rumit lantaran jalur penerbangan KAL 007 diketahui mendekati rute nan pernah digunakan dalam operasi pesawat mata-mata Amerika Serikat. Kondisi tersebut diduga turut menyebabkan militer Soviet mencurigai pesawat penumpang itu sebagai bagian dari operasi intelijen.
Namun, hingga kini, penyebab pasti kenapa KAL 007 bisa menyimpang dari jalur penerbangan normal tetap menjadi misteri. Mengutip situs Britannica, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) kemudian mengemukakan dua kemungkinan nan sama-sama berangkaian dengan kesalahan manusia dalam sistem navigasi.
Teori pertama menyebut autopilot pesawat kemungkinan berada dalam mode "heading", bukan menggunakan sistem navigasi inersia alias Inertial Navigation System (INS). Jika berada dalam mode tersebut, arah penerbangan pesawat tidak bakal otomatis menyesuaikan sejumlah faktor, termasuk kondisi angin.
Kemungkinan kedua adalah adanya kesalahan ketika pilot memasukkan nomor ke dalam sistem navigasi pesawat. Dari kejadian ini, bumi kemudian menyepakati pesawat sipil nan sedang terbang tidak boleh langsung ditembak senjata, sekalipun masuk wilayah terlarang.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·